Pengendalian BBM Harus Dilanjutkan

NERACA

Jakarta - Pengamat energi dari ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengharapkan pemerintah tetap melanjutkan kebijakan pengendalian BBM bersubsidi meski harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia "crude price" cenderung mengalami penurunan."Pengendalian subsidi tetap dilanjutkan mengingat neraca minyak sudah pada posisi defisit dalam beberapa tahun terakhir," katanya di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, kebijakan pengendalian perlu konsisten dalam jangka panjang, sehingga fiskal tetap sehat dan masyarakat terbiasa mengelola dan mengonsumsi energi. "Jangan karena ICP turun, terus tidak jalan," katanya. Dia juga mengatakan, tanpa dilakukan pengendalian, maka kondisi anggaran bakal lebih buruk lagi dalam 15-20 tahun ke depan saat harga BBM makin tinggi. "Masyarakat makin terlena dengan harga BBM murah dan akhirnya biaya ataupun risiko yang harus dibayar untuk menyesuaikan menjadi jauh lebih besar lagi," ujarnya.

Komaidi menambahkan, pemerintah harus tegas menata kebijakan BBM nasional yang dilakukan secara bertahap.ICP pada Agustus 2014 mengalami penurunan menjadi di bawah 100 dolar AS per barel.Berdasarkan data Tim Harga Minyak Indonesia Kementerian ESDM, ICP Agustus 2014 mencapai 99,51 dolar AS per barel atau turun 5,12 dolar dibandingkan Juli 2014 yang 104,63 dolar per barel. Penurunan harga tersebut dikarenakan produksi minyak mentah mengalami kenaikan, sementara permintaan menurun.

Rata-rata ICP periode Januari-Agustus 2014 mencapai 105,56 dolar per barel. Asumsi ICP dalam APBN Perubahan 2014 adalah 105 dolar per barel.ICP cenderung mengalami penurunan. Pada Januari 2014, ICP tercatat 105,8 dolar per barel, Februari meningkat menjadi 106,08 dolar, Maret naik lagi 106,9 dolar sebelum turun 106,44 dolar pada April.Lalu ICP Mei 2014 turun sedikit menjadi 106,2 dolar, Juni naik 108,95 dolar, Juli turun 104,63 dolar, dan Agustus 2014 turun lagi 99,51 dolar.

Sedangkan menurut Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir, mengatakan awalnya pemerintah memangkas BBM hingga 20 persen. “Sesuai dengan arahan pemerintah, Pertamina melakukan normalisasi pasokan BBM bersubsidi kepada masyarakat agar tidak terjadi potensi antrean yang berkepanjangan,” katanya.

Dalam perkembangannya, Pertamina mengamati bahwa keadaan harus kembali normal dengan membatalkan kebijakan pemotongan atau pembatasan kuota bbm bersubsidi. Kendati demikian, penyaluran tetap akan dilakukan secara terukur dan terarah sesuai dengan kondisi daerah.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, terjadi antrian panjang di hampir seluruh SPBU yang masih menyediakan pasokan BBM Jenis Premium. Tidak pelak, dibeberapa titik juga terlihat kemacetan parah yang terjadi. Mengingat bulan Agustus kemarin pemerintah melakukan pembatasan pembelian BBM bersudsdi, untuk menjaga kuota yang 46 juta K/L bisa sampai dengan akhir 2014. Karena meresahkan akhirnya pemerintah mencabut kebijakan itu. [agus]

BERITA TERKAIT

Pemkot Sukabumi Harus Jamin LP2B

Pemkot Sukabumi Harus Jamin LP2B NERACA Sukabumi - Banyaknya proyek besar yang akan berdiri di Kota Sukabumi seperti halnya tol…

BID Zona Empat Harus Menjadi Opsi Pilihan Dalam Pembangunan Desa

BID Zona Empat Harus Menjadi Opsi Pilihan Dalam Pembangunan Desa NERACA Kuningan – Bursa Inovasi Desa (BID) Zona empat yang…

Harus Lebih Fokus Membangun Koperasi

Harus Lebih Fokus Membangun Koperasi NERACA Jakarta – Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Teguh Boediyana mengungkapkan, secara nyata…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Indeks Pembangunan Kesehatan : Bali Tertinggi, Papua Terendah

    NERACA   Jakarta - Provinsi Bali menjadi wilayah yang memiliki Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) paling tinggi sementara…

Presiden Minta Menteri Antisipasi Dampak Kekeringan

    NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo memerintahkan para menteri kabinet kerja untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang terjadi…

Beban Ekonomi Akibat DBD Capai US$ 381 Juta

    NERACA   Jakarta - Indonesia telah melawan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah mencapai 50 tahun, akan tetapi…