Utang Indonesia Capai Rp1.733,64 Triliun

Selasa, 16/08/2011

NERACA

Jakarta---Krisis utang AS harusnya menjadi pelajaran bagi Indonesia. Tapi ternyata jumlah utang pemerintah bukan berkurang. Namun makin terus bertambah. Berdasarkan data Direktorat Pengelolaan Utang, tercata total utang Indonesia hingga Juli 2011 mencapai Rp 1.733,64 triliun.

Dalam tempon satu bulan utang pemerintah naik Rp 9,5 triliun dibanding Juni 2011 yang sebesar Rp 1.723,9 triliun. Namun dibandingkan dengan jumlah utang di Desember 2010 yang sebesar Rp 1.676,85 triliun, jumlah utang hingga Juli 2011 bertambah Rp 56,79 triliun.

Dan jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah hingga Juli 2011 mencapai US$ 203,77 miliar. Naik dibandingkan per Juni 2011 yang sebesar US$ 200,52 miliar. Utang dalam dolar AS ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2010 yang sebesar US$ 186,5 miliar.

Utang pemerintah tersebut terdiri dari pinjaman US$ 69,4 miliar dan surat berharga US$ 134,3 miliar. Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 6.422,9 triliun, maka rasio utang Indonesia per Juli 2011 tercatat sebesar 26,9%.

Sementara rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga akhir Juli 2011 adalah: Bilateral: US$ 43,45 miliar, Multilateral: US$ 22,86 miliar, Komersial: US$ 3,02 miliar, Supplier: US$ 60 juta, Pinjaman dalam negeri US$ 70 juta. Sementara total surat utang yang telah diterbitkan oleh pemerintah sampai Juli 2011 mencapai US$ 134,3 miliar. Naik dibandingkan posisi Desember 2010 yang sebesar US$ 118,39 miliar.

Dari Singarupa, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengungkapkan kekhawarirannya terhadap Asia, termasuk China dan India terkena krisis. Alasanya Asia sangat rentan jika Amerika Serikat dan Eropa tergelincir ke dalam resesi yang lain.

Lebbih jauh Lee memperingatkan dunia mungkin akan tenggelam ke dalam resesi lagi. Eropa bermasalah, Amerika juga bermasalah," kata PM Lee dalam pidatonya seperti dikutip dari AFP,

Lee menambahkan, volatilitas pasar "hanya cerminan dari masalah yang sebenarnya" yang mengurangi kepercayaan investor terhadap pemerintah AS dan Eropa apakah mereka dapat "membuat keputusan keras dan untuk menyelesaikan masalah yang mendalam dan sangat serius."

Pemerintah AS dinilai Lee menghabiskan dana terlalu banyak dan defisit fiskal "tidak berkesinambungan". Ia menambahkan, perpecahan mendalam antara Partai Republik dan Demokrat telah membuat negara lebih sulit untuk memecahkan masalah.

Atas masalah tersebut, Lee menilai China, India dan negara berkembang lainnya melakukan "cukup baik" untuk saat ini. "Tapi jika Amerika dan Eropa akan masuk ke resesi yang lain, maka saya pikir China, India dan negara berkembang lain juga akan terpengaruh, juga akan rentan," ujar Lee memperingatkan.

Dikatakan Lee, dirinya meminta Singapura harus waspada. “Kita tidak perlu menekan tombol panik, tetapi kita harus waspada karena ada cukup kemungkinan bahwa dunia akan masuk ke resesi yang lain. Itu akan mempengaruhi kita dengan mudah bisa terjadi," tambahnya.

Pertumbuhan ekonomi Singapura mengalami kontraksi 6,5% pada kuartal kedua sebagai permintaan elektronik global merosot, menurut data resmi. Singapura yang bergantung pada ekspor adalah ekonomi Asia pertama yang mengalami pertumbuhan negatif selama krisis global yang terakhir di tahun 2008 tetapi juga menyebabkan pemulihan dengan rebound perkembangan yang kuat di 2010.

Pasar di seluruh dunia telah bergolak di tengah kekhawatiran bahwa krisis utang AS dan zona euro dapat memicu resesi baru. Krisis dimulai di Yunani dan sekarang didorong oleh kekhawatiran bahwa Spanyol atau Italia mungkin default utang mereka. **cahyo