Kebijakan Ekonomi Jangan Jadi Bom Waktu

Pesan SBY

Selasa, 01/07/2014

NERACA

Jakarta – Masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tinggal beberapa bulan lagi, oleh karenanya SBY menggelar sidang kabinet bersama para jajaran menteri-menterinya di Kabinet Indonesia Bersatu II. Salah satu masalah atau isu yang dibahas adalah perekonomian menjadi pembahasan sidang kali ini.

Oleh karena SBY mengingatkan agar menteri-menteri terkait tidak mengeluarkan kebijakan yang berdampak buruk bagi pemerintahan atau kebijakan yang diambil harus bersifat stategis agar tidak memberikan beban pada pemimpin mendatang.

Dalam hal ini, Presiden SBY menegaskan pemerintah tidak akan mengambil kebijakan ekonomi yang akan menjadi bom waktu bagi pemerintahan selanjutnya.

"Kebijakan yang akan kita tempuh terutama dalam jangka pendek sisa masa bakti kita pada 2014 ini, meski keputusan dan kebijakan yang kita ambil selalu miliki implikasi di masa depan, tetap harus cermat dan perhitungkan segala aspek sehingga tidak jadi bom waktu bagi pemerintahan mendatang," kata Presiden saat membuka sidang kabinet bidang ekonomi di Kantor Presiden Jakarta, Senin.

Presiden mengatakan pemerintah akan mengambil kebijakan secara hati-hati dan komprehensif.

"Dalam berbagai sidang kabinet saya sampaikan, tahun ini tahun pemilu, dan kini masuk tahapan pilpres namun perekonomian nasional harus tetap dikelola," tegas SBYsaat membuka rapat di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (30/6)

Ada tiga hal yang dikelola oleh pemerintah terkait perekonomian yaitu masalah fiskal, stabilitas harga juga nilai tukar mata uang.

Presiden berharap menko perekonomian bersama jajaran menteri bidang ekonomi bisa mengelola hal tersebut dengan baik.

"Kebijakan yang akan kita tempuh terutama jangka pendek sisa masa bakti kita tahun 2014, meskipun kebijakan yang kita ambil selalu memiliki implikasi di masa depan. Oleh karena itu, kebijakan kita harus cermat sehingga tidak menjadi bom waktu bagi presiden yang akan datang," ujarnya

Sejumlah isu perekonomian yang akan dibahas antara lain kebijakan fiskal atau APBN dan APBN-P yang telah disetujui DPR dan gejolak harga bahan kebutuhan pokok selama Ramadan. Tugas khusus ini diberikanSBYpada Menteri Koordinator bidang PerekonomianChairul Tanjung. "Saya amanahkan kepada Menko Perekonomian yang baru PakChairul Tanjungagar mengelola stabilitas harga sebaik-baiknya. Terutama harga bahan pokok yang sekarang kita memasuki bulan Ramadhan dan nanti Idul Fitri," katanya.

Kepala Negara menjelaskan, kenaikan harga bahan pokok saat Ramadan dan Idul Fitri ini tidak terhindarkan. Sifatnya musiman. Meskipun tren setiap tahun selalu begitu,SBYtetap meminta menteri terkait mengelola sebaik-baiknya. "Itu seperti kenaikan yang sifatnya seasonal. Harus kita kelola sebaik-baiknya karena pasar dapat memiliki keganjilan tertentu yang bisa mengganggu stabilitas harga bahan pokok itu," jelasSBY.

Sedangkan menurut Ketua LP3E Kadin Prof Dr Didiek J. Rachbini, masalah ekonomi yang selama masa kepemimpinan SBY selama 10 tahun bisa dikatakan gagal dalam membangun perekonomian yang kokoh, malahan SBY akan mewerisi kepada pemerintah mendatang beban yang sangat memberatkan, bahkan bisa menjadi bom waktu. “Jika diperumpamakan pemerintah sekarang akan mewariskan bom waktu yang akan meledak,” tegas Didik.

Alasannya, menurut dia, dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang hanya di kisaran 5,1 -5,5%, inflasi tinggi, ruang fiskal yang semakin sempit, tax ratio yang kian melebar, beban subsidi BBM yang terus naik, membuat Indonesia seperti berada di tepi jurang krisis. “Jika bomnya meledak, maka Indonesia bakal terjebak dalam jurang krisis,” paparnya. [agus]