Persaingan Asuransi Kesehatan Kian Sengit

NERACA

Potensi produk asuransi kesehatan di Indonesia dari waktu ke waktu semakin menggiurkan. Hal in di dukung pertumbuhan masyarakat kelas menengah dan masyarakat kelas atas. Perusahaan asuransi berlomba-lomba meluncurkan produk asuransi kesehatan dengan harapan menjadi pilihan bagi masyarakat.

Kendati demikian, kue bisnis asuransi kesehatan terus menjadi perebutan perusahaan asuransi di Indonesia, baik perusahaan lokal maupun perusahaan asuransi berbentuk joint venture. Besarnya potensi asuransi kesehatan ini yang membuat AXA General Insurance mengeluarkan produk asuransi kesehatan bernama Global Health Care, dengan menggandeng Standard Chartered Bank.

Direktur Retail AXA General Insurance, Iwan Semiawan menyatakan, potensi asuransi kesehatan di Indonesia cukup besar. Namun, untuk menggarap potensi tersebut dibutuhkan cara yang efektif dan efisien mengingat penetrasi industri asuransi di Tanah Air masih terbilang minim. Apalagi tahun ini Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sudah resmi beroperasi.

“Sungguh besar (potensi asuransi kesehatan). Tinggal menggarapnya dengan baik”, kata Iwan.

Wlalau tahun ini sudah ada BPJS, tapi Iwan memandang bahwa hal tersebut tidak menjadi penghamabat bagi AXA General Insurance untuk mengembangkan dan menumbuhkan produk asuransi kesehatan tahun ini. Bahkan, AXA General Insurance sudah memiliki produk asuransi kesehatan dari 4 tahun yang lalu, dengan penjualan melalui beberapa jalur distribusi yang sudah ada.

“(Kehadiran BPJS) Tidak (menjadi penghambat). Kami sudah memiliki produk asuransi kesehatan sebelumnya. Sudah memiliki produk asuransi kesehatan dari 4 tahun lalu”, kata Iwan.

Pengerukan potensi tersebut tidak hanya dilakukan AXA General Insurance. PT Asuransi Jiwa Sequis Life (Sequislife) menyatakan telah mengeluarkan produk baru pada Januari 2014 lalu. Produk tersebut merupakan produk asuransi kesehatan yang bisa digunakan di seluruh rumah sakit yang ada di dunia, yaitu Global Health Plus.

Presiden Direktur dan CEO Sequislife, Tatang Widjaja mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun menguak bahwa dari 10% total nasabah secara keseluruhan sebanyak 60% klaimnya berasal dari luar negeri. Besarnya angka tersebut mengartikan ada permintaan terhadap kebutuhan rumah sakit di luar negeri.

Tatang mengaku bahwa dirinya banyak bertanya dengan rumah sakit. Dari komunikasi yang terjadi antara Tatang dan rumah sakit, menghasilkan suatu pemikiran bahwa perlu ada akomodasi untuk masyarakat akan asuransi kesehatan yang bisa dipakai di seluruh dunia.

“Kita fokus pada segmen menengah ke bawah, ada kelas menengah dan ada kelas menengah ke atas. Menengah ke atas demand mulai ada. Tapi, ini kan produk baru jadi masih wait and see”, pungkas Tatang.

BERITA TERKAIT

Gejolak Persaingan Ekonomi Global vs Cashflow yang Sehat - Studi Kasus Unrealized loss PLN

  Oleh: Sudimara Pati, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Swasta Belakangan kita diberitakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) milik BUMN…

SDM Jadi Perhatian Pemerintah - Alokasi Anggaran untuk Pendidikan dan Kesehatan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah akan memperhatikan secara serius kualitas sumber…

Generasi Milenial Potensial Pasar Asuransi

    NERACA   Jakarta - Perusahaan asuransi dan manajemen aset AXA Indonesia (AXA Group) menyatakan generasi milenial (penduduk Indonesia…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…