Pegadaian Diserbu Warga

Kebutuhan Dana Tunai Meningkat Menjelang Hari Raya

Sabtu, 12/07/2014

Kebutuhan masyarakat menjelang hari raya relatif lebih tinggi dibandingkan hari-hari lain pada umumnya, sehingga banyak orang membutuhkan dana tunai secara cepat dengan berbondong-bondong mendatangi pegadaian.

NERACA

Menjelang lebaran yang sekitar dua minggu lagi, sejumlah kantor perum pegadaian di serbu masyarakat untuk mendapatkan dana tambahan untuk hari raya. Naiknya harga emas di pasar dunia diperkirakan memicu minat nasabah untuk mengadaikan emasnya.

Manajer Cabang Pegadaian Jatinegara, Tulus Widodo mengakui, di banding dengan tahun lalu pada periode yang sama, ada kenaikan sekitar 15 persen nasabah hingga akhir September ini.

Tulus mengatakan, peningkatan animo masyarakat ini memang sudah rutin terjadi sebulan sebelum lebaran. Diperkirakannya, pada H-7 akan terjadi lonjakan nasabah yang cukup signifikan untuk mengadaikan barang-barangnya. Untuk itu pihak Pegadaian sudah menyiapkan dana milyaran rupiah.

Hasimah, salah seorang nasabah datang ke Pegadaian untuk mengadaikan cincin emasnya. Hasimah terpaksa mengadaikan cincinnya karena membutuhkan uang tunai sebagai simpanan untuk kebutuhan tak terduga menjelang lebaran tiba.

Menurut Hasimah, meminjam uang ke pegadaian lebih mudah dan cepat daripada harus meminjam pada pihak lain. Sebab mendapatkan uang tunai lewat pegadaian tidak membutuhkan waktu lama serta tidak berbelit. Cukup membawa barang yang akan digadaikan dan barang itu bisa kembali ditebus bila sudah memiliki dana yang cukup.

Pegadaian memang masih jadi primadona masyarakat untuk mendapatkan dana segar. "Soalnya, prosesnya mudah dan cepat. Mudah, karena mereka cukup membawa barang yang mau digadaikan dan tentu harus membawa suratnya. Tapi kalau dia enggak punya, cukup membawa KTP untuk dicatat alamatnya," jelas tulus.

Sedangkan dari segi proses, cuma 15 menit. Dalam artian, terhitung mulai dari nasabah menyerahkan barang ke counter lalu dicek. Nah, dalam hitungan menit, langsung terima uang.

Servis lain untuk memanjakan nasabahnya, Kantor Pegadaian berjanji tetap buka sampai 1 hari sebelum Lebaran. "Kami akan beri kesempatan buat siapa saja memanfaatkan kesempatan ini," ujarnya.

Di Jakarta, perhiasan tetap jadi primadona sebagai barang gadaian, misalnya giwang dan kalung. "Kebanyakan memang ibu-ibu. Mereka, kan, tulang punggung keluarga. Ada juga, sih, kaum lelaki. Yang digadaikan kalau enggak emas, ya, kendaraan. Baik sepeda motor atau mobil," tuturnya.

Selain masyarakat menengah ke bawah, banyak juga masyarakat kelas atas yang datang ke Pegadaian. "Sebagai bukti, ada mobil Jaguar yang digadaikan. Biasanya kontraktor yang mau bayar tukang tapi belum punya uang, lalu mobilnya digadaikan. Kalau sudah dapat pembayaran baru ia ambil lagi," tutur tulus.

Mohammad Edy Prayitno, Pimpinan Wilayah Utama Jakarta mengatakan, jangan khawatir, enggak ada oknum pegawai yang mau ambil untung sendiri. Jika ada karyawan yang tidak beres, kami tak sungkan memberi sanksi. Soal keamanan barang, tak perlu diragukan. Mengungkapkan. Kami pakai sirine, alarm, dan satpam yang jaga 24 jam. Ditambah lagi, ada polisi atau ABRI yang kontrol tiap 1 jam sekali.

Kalaupun ada masalah dengan calo, menurut Edy, itu tak lepas dari masyarakat sendiri. "Calo timbul karena nasabah malu. Melalui calo inilah muncul istilah pungutan-pungutan. Antisipasinya, orang yang datang ke Pegadaian harus tanda tangan sendiri. Calo enggak boleh masuk," tuturnya.

Uniknya, menjelang Lebaran ini, Pegadaian ikut membantu terbukanya peluang kerja. "Banyak ibu-ibu rumah tangga menjadi pedagang kaki lima untuk keperluan buka puasa. Modalnya ngambil dari Pegadaian," terang Edy.