Momentum Depresiasi Rupiah

Senin, 06/10/2014

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang belakangan ini terus melemah harusnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah. Meski Gubernur BI Agus Martowardojo menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 12.155 terhadap US$ lebih disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu adanya kekhawatiran pasar The Fed akan menaikkan suku bunga global lebih awal dari perkiraan. Berbagai pihak faktor internal dinamika politik di dalam negeri juga disebut-sebut turut mempengaruhi depresiasi rupiah tersebut.

Kalangan pengusaha domestik pun merasakan hal yang kurang menggembirakan terhadap dampak pelemahan rupiah. Minimal ada tiga faktor yang membelit ekonomi dan perindustrian sehingga Indonesia tidak dapat menikmati dampak positif depresiasi rupiah.

Pertama, faktor ketergantungan akut terhadap produk impor di sektor rumah tangga dan industri. Sebagai ilustrasi, dominasi asing pada produk holtikultura sangat besar karena lonjakan permintaan beriringan dengan stagnasi industri pertanian nasional.

Kemudahan impor dan murahnya harga produk pangan impor mengurangi insentif untuk mencapai kemandirian industri pangan nasional. Akibatnya, harga produk pangan utama melambung di saat kurs rupiah melemah.

Kedua, faktor dominasi bahan baku impor pada produk buatan dalam negeri. Ironisnya, bahan baku impor itu berasal dari bahan mentah Indonesia seperti karet alam.

Setelah produsen luar negeri memroses bahan mentah Indonesia menjadi barang setengah jadi, barang tersebut kemudian diekspor ke Indonesia sebagai bahan baku. Kondisi ini menggambarkan kelemahan industri nasional dalam mengolah barang mentah menjadi produk lanjutan dan produk akhir.

Ketiga, faktor ekonomi biaya tinggi. Buruknya kualitas infrastruktur, birokrasi dan layanan publik, pungutan liar dan lemahnya penegakan hukum, tingginya suku bunga pinjaman serta kombinasi berbagai faktor lainnya menjadikan industri di Indonesia harus menanggung ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Biaya ekstra yang dikeluarkan pengusaha tersebut tentu saja dialokasikan pada harga produk sehingga harga produk dalam negeri tidak kompetitif terhadap produk luar negeri.

Di sisi lain, ancaman pengurangan stimulus The Fed dan rencana kenaikan suku bunga di negeri Paman Sam itu, setidaknya akan membuat kebijakan Bank Indonesia menaikkan lagi suku bunga acuan (BI Rate), padahal tingkat bunga acuan yang sekarang berlaku 7,75% sudah dirasakan sebagai beban ekonomi tambahan bagi pengusaha domestik.

Nah, pemerintahan baru nanti hendaknya mengantisipasi depresiasi rupiah agar dapat dijadikan momentum untuk membangkitkan industri nasional. Bagaimana caranya?

Pertama, momentum untuk membangun industri pangan nasional. Dalam kondisi ketergantungan pangan impor dengan harga yang semakin mahal akibat pelemahan rupiah, produk holtikultura dalam negeri memiliki peluang menjadi tuan di negeri sendiri.

Berbagai terobosan antara lain dari segi permintaan, pemerintah mendorong penggunaan bahan pangan lokal dan nasional melalui kampanye dan edukasi masif. Industri pangan pengguna bahan baku pangan lokal diberikan insentif perpajakan.

Dari sisi penawaran, pemerintah memberi insentif perpajakan, dukungan pembiayaan, dan bimbingan teknis kepada petani, peternak dan kalangan industri untuk meningkatkan produksi pangan nasional seperti pembangunanfood estatedengan memanfaatkan lahan menganggur yang dimiliki pemerintah dan BUMN/BUMD.

Kedua, momentum membangun industri pengolahan bahan mentah. Dari sisi penawaran, pengenaan pajak ekspor (PE) atas barang mentah dipertahankan dan diperluas.

Pemberian insentif perpajakan dan dukungan pembiayaan kepada industri pengolahan bahan mentah dan memberikan disinsentif terhadap industri yang berorientasi ekspor bahan mentah.

Ketiga, momentum untuk memangkas ekonomi biaya tinggi. Penyediaan infrastruktur jalan raya, pelabuhan, listrik dan infrastruktur dasar lainnya dan reformasi layanan publik untuk memangkas waktu dan biaya pengurusan perizinan harus menjadi prioritas utama. Semoga!