Ekonomi Indonesia Masih Dihantui Risiko

Jumat, 18/07/2014

NERACA

Jakarta – Berdasarkan rapat yang digelar Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) terkait dengan situasi perekonomian terkini. Telah mengambil berbagai kesimpulan. Dimana FKSSK mewaspadai beberapa faktor risiko yang perlu mendapat perhatian. Pertama dari faktor domestik, seperti defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), defisit transaksi berjalan ataucurrent account deficit, serta kondisi likuiditas perbankan.

"Kondisi terjaga dari sisi pasar uang yang juga sisi fiskal kemudian perbankan tetap ada risiko yang harus diperhatikan. Ini adalah yang berkaitan dengancurrent account, fiskal, juga misal persoalan mengenai likuiditas," kata Menteri Keuangan Chatib Basri yang sekaligus merupakan Ketua FKSSK di Jakarta, Kamis (17/7).

Perbaikancurrent account deficit, lanjut Chatib, terus diupayakan dalam waktu dekat. Targetnya adalah berada di bawah 3% pada akhir tahun ini.

"Caranya saya kira dengan volume konsumsi BBM (bahan bakar minyak) dipatok di 46 juta kiloliter, turun dari sebelumnya 48 juta kiloliter. Impor BBM pasti akan turun. Selain itu, Tiongkok yang pertumbuhan ekonominya 7,5% lebih baik dari diperkirakan sehingga mendorong ekspor," jelasnya.

Dari dalam negeri, yang juga mendapat sorotan adalah utang luar negeri pemerintah dan swasta yang nilainya mencapai US$ 283,7 miliar (per Mei 2014). Porsi terbesar adalah swasta dengan utang luar negeri US$ 151,5 miliar, tumbuh 15,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kemudian dari faktor eksternal, FKSSK juga memperhatikan sejumlah isu. Misalnya berlanjutnya penurunan harga komoditas.

Sebelumnya pemerintah bersama DPR sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) merubah target pertumbuhan ekonomi 6,0 persen yang dipatok dalam APBN 2014. Turun ke level 5,5%. “Melambat dari realisasi 5,8% pada 2013,” ujar Chatib

Sedangkan International Monetery Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2014 berada sekitar 5,5%. Pada hal sebelumnya pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berdasarkan APBN sebesar 6% pada tahun 2014 ini. Dan melihat kondisi sekrang, Bank Indonesia (BI) mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dilevel 5,1% - 5,5% dari 5,5% - 5,9%.

"Kami prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dilevel 5,5%. Tapi tahun depan diperkirakan ada kenaikan hingga 5,8%," ujar Senior Resident Representative IMF, Benedict Bingham.

Diakui Benedict, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2014 memang melambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tercatat pada kuartal I-2014 ini, pertumbuhan ekonomi hanya 5,21% dan pada periode yang sama tahun lalu tumbuh 5,62%.

Dia menjelaskan, perlambatan ekonomi Indonesia ini memang dipengaruhi perlambatan ekonomi Tiongkok sehingga kinerja ekspor Indonesia melambat. "Memang melambat, tapi kami melihat walaupun melambat, ke depan ekspor Indonesia akan tetap tinggi," kata dia. [agus]