Inflasi Juli Diproyeksikan Kecil

Selasa, 22/07/2014

NERACA

Jakarta – Meski Ramadhan dan jelang Hari Raya harga sejumlah bahan pokok tidak mengalami kenaikan terlalu tinggi, maka dari itu akan berdampak baik pada inflasi bulan Juli tahun 2014 ini. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin memprediksikan inflasi bulan Juli tidak akan terlalu tinggi dibandingkan bulan lalu sebesar 0,43%.

"Kalau estimasinya bisa dipertahankan dalam sisa waktu lima hari ini, bahwa nanti harga akan stabil saya menduga tidak tinggi,more less," ujar Suryamin di Jakarta, Senin (21/7).

Sebelumnya, BPS menyebutkan inflasi pada Agustus 2013 yang mencapai 1,12%. Hal itu dikarenakan permintaan bahan makanan akan mendominasi penyumbang inflasi karena adanya permintaan menjelang lebaran.

Pihaknya menyebutkan inflasi yang terjadi pada Lebaran 2013 bukan karena menjelang lebaran, namun juga disebabkan oleh kenaikan harga BBM.

"Kalau Lebaran tahun lalu ada kenaikan harga BBM, harus dibandingkan dengan 2012 yang tidak terlalu jauh, artinya stabil. Dalam sisa waktu H-7 diharapkan tidak terjadi lonjakan yang signifikan," papar dia.

Dirinya juga mengatakan kenaikan harga yang terjadi pada komoditas daging sapi tidak akan mengatrol laju inflasi. "Karena itu hanya satu komoditi, kita harapkan tidak akan tinggi," tukas dia

Sedangkan menurut Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, pada tahun-tahun sebelumnya, rata-rata inflasi selama Juli berkisar 0,85%. Sehingga, tahun ini inflasi pada Juli akan ada di kisaran tersebut. “Diperkirakan, inflasi sepanjang bulan ini adadi kisaran 0,8%–1,2%,” katanya.

Cuma memang, Juli tahun ini pemicu inflasi sangat banyak yakni Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, liburan panjang anak sekolah, dan tahun ajaran baru sekolah. Alhasil, harga barang dan jasa terbang bebas. Tambah lagi, per 1 Juli 2014, pemerintah mengerek tarif listrik untuk enam golongan pelanggan PT Perusahaan Listrik Negara sebesar 5,36%–11,57%. Meski dampaknya tak besar, kenaikan tarif listrik sedikit banyak berdampak pada inflasi.

Sedangkan untuk inflasi tahunan, BI memprediksikan pada 2014 akan terjadi inflasi 4,5% karena dipengaruhi beberapa faktor di antaranya tekanan kebijakan strategis dari Pemerintah, pasokan bahan pangan, dan ekspektasi inflasi terkendali.

"Prediksi besarnya inflasi tersebut masih tetap lebih rendah dibandingkan nasional yang diprediksikan berada di angka 4,9 persen," kata Deputi Bank BI Marlison Hakim.

Menurutnya kebijakan strategis oleh Pemerintah misalnya kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan harga elpiji 12 kg namun demikian kondisi tersebut diharapkan tetap mengendalikan ekspektasi inflasi "Selain itu untuk kenaikan elpiji 12 kg yaitu dari Rp 1.000/kg menjadi Rp 6.944/kg juga bisa berakibat pada besaran inflasi," jelasnya.

Menurutnya kenaikan tersebut diperkirakan meningkatkan inflasi bulanan sebesar 0,1 hingga 0,3 persen, selain itu bersamaan dengan Idul Fitri akan mempengaruhi preferensi atas elpiji 3 kg. [agus]