Rakyat Adalah Jantung Pembangunan

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Indonesia sejatinya sudah terdampak oleh situasi buruk yang oleh Joseph E. Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi 2001, disebut sebagai menderita "paradox of planty", yaitu negara yang kaya sumber daya alam, dengan pertumbuhan yang rendah dan tingkat kemiskinan yang tinggi, dibandingkan dengan negara lain yang tidak mempunyai sumber daya alam.

Globalisasi memang telah menjadi sebuah keniscayaan,tetapi jangan lupa bahwa globalisasi selain bisa mendatangkan manfaat, pada saat yang bersmaan bisa mendatangkan petaka. Karena itu, Indonesia harus punya sikap politik yang jelas dalam memandang globalisasi. Jangan pernah mudah menyderhanakan dan membuat pragmatis atas isu yang terkait dengan persoalan globalisasi dan perdagangan bebas ini karena dibalik itu semua melekat kepentingan bercokol para pemegang kendali sistem kapitalisme global yang salah satu misinya adalah menjarah aset negara yang kaya sumber daya alam seperti Indonesia.

Para pemimpin politik ke depan yang bekerja di lingkungan pemerintah maupun di lembaga legislatif untuk selalu bersikap waspada terhadap upaya asing untuk melakukan "Internasionalisasi Indonesia" yang biasanya akan menempuh dengan menggunakan dua jalur, yaitu proses politik, dan proses globalisasi dan perdagangan bebas.

Pemerintah dan lembaga legislatif harus bersikap hati-hati, dan jangan pernah bersikap pragmatis dalam menyikapi seluruh fenomena yang sudah dijelaskan karena memang pada satu musim, ekonomi bisa booming, dan pada musim yang lain bisa membuat bangkrut. Oleh sebab itu, seluruh komponen bangsa juga harus punya sikap yang sama terhadap anncaman dan tantangan terhadap persoalan "Internasionalisasi Indonesia" oleh asing yang bisa masuk melalui dua pintu gerbang utama, yaitu proses politik, dan globalisasi.

Yang justru harus kita lakukan adalah melakukan "Nasionalisasi Indonesia" dalam pengertian membangun kedaulatan politik, ekonomi, budaya, dan pertahanan agar bangsa ini dapat menjadi kekuatan penyeimbang yang hasilnya lebih banyak mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Kerjasama internasional tetap harus dilakukan oleh para pemimpin politik ke depan, namun sikap politiknya harus berada pada koridor untuk menyukseskan pelaksanaan kebijakan politik Indonesia yaitu, "Me-nasionalisasikan Indonesia" atau "Meng-Indonesiakan Indonesia" agar tidak menjadi bangsa yang "terjajah" kembali karena sikap politik pemimpinnya sangat pragmatis dan lembek.

Pemerintah dan DPR ke depan kita harapkan memainkan peranan yang lebih aktif dalam memajukan pembangunan dan melindungi segenap bangsa,disertai dengan suatu tindakan nyata untuk memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut aktif melaksanakan ketertiban dunia.

Catatan terakhir yang perlu disampaikan adalah bahwa rakyat adalah jantungnya pembangunan. Karena itu agenda pembangunan yang paling utama sejatinya adalah mengubah kehidupan masyarakat, bukan hanya mengubah perekonomian semata.

BERITA TERKAIT

Ketua DPR - Kritik Adalah “Vitamin" Bagi DPR

Bambang Soesatyo Ketua DPR  Kritik Adalah “Vitamin" Bagi DPR Jakarta - Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan bahwa kritik yang…

Pembangunan GOR Kota Sukabumi Butuh Suntikan Anggaran Rp5 Miliar Lagi

Pembangunan GOR Kota Sukabumi Butuh Suntikan Anggaran Rp5 Miliar Lagi NERACA Sukabumi - Pembangunan Gedung Olahraga (GOR) Kota Sukabumi ternyata…

Konsultan Asing Sebut Pembangunan LRT Sumsel Menantang

Konsultan Asing Sebut Pembangunan LRT Sumsel Menantang  NERACA Palembang - Konsultan asing dari SMEC Australia John Leonard selaku konsultan yang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Petahana & Terdakwa

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Riak pesta demokrasi berlabel pilkada serentak mulai satu…

Modal Pemerintah di Koperasi, Mungkinkah?

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Koperasi yang merupakan soko guru perekonomian nasional—sebenarnya mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap…

Keuangan Inklusif yang Ekslusif

  Oleh: Ariyo DP Irhamna Peneliti INDEF   Pada 13 Februari 2018, Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Utusan Khusus…