Indonesia Tetap Diperhitungkan Investor

Rasio Utang Bisa Dibawah 20%

Selasa, 16/08/2011

NERACA

Jakarta---Kondisi perekonomian di Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang belum stabil membuat investor banyak berpikir ke Asia. Karena itu Indonesia termasuk negara yang diyakini membuat menarik para investor beberapa tahun ke depan. “Rasio utang kita terhadap PDB 26%, ketimbang Yunani 162% atau Amerika Serikat juga di atas 100%. Bahkan dengan kebijakan fiskal, Indonesia optimistis rasio itu bakal turun terus di bawah 20% dalam empat tahun ke depan," kata Kepala BKPM Gita Wirjawan kepada wartawan di Jakarta,15/8

Menurut Gita, saat ini yang justru terjadi adalah penempatan modal langsung ke lokasi-lokasi atau negara yang memiliki fundamental perekonomian yang bagus seperti Indonesia. “Bahkan dengan kebijakan fiskal, Indonesia optimistis rasio itu bakal turun terus di bawah 20% dalam empat tahun ke depan,” tambahnya.

Sementara itu, jika dilihat dari sisi moneter, negara-negara emerging markets lainnya yaitu China, Malaysia, Vietnam, Singapura, India dan Thailand telah berkali-kali menaikkan suku bunga untuk mengendalikan laju inflasi. Tetapi di Indonesia hanya sekali saja menaikkan suku bunga di Februari lalu.

Sehingga pihaknya optimistis, dalam waktu dekat bisa terjadi stabilisasi. Dimana Indonesia akan dilirik dari sebelumnya dan target Rp240 triliun tahun ini pun bisa dicapai. "Semester I-2011 terealisasi Rp115 triliun atau tumbuh 49% dari semester I tahun lalu," urainya.

Agar penanaman modal lebih maksimal, BKPM mendorong sejumlah regulasi untuk bisa diselesaikan. Peraturan yang dimaksud adalah RUU Pengadaan Tanah, Tax Holiday, serta Tax Allowance.

Menurut mantan Komisaris PT Pertamina, Indonesia dalam waktu dekat tetap akan menjadi tujuan dan bahkan pergerakan rotasi dari para investor. ”Mau tidak mau, memang pasar akan dipengaruhi oleh gonjang-ganjing global. Tapi saya percaya dalam waktu dekat pasar akan mengalami stabilisasi. Dalam arti, pasar akan mengetahui siapa sih yang memiliki fundamental ekonomi yang kuat.

Dikatakan Gita, akan terjadi flight to safety atau rotasi kepergian ke demografi yang aman. flight to quality atau rotasi modal ke tempat-tempat yang berkualitas. Dan kalau ngomong kualitas itu, dari sisi fiskal, moneter, dan demografi. “Dan tentunya oportunity bisnis di Indonesia, Saya sangat yakin bahwa kalau ini sudah stabil orang bisa lebih waras dan bijak untuk mencermati situasi pasar, mereka akan melirik Indonesia, karena inflasi Indonesia jauh lebih baik dari negara lain,” ungkapnya

Dan dari segi moneter, pada semester I Indonesia baru menaikan suku bunga sekali saja untuk mengendalikan inflasi. ”Bila dibandingkan dengan Malaysia, Vietnam, Thailand, Hongkong, Irlandia, mereka berkali-kali menaikan suku bunga bank untuk mengendalikan laju inflasi. Kita Cuma sekali saja di bulan februari 2011 bahkan terjadi diflasi di bulan Maret. jadinya ini memberikan posisi yang sangat kuat buat Indonesia,” katanya. **Salim.