Indonesia Terjerat Kapitalisme

Kamis, 17/07/2014

Indonesia yang sekarang berada dalam pusaran era kapitalisme, sulit untuk melepaskan situasi krisis yang siap menjerat dalam jangka pendek ini. Pasalnya, dalam jangka pendek, krisis memang akan mengurangi kebebasan ekonomi di sebuah negara. Namun, dalam jangka panjang, kebebasan ekonomi akan kembali seperti sedia kala. Bahkan, lebih kuat.

Lebih menarik lagi, betapapun krisis menimpa sistem ekonomi ini, semakin banyak negara yang justru kian meningkatkan tingkat kebebasan ekonominya. Sejak 1980, berdasarkan Economic Freedom of The World: 2009 Annual Report (James D Gwartney, Robert A Lawson, dkk), hampir semua negara tetap setia pada kapitalisme kendati krisis hadir berulang kali.

Seperti pada tahun 2008 adalah fase genting dalam sejarah perkembangan kapitalisme ketika krisis memuncak dimulai dari meletusnya problem kredit perumahan yang buruk di Amerika Serikat. Bak gelombang radio, krisis tak terlihat, tetapi nyata kita rasakan. Sektor finansial dunia terjun bebas. Belum ada angka pasti kerugian akibat turbulensi finansial global, tetapi diyakini mencapai puluhan triliun dolar AS.

Di Indonesia pun sekarang mengucur dana asing sekitar US$130 miliar ke berbagai sektor investasi portofolio, walau negeri ini mengalami masalah defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan (current account) yang belum membaik, serta terdepresiasinya nilai tukar rupiah lebih dalam belakangan ini.

Aliran kapitalisme tercermin dalam kebijakan yang liberal, dimana kebebasan ekonomi digambarkan sebagai kebebasan warga di satu negara untuk bekerja, berproduksi, mengonsumsi, dan melakukan investasi dengan cara yang dia suka serta kebebasan itu dilindungi dan tidak dihalangi negara.

Bagaimanapun, sejarah kapitalisme ternyata memang lekat dengan krisis. Sejarah mencatat kapitalisme berjalan tertatih-tatih. Pada 1637 krisis bertajuk ”Tulip Mania” di Belanda, ”Mississippi Bubble” 1719-1720 di Perancis, ”South Sea’s Fantasy” 1720 di Inggris, 1792 di AS, dan terus berulang di banyak tempat. Dekade 1820 di Amerika Latin, 1837 di AS, 1840 di Inggris, 1893 di AS, 1907 di AS, dan 1920 di AS.

Belum usai, pada 1929 kita menyaksikan seluruh dunia cemas setelah apa yang disebut sebagai ”The Great Depression” mengempaskan banyak sektor ekonomis. Lalu, 1986-1990 krisis menghantam Jepang dengan sebutan ”Japan Sinks”, krisis Asia 1997, limbungnya Long-Term Capital Management pada 1998, ”The Dot Bomb” pada 2000, dan kita melihat tahun 2008 yang pilu sesudah transaksi derivatif menggila di dunia.

Namun, kapitalisme tampaknya memiliki daya tahan/hidup luar biasa karena ia bisa menginternalisasi satu moral bahwa greed is good, serakah itu baik. Sistem pasar yang bebas ini terus melaju walau secara sinis Bjorn Elmbrant menyebut negara-negara yang kapitalistik sebagai ”Jamaah tanpa pemimpin yang berderap sempoyongan sampai akhirnya limbung tersandung kaki sendiri”.

Pada masa lalu, dunia pernah mendapat tawaran panas dari Karl Marx dan Marxisme yang berambisi mematahkan kapitalisme dengan menyodorkan sebuah logika (yang kemudian menjadi gerakan): kapitalisme yang sekarat akan melahirkan revolusi proletariat untuk lahirnya masyarakat tanpa kelas. Namun, berbagai krisis yang terjadi malah seakan menjadi pupuk penyubur dan pelanggeng sistem ekonomi yang diilhami Adam Smith ini. Roda kapitalisme bergerak tiada henti, lebih kencang dan lebih gila dari sebelumnya.

Kegagahan kapitalisme ini memang diakui umumnya kalangan karena ia berhasil menciptakan kenikmatan individual, kesejahteraan ekonomi secara kolektif. Namun, kita juga tahu, kapitalisme menghadirkan jurang ketimpangan yang semakin melebar. Kekayaan satu korporasi nyaris sama dengan kekayaan sejumlah negara miskin. Harus diakui, kapitalisme, kendati dianggap sebagai jalan terang menuju kemakmuran, belum bisa menuntaskan problem kemiskinan dan pengangguran.