Transaksi Digital Perbankan Semakin Diminati

NERACA

Industri perbankan di masa depan sepertinya akan mengandalkan transaksi secara digital dimana layanan perbankan yang dilakukan di kantor-kantor cabang nantinya diperkirakan tidak akan mencapai 5%.

Menurut Manager Direktur Accenture Indonesia Hendra Godjali perbankan Indonesia akan menghadapi ancaman dari para pendatang baru digital yang semakin serius menggarap layanan keuangan dan dapat mengambil alih pasar ritel dari perbankan serta membatasi peran utama bank.

"Pada 2020, lebih dari 30% pendapatan perbankan terancam akan diambil alih para kompetitor dan tren-tren terbaru. Dengan adanya ancaman tersebut, bank-bank tidak dapat hanya berpangku tangan saja," ungkapnya.

Diungkapkannya, perbankan Indonesia tengah menghadapi ancaman dan peluang baru, mulai dari perusahaan teknologi dan komunikasi sampai pelanggan ritel dan agen perjalanan telah menggunakan teknologi digital untuk mengungguli layanan ritel perbankan.

"Kami memperkirakan bahwa satu per tiga pangsa pasar bank tradisional akan terancam pada 2020 akibat adanya sejumlah pendatang baru. Bank-bank harus mampu memberikan lebih dari sekedar layanan perbankan sehingga mereka akan lebih dipercaya dan dibutuhkan dalam aktivitas pelanggan sehari-hari," jelasnya.

Ditambahkannya, dalam dunia digital perubahan didorong para pelanggan. Mereka ingin berperan aktif dalam menentukan bagaimana dan kapan mereka akan melakukan transaksi perbankan.

Pada kesempatan sama, Ketua Working Group IT Perbanas Moh. Guntur mengungkapkan, pengguna layanan internet banking di Indonesia pada akhir 2013 mencapai 23 juta orang. Salah satu pemicu tingginya internet banking karena penetrasi dari ponsel yang tinggi.

Related posts