Suhu Politik Memanas, Bikin Loyo IHSG

Senin, 06/10/2014

NERACA

Jakarta – Memanasnya suhu politik dalam negeri memberikan sentiment negatif terhadap laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan kemarin yang ditutup anjlok melemah 51,463 poin (1,03%) ke level 4.949,346. Menurut kalangan analis, sentimen politik membuat ketidakpastian sehingga mendorong investor asing melakukan aksi jual signifikan di pasar modal. Selama pekan ini, investor asing melakukan aksi jual mencapai Rp 4,1 triliun.

Adapun aksi jual oleh investor asing selama sepekan menggerus total dana investor asing yang masuk ke pasar modal menjadi Rp 45,72 triliun secara year to date. Sejumlah analis menilai ketidakpastian politik setelah koalisi merah putih menguasai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mempengaruhi investor. Pimpinan DPR dikuasai oleh koalisi merah putih dengan terpilihnya Setya Novanto dari fraksi Golkar menjadi Ketua DPR. Lalu wakilnya dipegang oleh Fadli Zon dari Gerindra. Selain itu, ada Agus Hermanto dari partai Demokrat, Fahri Hamzah dari PKS dan Taufik Kurniawan.

Selain ada tekanan dari politik domestik, bursa saham juga dipengaruhi oleh rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga. Mengingat kondisi ekonomi AS mulai pulih.

Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya menilai, dana investor asing keluar dari pasarmodal belum mengkhawatirkan. Dana investor asing masuk ke pasar modal masih cukup besar dari awal tahun. Aksi jual dilakukan oleh investor terutama asing ini tidak terjadi di pasar modal Indonesia tetapi juga Amerika Serikat.

Menurut William, minimnya sentimen pada Oktober juga membuat pelaku pasar minim melakukan transaksi perdagangan saham."Jadi pelaku pasar menati gebrakan dari pemerintahan baru nantinya ke depan," kata William saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (5/10/2014).

Head of Research PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada menilai, investor asing keluar dari pasar modal karena mood investor berkurang untuk melakukan transaksi saham. Hal itu dipengaruhi dari sentimen negatif dari global dan dalam negeri.

Dari dalam negeri, menurut Reza, psikologis sebagian investor diperkirakan masih dipengaruhi oleh situasi politik di dalam negeri, pelaku pasar tentu memonitor. Diharapkan sentimennya bersifat jangka pendek dan indeks BEI kembali berada dalam area positif. "Situasi di dalam negeri akan terefleksikan dalam pergerakan pasar," katanya.

Kemudian dari luar, pelaku pasar khawatir terhadap adanya tuntutan menaikkan suku bunga The Fed, stimulus bank sentral China belum jelas demikian juga bank sentral Eropa. "Sentimen itu ditambah dari dalam negeri terkait kondisi politik belum settlenya kondisi ekonomi dalam negeri," kata Reza.

Meski kondisi politik dalam negeri masih tidak pasti, William masih optimistis terhadai target Indeks Harga Saham Gabungan. Dirinya memperkirakan, IHSG akan mencapai 5.625 pada akhir 2014. (bani)