Ibu Hamil, Harus Waspadai Virus Herpes

Akibatkan Kerusakaan Janin

Sabtu, 05/07/2014

Selama masa kehamilan, daya tahan seseorang cenderung mengalami penurunan. Akibatnya, rentan terserang berbagai penyakit. Bahkan infeksi ringan , terkadang sulit untuk dihindari. Padahal, selama kehamilan seorang calon ibu dituntut untuk menjaga stamina agar tetap prima.

NERACA

Sekalipun infeksi yang dialami oleh ibu hamil tidak selalu berpengaruh terhadap janin, namun ceritanya akan lain bila terinfeksi virus herpes dan virus varisella Penyakit ini termasuk TORCH (toxoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, herpes simpleks) dan varisella zoster . Kelima penyakit ini dapat mengakibatkan kerusakaan janin.

“Seorang ibu hamil hendaknya mewaspadai terhadap serangan virus herpes dan virus varisella zoster, sebab infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual ini, bila mengenai janin akan mengakibatkan kematian,” tutur dr. Hanny Nilasari, SpK(K) dari kelompok studi herpes perhimpunan dokter spesialis kulit dan kelamin (Perdoski).

Menurutnya untuk mencegah agar bayi yang sistem kekebalannya masih sangat lemah, seorang Dokter akan memberikan saran agar ibu hamil yang terindikasi virus herpes, melahirkan secara caesar. Persalinan caesar memungkinkan bayi tidak perlu melewati saluran persalinan yang menjadi persemaian berbagai virus.

Penyakit herpes muncul dalam bentuk gelembung atau lepuh-lepuh pada permukaan kulit, disertai rasa sakit. Berdasarkan bagian tubuh yang diserang, dapat dibedakan sebagai herpes genitalis, herpes gestationis, herpes simpleks dan herpes zoster.

Ibu hamil termasuk dalam kelompok orang dewasa yang rentan terhadap penyakit chickenpox/varisela apabila di masa mudanya belum pernah mengalaminya. Bagi ibu hamil dengan usia kehamilan 1 hingga 3 bulan, memang bisa terjadi komplikasi terhadap janin bayi, seperti keguguran, kelahiran mati atau bayi terkena sindrom congenital varicella (infeksi pada janin kuartal pertama kehamilan) yang cukup berbahaya baik bagi sang janin maupun si ibu.

Namun memang prevalensi ibu hamil penderita cacar air yang mendapat komplikasi ini masih rendah (sekitar 2 dari 100 kasus). Kehamilan cenderung memperburuk perjalanan penyakit varicella. Infeksi varicella pada kehamilan meningkatkan risiko kejadian komplikasi pneumonia. Infeksi varicella pada trimester awal kehamilan memunculkan risiko kelainan kongenital, sebesar 0,4 – 2%.

dr. Hanny mengatakan, Herpes Zoster dapat terjadi pada semua usia dan biasanya sering terjadi pada saat seseorang mengalami penurunan imunitas seperti orang dengan usia lanjut, pasien dengan keganasan, pasien yang mendapat kemoterapi atau terapi steroid jangka panjang dan orang dengan HIV.

Sedangkan pada wanita hamil terserang herpes bayi mempunyai risiko tinggi tertular. Virus dapat ditularkan kepada janin melalui placenta selama kehamilan atau selama persalinan vaginal. Pada infeksi selama kehamilan dapat meningkatkan risiko keguguran, ketuban penurunan pertumbuhan. Sekitar 30-50% bayi yang lahir melalui vagina dengan seorang ibu yang terinfeksi virus herpes. Bayi yang dilahirkan perempuan mengalami serangan pada saat lahir, satu sampai empat persen menjadi terinfeksi dengan herpes-simplex virus.

Setelah infeksi, virus herpes membentuk suatu masa yang disebut latency, saat virus yang ada dalam tubuh dari sel saraf dapat muncul (misalnya alat kelamin, mulut, dan bibir) virus menjadi aktif lagi. Meskipun aktif, virus mulai kali (disebut peluruhan) dan menjadi transmittable lagi. Peluruhan ini mungkin tidak disertai oleh gejala. Selama reaktivasi, virus berpindah dari dalam sel saraf dan diangkut melalui saraf ke kulit. Kemampuan virus herpes menjadi laten dan reaktif menjelaskan jangka panjang, sifat herpes infeksi yang berulang.

Infeksi ulang mungkin dipicu oleh haid, penyakit yang menyebabkan fevers, stres, sistem kekebalan imbalances, dan penyebab lainnya yang tidak diketahui. Namun, tidak semua pasien mengalami kejadian kedua.

Herpes zoster secara fisik akan menyebabkan kurangnya energi, anoreksia, penurunan berat badan, vitalitas kurang, inaktivitas fisik serta gangguan tidur. Di sisi lain, secara psikologis Herpes Zoster akan mengakibatkan depresi, kecemasan gangguan konsentrasi serta secara sosial menyebabkan interaksi sosial berkurang, perubahan fungsi sosial serta isolasi sosial. Sehingga secara garis besar Herpes Zoster menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien.

Sedangkan Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, K-AI, FINASIM, FACP dari Satuan Tugas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia mengatakan, kini tersedia vaksin Herpes Zoster yang dapat mencegah Herpes Zoster dan Neuralgia Pasca Herpes. Vaksin ini meningkatkan kekebalan tubuh (imunitas) terutama imunitas seluler. Setiap orang yang peduli terhadap bahaya Herpes Zoster berumur 50 tahun atau lebih dapat memanfaatkan vaksin ini. Manfaat imunisasi Herpes Zoster untuk kesehatan masyarakat dapat kita lihat dari pengalaman Amerika Serikat yang telah menggunakan vaksin ini secara luas.

“Namun demikian, vaksin ini tak boleh digunakan oleh orang yang mengalami penurunan kekebalan tubuh yang berat. Karena itu sebelum menggunakan vaksin ini perlu konsultasi dengan dokter,” tuturnya .