Sektor Pertanian Belum Dilirik Perusahaan Asuransi

Sabtu, 04/10/2014

NERACA

Dewasa ini persaingan perusahaan asuransi makin ketat. Tak ayal, berbagai cara pun dilakukan perusahaan asuransi untuk menarik minat masyarakat agar menginvestasikan dananya ke asuransi mereka. Selain mengenalkan produknya lewat berbagai promosi, banyak perusahaan yang mengemas dengan menampilkan produk baru agar masyarakat semakin berminat menginvestasikan dananya ke asuransi.

Kendati pun demikian, sektor pertanian Indonesia menjadi salah satu pasar yang masih belum dilirik oleh perusahaan asuransi yang ada di Indonesia. Hal itu disebabkan lantaran asuransi pertanian formal belum berkembang, masih dalam tahap uji coba. Tidak seperti halnya di negara maju yang telah menggunakan instrumen kebijakan ini dengan penerapannya yang luas.

Untuk mempercepat pengembangan asuransi pertanian, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menugaskan BUMN dan BUMD di bidang asuransi untuk melaksanakan asuransi pertanian. Tak mau ketinggalan, lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut mempromosikan asuransi pertanian.

Melalui lembaga perbankan dan Lembaga Keuangan Mikro untuk menyalurkan pembiayaan keuangan mikro bagian pelaku Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) di seluruh Indonesia, OJK berkomitmen untuk mendorong hadirnya asuransi pertanian di Indonesia

Sebagai percobaan, OJK telah menandatangani kerjasama dengan Pemerintah Provinsi DIY untuk menerapkan model pembiayaan mikro termasuk asuransi mikro. Asuransi mikro merupakan bagian dari financial inclusion yang digagas oleh OJK dan Bank Indonesia.

Ada banyak manfaat yang akan didapatkan jika asuransi mikro di bidang pertanian berupa crop insurance direalisasikan secara masif. Petani dapat mengasuransikan tanamannya. Sehingga kalau terjadi gagal panen akibat bencana alam, wabah penyakit hewan menular, dan perubahan iklim, maka para petani dapat dana dari asuransi untuk menekan kerugian yang dialaminya.