Kawal Rupiah dan Obligasi

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – Bond Research Institute

Kelemahan klise dari sistem perekonomian terbuka adalah kerentanannya terhadap gejolak valas dan laju inflasi. Fluktuasi kedua parameter ini sangat tergantung pada dinamika pasar global. Sekedar rekap kondisi perekonomian terkini, pertumbuhan ekonomi konsisten turun dari 5,22% menjadi 5,12%; nominal PDB kita mengalami penurunan dibanding tahun lalu; nilai ekspor dan impor menurun; kondisi neraca lebih sering menghadapi defisit; volume utang luar negeri bertambah termasuk rasio Debt to PDB; laju inflasi terus menurun sementara kondisi yield obligasi pemerintah 10 th yang stabil di atas 8,00%, dan suku bunga acuan yang tak sudi beranjak dari 7,50%. Menilai secara umum, kondisi perekonomian kita terkesan adem ayem dan pemerintah juga terlihat kalem. Namun dunia tak menilai demikian. Jika melihat peta risiko di beberapa provider data ekonomi dunia, kondisi perekonomian kita sebenarnya masih warna merah, artinya masih dalam kategori negara dengan risiko cukup tinggi.

Saat pemerintah berhadapan dengan kondisi eksternal, persepsi menjadi sangat relatif dan subjektif. Dalam skenario stress-testing era 2009-2014 terhadap BUMN di ragam state of nature untuk jangka pendek, tiada satupun skenario yang membahas rinci perihal konsuekensi logis (termasuk respon kebijakan strategis) jika Rupiah terjerembab ke lebih dari Rp 13.000 per US$ nya. artinya? Pemerintah di era SBY cenderung overconfident atau trivial, dengan prinsip bahwa apapun yang akan terjadi, semuanya pasti dapat diatasi. Pemerintah cenderung pasrah menghadapi sikon apapun yang terjadi dengan satu premis kental, yaitu “badai pasti berlalu.” Itu agak mirip dengan kondisi di era krisis 1997-1998 yang pernah melanda perekonomian Indonesia dimana Rupiah sempat terjerembab ke level Rp 17.000. Artinya, apapun yang kita lalui, pemerintah mudah saja untuk berkata, “we shall overcome.”

Perspektif normatif memang ada baiknya, namun terlalu riskan, naif dan tak bertanggung jawab jika diterapkan dalam kondisi perekonomian terkini (terutama menghadapi era transisi ke globalisasi). Jika tiada basis yang kuat dalam ranah kebijakan saat variabel eksternal bergejolak tinggi, maka dapat disimpulkan bahwa kekuatan perekonomian kita selama ini adalah semu dan rentan.

Secara umum ada dua kelemahan sistem perekonomian Indonesia, yaitu lemahnya struktur integral perekonomian dan rentannya ekonomi domestik terhadap gejolak eksternal. Ironisnya, kedua kelemahan ini saling berkorelasi dan kini sedang terjadi. Saat ini US$/Rp sangat mudah untuk melampaui Rp 12.000. Dalam kondisi utang luar negeri kita yang terus bertambah (lebih dari Rp 3100 T) dimana sebagian adalah valas, sebaiknya Pemerintah perlu lebih pruden terhadap kebijakan terkait surat berharga.

Secara relatif, ekonomi kita terkesan kuat. Namun secara absolut perekonomian kita sangat sensitif terhadap gejolak eksternal, berisiko tinggi dan sangat rapuh. Oleh karena itu, jangan heran mengapa peringkat investasi kita sulit naik dari BBB.

Related posts