Penyuluh Ujung Tombak Ketahanan Pangan

NERACA

Jakarta - Menteri Koordinator BidangPerekonomian, Chairul Tanjung mengatakan saat ini penduduk Indonesia sekitar 250 juta dan setiap tahun tumbuh hingga 4 juta penduduk dan pangan menjadi poin utama karena semakin banyak masyarakat yang membutuhkan makan oleh karenanya harus disiapkan lumbunya.

"Pertambahan penduduk ini membutuhkan makanan oleh karenanya disini kementerian yang membawahi pertanian, kelautan, dan kehutanan harus mampu menyiapkan itu semua, karena siapa pun pemimpinnya masalah pangan akan menjadi paling pokok," kata CT saat membuka membuka Rapat Koordinasi Badan Koordinasi Nasional (BAKORNAS) Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan di Jakarta, Selasa (2/9).

Salah satu untuk bias menciptakan itu adalah butuh peran serta dari penyuluh, petani, nelayan, maupun pembudidaya kita masih berpengetahuan rendah disini penyuluh yang akan memberikan pendampingan kepada para petani, nelayan, dan pembudidaya untuk terus berproduksi makanan. Maka dari itu, peran serta dari penyuluh sangat besar menuju ketahanan pangan nasional yang berdaulat. “Para penyuluh sebagai ujung tombak ketahanan pangan, oleh karennaya butuh sinergitas antara pusat dan daerah agar berkomitmen penuh kepada para penyuluh,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo menambahkan, peran penyuluh memiliki fungsi ekonomi sebagai penggerak perekonomian masayarakat. Tidak hanya melalui kegiatan peningkatan aspek produktivitas semata, namun juga telah memasuki area konteks konservasi dan pelestarian lingkungan. Aspek ini dinilai penting, karena peningkatan produksi harus dilakukan melalui produktivitas yang tinggi tetapi harus memperhatikan kemampuan daya dukung lingkungannya. “Saat ini penyelenggaraan penyuluhan dilakukan secara partisipatif dengan memposisikan para pelaku utama dan pelaku usaha sebagai mitra kerja”, kata Sharif.

Sharif juga menambahkan, keberadaan penyuluh sangat strategis dalam mendukung program pemerintah, terutama terkait dengan ketahanan pangan dan gizi. Keberadaaannya sebagai mediator, fasilitator dan dinamisator di kelompok pelaku utama dan usaha, merupakan garda terdepan dalam mengaktualisasikan kebijakan pemerintah menjadi kegiatan ekonomi dan pelestarian lingkungan di tingkat masyarakat.

Selain itu, eksistensi penyuluh perikanan dituntut dapat memberikan daya ungkit riil terhadap keberhasilan pembangunan kelautan dan perikanan melalui perubahan perilaku dan pola pikirsertadorongan terhadappelaku utama dan pelaku usaha.Dengan semangatself of belongingterhadap penyuluhan, diharapkan juga dapat berimplikasi pada semangat pendampingan pelaku utama dan pelaku usaha. Penyuluh Perikanan diharapkan menjadi pendamping kompeten, menjadi personal yang ahli penyuluhan dan spesialis dibidangnya. “Penyuluh Perikanan dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif, dapat menguasai teknologi dan mampu menjembatani berbagai sumber informasi dengan pelaku utama atau usaha perikanan sebagai pengguna," ujar Sharif.

Persoalan penyuluh diatas didasari pada tiga alasan, yaitu semakin meningkatnya kualitas sumber daya pelaku utama/usaha perikanan. Kemudian, perkembangan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat cepat, serta pertimbangan efektivitas dan efisiensi penyebarluasan informasi.Peningkatan kapasitas penyuluh menjadi sebuah kebutuhan guna mengimbangi kemampuan kelompok pelaku utama yang didampingi. Penyuluh perikanan yang kompeten akan semakin menumbuhkan kepercayaan dan semangat baru bagi kelompok pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya. Kehadiran Penyuluh perikanan tanpa kelompok pelaku utama akan menjadi tidak berarti, sehingga pengembangan kelompok menjadi kelompok mandiri menjadi harapan kedepan. “Kelompok mandiri menjadi salah satu potret keberhasilan kinerja dari penyuluh perikanan”, pungkas Sharif. [agus]

BERITA TERKAIT

Indonesia 2045, Antara Lumbung Pangan Dunia dan Krisis Pangan

Oleh : Abdul Aziz, Mahasiswa Fisipol di PTN Jakarta   Masa kampanye yang tinggal beberapa minggu lagi membuat intensitas kampanye…

Sektor Pangan - Kasus Beras Turun Mutu Akibat Tata Kelola Distribusi Tak Optimal

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai kasus 6.000 ton beras busuk di…

Produksi Pangan Kabupaten Serang Surplus 100 Persen Lebih

Produksi Pangan Kabupaten Serang Surplus 100 Persen Lebih NERACA Serang - Produksi pangan di Kabupaten Serang pada 2018 surplus melebihi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Konsumen Bisa Jual Listrik Panel Surya ke PLN

    NERACA   Jakarta – Kelebihan daya dari pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap atau panel surya dapat…

Perkuat Industri E-Commerce, Lazada dan Bhinneka Berkolaborasi

      NERACA   Jakarta – Dua pemain e-commerce di Indonesia, Lazada dan Bhinneka menyatakan berkolaborasi dengan cara meluncurkan…

Mayora Group Telah Ekspor Produk Sebanyak 250 Ribu Kontainer

      NERACA   Jakarta – Mayora Group melakukan pelepasan kontainer ekspor ke-250.000 yang digelar Senin (18/2), hal ini…