Juli Berpotensi Kenaikan Inflasi Tinggi

NERACA

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo melihat inflasi juni di level 0,43% masih terkendali, meskipun demikian terdapat potensi kenaikan dari harga yang diatur mengingat awal Juli ini ada kenaikan tarif seperti tarif listrik dan tarif transportasi udara. Maka pada Juli bulan mendatang ada potensi kenaikan inflasi tinggi.

"Inflasi bulan mendatang berpotensi naik tinggi, tetapi kita tetap yakin ada di range 4,5% plus minus 1%," katanya di Jakarta, Rabu (2/7).

Agus juga melihat ada kecenderungan kenaikan angka inflasi. Ia berharap ada upaya pengendalian di seluruh Indonesia, terutama pada bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran. "Kita mesti jaga di dua area,volatile fooddanadmister price. Diadministered priceada kemungkinan resiko di tarif angkutan udara," kata dia.

Penghematan belanja negara juga dikatakan akan mempengaruhi angka inflasi. Untuk itu perlu ada pengelolaan yang baik.

Pada kesempatan yang sama Menteri Perekonomian Chairul Tanjung menyatakan, Pemerintah sedang mengontrol inflasi pada bulan ini. Alasannya, jika tidak diantisipasi, inflasi Juli dapat meningkat karena terdapat beberapa sentimen yang dapat mendorong peningkatan. "Sekarang tugas kita adalah mengontrol inflasi di bulan Juli yang punya efek luar biasa,"katanya.

Dan untuk dapat mendorong kenaikan inflasi, diantaranya, adalah Lebaran dan berakhirnya hari libur sekolah. CT mengatakan, tahun ajaran baru mendorong inflasi yang luar biasa.

Menurut dia, hal-hal tersebut merupakan pekerjaan rumah Pemerintah. CT mengaku tidak mudah menekan inflasi, tetapi ia berharap inflasi Juli dapat ditekan di bawah 1%. Caranya yakni dengan stabilitas harga pangan. "Kalau pendidikan tak bisa dihindari. Tahun ajaran baru pasti ada," ujarnya.

Sedangkan menurut Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs, menilai inflasi hingga Juni 2014 masih positif bagi pencapaian sasaran inflasi 3,5-5,5% pada 2014 dan 3-4% pada 2015.

"Bank Indonesia tetap mencermati berbagai risiko inflasi di semester II-2014 seperti potensi meningkatnya harga pangan akibat El Nino," katanya.

Untuk itu, lanjut Peter, Bank Indonesia secara konsisten akan menempuh kebijakan dalam rangka mengelola inflasi dan meningkatkan koordinasi pengendalian inflasi dengan Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah.

Inflasi Juni 2014 sendiri mengalami peningkatan sesuai dengan pola historisnya namun tetap terkendali. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Juni mencatat inflasi sebesar 0,43% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sesuai dengan pola inflasi menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Namun demikian, inflasi Juni tersebut masih terkendali dan bahkan lebih rendah dibandingkan angka historis dalam beberapa tahun terakhir yang rata-rata mencapai 0,56% (mtm). Secara tahunan, inflasi IHK tercatat sebesar 6,7 % (yoy), masih melanjutkan tren penurunan yang terjadi sejak awal 2014.

Sebagaimana biasanya, inflasi menjelang Ramadhan masih didorong oleh inflasi volatile food yang mencapai 1,06% (mtm) atau 6,74% (yoy). Komoditas yang mengalami kenaikan tertinggi adalah bawang merah dan bawang putih serta daging ayam dan telur ayam.

Sementara itu, inflasi inti masih terkendali dan relatif stabil di kisaran 0,25% (mtm) atau 4,81% (yoy). Hal ini didukung oleh masih menurunnya harga komoditas global di tengah depresiasi Rupiah, permintaan yang masih termoderasi, serta ekspektasi inflasi yang terjaga.

Di sisi lain, inflasi administered prices sedikit meningkat menjadi 0,45 persen (mtm) atau 13,47 persen (yoy) disebabkan utamanya oleh penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan Rumah Tangga dengan daya listrik lebih dari 6600 VA. [agus]

BERITA TERKAIT

Ada Promo, Kenaikan Tarif Ojol Dianggap Semu

    NERACA   Jakarta - Ketua Tim Peneliti Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) Rumayya Batubara menyatakan promosi berlebihan…

Mayoritas Konsumen Ojek Online Mengeluhkan Tarif Tinggi

      NERACA   Jakarta – Pasca ditetapkan tarif baru ojek online (ojol) yang berlaku efektif 1 Mei 2019,…

DEFISIT APRIL 2019 TERBESAR SEJAK JULI 2013 - NPI Alami Defisit Hingga US$2,5 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada April 2019 defisit sebesar US$2,50 miliar. Defisit tersebut disebabkan oleh…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan, Perhitungan Investasi Migas Dirombak

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menetapkan dua kebijakan, yakni di antaranya merombak mekanisme perhitungan investasi eksplorasi migas PT.…

Kemenkes Siapkan 6.047 Fasilitas Layanan Kesehatan di Jalur Mudik

    NERACA   Jakarta - Kementerian Kesehatan menyiapkan 6.047 fasilitas layanan kesehatan di sepanjang jalur mudik 2019 untuk memastikan…

Menko Darmin Pastikan Kondisi Ekonomi Aman

  NERACA   Jakarta – Sepanjang selasa hingga rabu kemarin, situasi keamanan di kota Jakarta belum kondusif. Namun begitu, Menteri…