Pasokan Defisit, Impor Kacang-Kacangan Tak Dibatasi

NERACA

Jakarta – Pemerintah telah menetapkan untuk tidak membatasi masuknya impor beberapa bahan kacang-kacangan seperti kacang tanah dan kacang kedelai. Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Achmad Suryana mengatakan bahwa kebijakan tersebut dilakukan untuk mencegah adanya gejolak harga menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Suryana mengatakan keputusan tersebut diambil berdasarkan rapat pleno badan ketahanan pangan. “Ini dilakukan sebagai antisipasi masalah distribusi dan harga pangan menjelang Puasa dan Lebaran tahun ini,” ungkap Suryana di Jakarta, Kamis (26/6).

Menurut dia, ada 3 komoditas pangan yang pasokannya defisit yakni kedelai, kacang tanah dan sapi/daging sapi. “Selain tiga pangan yang defisit tersebut yang lainnya sangat aman, pasokannya cukup bahkan selama 2014, seperti beras surplus 25 juta ton, minyak goreng (kelapa sawit) 15,5 juta ton dan unggas 441.000 ton,” ucapnya.

Suryana mengungkapkan, untuk tahun ini, kacang kecelai defisit pasokan 1,4 juta ton, kacang tanah 165.000 ton dan sapi 29.000 ton. "Agar tidak terjadi gejolak harga khususnya menjelang Puasa dan Lebaran, pemerintah membebaskan impor kedelai, kacang tanah dan sapi," tuturnya.

Lebih jauh lagi, Suryana mengatakan berdasarkan hasil putusan rapat pleno maka pemerintah telah berkonsentrasi untuk menjaga 9 komoditas pangan. “Itu kami lakukan dalam rangka menjaga harga agar tidak bergejolak. Sementara 9 pangan yang dijaga harga diantaranya adalah beras, kacang tanah, kedelai, gula pasir, minyak goreng, bawang merah, cabe rawit, daging sapi dan unggas serta telur,” ucapnya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kacang tanah diimpor sebanyak 34.151 ton atau US$ 38,9 juta pada April 2014. Impor tersebut naik dari bulan sebelumnya yaitu 22.679 ton atau US$ 25,1 juta. Akumulasi Januari-April adalah 98.703 ton atau US$ 111,6 juta. Negara asal kacang tanah impor pada April adalah India dengan volume 28.772 ton (US$ 31,8 juta), Tiongkok 4.465 ton (US$ 6,4 juta), Malaysia 752 ton (US$ 607 ribu), dan negara lainnya total 161 ton (US$ 165 ribu).

Tak hanya kacang tanah, Indonesia juga mengimpor kacang hijau. Pada bulan April diimpor sebanyak 18.544 ton atau US$ 18,9 juta. Lebih tinggi dibandingkan bulan lalu yang sebesar 13.761 ton atau US$ 18,5 juta. Secara kumulatif, impornya mencapai 41.999 ton atau US$ 41,3 juta. Kacang hijau impor berasal dari sejumlah negara seperti Myanmar 16.833 ton (US$ 17,2 juta), Ethiopia 1.048 ton (US$ 848 ribu), Australia 312 ton (US$ 392 ribu), Tiongkok 180 ton (US$ 207 ribu), dan negara-negara lainnya.

Tingkatkan Produksi

Sebagai salah satu daerah penghasil kacang, ternyata Provinsi Sumatera Utara masih mengimpo kacang-kacangan terutama kacang tanah. Namun begitu, Kepala Dinas Pertanian M.Room S menyatakan bahwa pihaknya berupaya menekan impor kacang tamah dengan terus meningkatkan produksi komoditas tersebut. “Diakui Sumut masih tergantung dengan impor kacang tanah khususnya menjelang Idul Fitri, karena permintaan naik tajam, namun kami terus berupaya menekan angka impor komoditas tersebut,” kata M Room.

Selain impor kacang tanah, khususnya dari India, Sumut juga sangat tergantung dengan pasokan dari Jawa, katanya. “Untuk melepas ketergantungan impor bahkan pasokan dari Jawa, maka Sumut terus mengupayakan peningkatan produksi,” ujarnya. Ia mengatakan bahwa tahun 2014, produksi kacang tanah ditargetkan mencapai 26.715 ton atau naik 100% lebih dari hasil tahun 2013 yang 13.657 ton. “Peningkatan produksi bukan hanya dari penambahan luas areal tetapi juga produktivitas,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2014, penanaman kacang tanah ditargetkan ditanam di areal seluas 21.767 hektare dengan produktivitas 12,27 kuintal per hektare, lebih besar dari tahun sebelumnya yang masih 11.359 hektare dengan produktivitas 12,02 kuintal per hektare. Sentra utama kacang tanah Sumatera Utara ada di Karo, Langkat, Deliserdang, Serdang Bedagai dan Tapanuli Utara Distan Sumut terus mengawal penanaman hingga panen komoditas itu agar produksi mencapai target. “Pemprov Sumut benar-benar berharap ketergantungan pasokan dari Jawa dan khususnya impor bisa ditekan," katanya.

Produksi yang memenuhi kebutuhan impor juga bisa menekan gejolak harga yang artinya juga membantu menjaga lonjakan inflasi. Pedagang sembilan bahan pokok di Pasar Inpres Titi Kuning, Medan, Saiman, menyebutkan dewasa ini, kacang impor tidak terlalu banyak karena pasokan dari Jawa mencukupi permintaan yang stabil. “Kacang impor biasanya 'banjir' menjelang Puasa Ramadhan karena permintaan melonjak tajam untuk kebutuhan Idul Fitri,” katanya.

Menurut dia, kacang tanah impor semakin banyak saat itu karena pasokan dari Jawa justru berkurang dengan alasan pemasok daerah tersebut juga lagi "banjir" permintaan, “Harga kacang tanah pekan ini stabil di kisaran Rp15.000 - Rp20.000 per kg,” tambahnya.

Terkait hal ini, sebelumnya, pakar pertanian Hermanto Siregar meminta pemerintah untuk memetakan sektor hortikultura. Hal itu dikarenakan investasi benih hortikultura oleh asing haru dibatasi mengingat belum terpenuhinya kebutuhan di dalam negeri. Pemetaan ini juga dianggap penting untuk memastikan komoditas mana yang betul-betul bersaing sempurna dan mana yang harus diproteksi.

Related posts