11 Jenis Industri Belum Harmonisasikan Standar Produk - Hadapi MEA 2015

NERACA

Jakarta - Tidak lama lagi, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan dimulai. Namun, kesiapan Indonesia dalam menghadapi momentum tersebut belum maksimal, salah satunya di industri. Menurut Badan Standarisasi Nasional (BSN), setidaknya ada 12 jenis industri yang belum mengharmonisasikan standar produknya dengan negara ASEAN lainnya.

Kepala BSN Bambang Prasettya mengatakan hanya barang elektronik saja yang telah mengharmonisasikan dengan negara lain. Sementara industri seperti baja, plastik, makanan, tekstil, farmasi dan otomotif dan yang lainnya belum melakukan harmonisasi standarisasi mutu produk dengan industri di negara lain.

Hanya industri elektronik yang sudah melakukannya. Padahal Harmonisasi inilah yang dapat memastikan produk Indonesia bisa diterima di luar negeri pada era pasar bebas Asean tersebut. ‎"Industri dalam negeri belum sepenuhnya siap untuk menghadapi era pasar bebas ASEAN. Indikasinya dari 12 jenis kelompok industri baru kelompok elektrikal yang sudah melakukan harmonisasi dengan industri di luar negeri," jelasnya di Jakarta, Jumat (5/9).

Menurut Bambang, harmonisasi produk menjadi sebuah keharusan agar produk lokal bisa diterima di negara-negara lain. Harmonisasi juga berarti bahwa produk sudah sesuai dengan standar yang berlaku diantara negara-negara ASEAN.

Karena itu semestinya, 11 kelompok industri lainnya harus segera mempersiapkan diri. Asosiasi masing-masing kelompok industri sudah saatnya lebih pro aktif untuk segera mengharmonisasikan produknya. Sehingga pada saat MEA berlaku awal 2015, Indonesia tidak dijajah dengan produk-produk asing.

Senada juga dikatakan Budi Rahardjo, Kepala Biro Hukum, Organisasi dan Humas BSN. Ia mengingatkan bahwa pasar domestic menjadi bagian dari pasar global. "Maka itu semestinya standar yang berlaku di pasar global juga harus diadopsi oleh pasar domestik," jelasnya.

Tanpa harmonisasi mutu dan kualitas dipastikan bahwa produk local akan ditinggalkan oleh konsumen baik konsumen domestic maupun konsumen luar negeri. "Harus diingat bahwa pada era pasar bebas Asean, segala macam produk bersaing ketat termasuk soal harga. Bisa saja harga produk asing untuk produk yang setara lebih murah dibanding local," tambahnya.

Untuk memacu kesiapan industri local menghadai MEA 2015, BSN sendiri akan menggelar Indonesia Quality Expo. Ajang ini akan menjadi momen berharga bagi industri local untuk mempromosikan diri terkait mutu dan kualitasnya. Budi berharap melalui kegiatan Indonesia Quality Expo, kita akan memiliki semacam ikon marketing bagi produk lokal. Seperti Jerman dengan motto Jerman di atas segalanya atau China dengan semboyan ada di mana-mana.

Dalam pertemuan ASEAN Finance Ministers’ Meeting (AFMM) ke-18 di Myanmar, sejumlah keputusan baru terkait integrasi pada kedua sektor itu disepakati. Pertama, dalam rangka pengembangan pasar modal ASEAN, akan diformulasikan sebuah strategi jangka menengah yang difokuskan pada upaya memperkuat market linkages, market access, dan market liquidity.

Selain itu, akan dilakukan harmonisasi atas inisiatif-inisiatif yang ada di lingkungan pasar modal dengan memerhatikan perkembangan dan karateristik masing-masing negara anggota ASEAN. "Ini untuk harmonisasi dan penyesuaian kebijakan yang lebih kuat antarnegara anggota ASEAN," jelas Parjiyono, Kepala Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan.

Kesepakatan berikutnya adalah terkait liberalisasi capital account. Para Menteri Keuangan ASEAN sependapat bahwa liberalisasi capital account memiliki peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan mendukung integrasi ekonomi. Liberalisasi akan dilakukan dengan memerhatikan tingkat kesiapan dan karakteristik masing-masing negara anggota ASEAN.

Untuk kerja sama lintas sektor yang mulai berlaku tahun depan, peningkatan daya saing, baik Sumber Daya Manusia (SDM) maupun produk (barang dan jasa) tak bisa lagi ditunda. Peningkatan daya saing merupakan wujud kesiapan yang menjadi kunci utama dalam menghadapi pasar bebas regional yang telah disepakati sejak tahun 2007 itu. Apalagi sesuai dengan kesepakatan, implementasi cetak biru MEA sudah harus diselesaikan negara-negara ASEAN sebelum kerja sama berlaku.

Sebagai langkah nyata persiapan menghadapi MEA, pemerintah telah menetapkan sembilan sektor industri unggulan untuk mengisi pasar ASEAN, antara lain industri olahan berbasis agro, tekstil, alas kaki, industri mesin dan peralatannya, serta industri logam dasar, besi, dan baja. Kebijakan penguatan industri juga dilakukan untuk mengamankan pasar dalam negeri. Tujuh industri diprioritaskan untuk dikembangkan, antara lain industri otomotif, elektronik, dan semen.

Namun demikian, penguatan industri saja tak cukup. Kebijakan lintas sektoral juga perlu diperhatikan. Sosialisasi MEA kepada pemangku kepentingan di sektor industri, penyusunan standar kompetensi kerja nasional dan sertifikasi profesi pada berbagai sektor jasa, serta penguatan UKM dan pengembangan wirausaha baru di industri pengolahan tak boleh luput dari prioritas. "Tidak semua negara membuat produk yang sama dan tidak semua negara makan beras yang sama. Artinya bagaimana supply chain itu bisa berjalan antarnegara ASEAN," ungkap Parjiyono.

BERITA TERKAIT

Saat Obligasi Pemerintah Mengancam Industri Perbankan

  Oleh: Djony Edward Langgam pengaturan bunga di industri keuangan belakangan sedikit tercoreng, terutama dengan gencarnya penerbitan Surat Utang Negara…

PTPP Optimis Capai Arus Kas Operasi Positif - Persaingan Industri Konstruksi Sengit

NERACA Jakarta – PT PP (Persero) Tbk (PTPP), perusahaan konstruksi dan investasi terkemuka di Indonesia memperkirakan arus kas operasi positif…

Kadin: Tak Mungkin Terulang Krisis 1998-2008 - PROSPEK PERTUMBUHAN INDUSTRI DAN SEKTOR PERKEBUNAN

Jakarta-Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani menyatakan sikap optimistis krisis ekonomi 1998 dan 2008 atau…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Pacu Daya Saing IKM Lewat Platform Digital E-Smart

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar memacu pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) nasional agar memanfaatkan platform digital e-Smart…

Akuakultur - KKP Realisasikan Asuransi Untuk Pembudidaya Ikan Kecil

NERACA Jakarta- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merealisasikan program Asuransi Perikanan bagi pembudidaya ikan kecil. Program tersebut merupakan kerjasama antara…

Proyeksi Kebutuhan Gula Industri 3,6 Juta Ton di 2018

NERACA Jakarta - Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto memperkirakan konsumsi gula mentah untuk kebutuhan industri mencapai 3,6 juta…