Investasi Panjang Tanamkan Melek Finasial Sejak Dini - Membangun Kemandirian Finansial

NERACA

Jakarta –Indonesia memiliki pasar yang menjanjikan dalam industri keuangan dengan berbagai faktor pendukungnya, seperti ekonomi yang masih tumbuh, kondisi keamanan politik yang terkendali dan inflasi yang stabol. Maka tidak heran, banyak pelaku industri keuangan baik dalam negeri dan luar negeri berebut pasar di Indonesia. Namun sayangnya, peluang bisnis yang berpotensi tumbuh tersebut dihadapkan pada persoalan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat akan literasi keuangan.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan di Indonesia hanya 21,7%. Angka ini tertinggal jauh dibandingkan penetrasi di Filipina sudah di atas 30% dan Malaysia 60-70%. Menurut Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Sri Rahayu Widodo, tingkat literasi ini tergolong rendah. Masyarakat di Indonesia dinilai belum begitu memahami produk keuangan seperti bank, asuransi, dan pasar modal.

Tingkat literasi yang rendah ini disebabkan oleh kurang imbangnya tingkat pertumbuhan industri jasa keuangan dan kesadaran masyarakat terhadap produk keuangan. Di tengah industri keuangan yang berkembang pesat, masih saja ada masyarakat yang memilih menyimpan uang di rumah.

Industri keuangan dan produknya sangat dinamis. Dari tahun ke tahun, industri ini terus berkembang. Harusnya, masyarakat juga ikut memperbarui pemahamannya atas jasa keuangan.Rendahnya literasi ini tentu akan merugikan masyarakat itu sendiri. Masyarakat akan mudah tertipu karena tidak memahami produk keuangan yang terus berkembang. Misalnya seperti penawaran produk kartu kredit dan produk-produk keuangan lainnya. Banyak penawaran yang tidak sepenuhnya dipahami masyarakat. Sehingga, masyarakat akan terjerumus pada ketentuan yang malah dianggap sebagai penipuan. "Itulah pentingnya literasi keuangan dilakukan terus-menerus," ujar Sri.

Maka guna meningkatkan literasi keuangan di masyarakat, OJK bersama Asosiasi Lembaga Jasa Keuangan (LJK) dari seluruh industri keuangan seperti perbankan, asuransi, pasar modal, pembiayaan, dan dana pensiun meluncurkan cetak biru program Strategi Nasional Literasi Keuangan. Hal ini bertujuan untuk mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pengetahuan agar dapat bersaing dengan dunia internasional.

Kata Kusumaningtuti, program ini dimaksudkan agar masyarakat menjadi cerdas dalam mengelola keuangan. Pasalnya, dengan begitu kesejahteraan masyarakat juga dapat meningkat. Tahukah, kecerdasan finansial atau melek finansial adalah bagian dari kecerdasan mental seseorang yang berhubungan dengan bagaimana mencari solusi masalah keuangan. Di dalam perencanaan keuangan pribadi individu dituntut pintar dalam mengelola keuangan sehingga pengetahuan terhadap keuangan sangat dibutuhkan bagi setiap individu.

Sementara ekonom BNI, Ryan Kiryanto menambahkan, rendahnya literasi keuangan di Indonesia menjadi pekerjaan rumah bagi OJK untuk meningkatkan daya saing industri keuangan dalam negeri. Menurut Ryan, indikator rendahnya literasi keuangan di Indonesia dapat dilihat dalam dua aspek. Pertama, dilihat dari rasio loan kepada GDP yang hanya sekitar 33%. Kedua, funding terhadap GDP baru sekitar 35%. Kedua angka ini perlu ditingkatkan di masa-masa mendatang,”Tapi, ini indikasi Indonesia benar-benar punya potensi untuk tumbuh dan berkembang. Tapi, karena tingkat kesadaran rendah maka ini jadi PR berat OJK untuk lakukan edukasi kepada masyarakat”, ungkanya.

Menjadi Tantangan

Ryan berpendapat, beratnya PR OJK dikarenakan Indonesia merupakan negara kepulauan. Artinya, tingkat pemahaman masyarakat akan industri jasa keuangan berbeda-beda, sehingga perlu dilakukan usaha keras agar tingkat literasi keuangan naik.“OJK tidak bisa berjalan sendiri. Harus bergandengan tangan dengan industri. Dengan dukungan teknologi dan perangkat media yang masif bisa membantu pemahaman masyarakat untuk berinteraksi dengan industri jasa keuangan”, pungkasnya.

Menyadari masih rendahnya daya saing industri keuangan dalam negeri, tidak bisa lepas dari rendahnya literasi keuangan di Indonesia, memicu PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) perusahaan asuransi di Indonesia untuk terus mengedukasi literasi keuangan kepada masyarakat sejak dini. Pentingnya, meningkatkan kecerdasan finansial sejak dini dikarenakan anak-anak saat ini tumbuh di dunia yang semakin kompleks, yang pada akhirnya mereka perlu untuk mengambil alih masa depan finansial mereka sendiri.

Bagi Penasihat International Association of Registered Finansial Counsultan Indonesia Chapter, Godo Tjahjono menuturkan bahwa kecerdasan dan keterampilan finansial adalah modal yang sangat penting untuk survive dalam ketidakpastian. Oleh karena itu, banyak pelaku jasa keuangan di Indonesia yang menciptakan program untuk membuat generasi muda ‘melek’ dunia keuangan. Salah satunya adalah PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life).

Sebagai perusahaan jasa keuangan, Sun Life memahami bahwa seiring pendapatan per kapita masyarakat yang terus meningkat sudah sepantasnya harus diimbangi dengan pemberian edukasi dan sosialisasi soal keuangan yang memadai agar masyarakat lebih melek finansial. Untuk itu pada 2012, sebuah program komunitas (Champion Teens Care for the Nation) didirikan untuk membantu 40.000 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bali untuk memperoleh keterampilan yang bertujuan untuk membangun bisnis mikro mereka sendiri.

Kata Direktur Sun Life, Bert Paterson, dengan memberikan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan dan menanamkan kepercayaan diri pada generasi muda, hal tersebut akan membantu mereka dalam membuat keputusan keuangan secara matang dan efektif,”Ketrampilan-ketrampilan ini akan bermanfaat pula dalam kehidupan mereka sebagai orang dewasa dan juga wirausaha,”tandasnya. (bani)

Related posts