Nasionalisasi dan Globalisasi Aset Bangsa

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Judul tulisan ini adalah sebuah sudut pandang subyektif yang dipikirkan oleh penulis dalam menyikapi fenomena tentang keberadaan Indonesia di tengah lingkungan strategis nasional, regional, dan internasional dewasa ini. Dalam sudut pandang yang bersifat subyektif ini, maka penulis memahami tentang konsep nasionalisasi aset bangsa tidak dalam kerangka kebijakan pengambil alihan aset bangsa yang saat ini dikuasai asing, tetapi lebih difahami dalam kerangka membangun strategi dan kebijakan negara yang mempunyai sepirit yang kuat dan bersifat sistemik untuk mewujudkan kemandirian dan daya saing bangsa secara nasional yang prosesnya dilakukan dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya nasional.Sedangkan konsep internasionalisasi aset bangsa berdasarkan sudut pandang penulis adalah merupakan bagian dari strategi dan kebijakan nasionalisasi aset bangsa yang konsep dasarnya seperti dijelaskan di atas.

Dengan demikian, globalisasi aset bangsa difahami sebagai sebuah upaya strategis agar seluruh aset bangsa yang bersifat tangible maupun yang intangible yang sudah "diolah", secara internasional mendapatkan pengakuan dalam setiap kerjasama ekonomi di tingkat regional maupun global. Jadi tidak difahami sebagai bagian dari upaya "pencaplokan/penguasaan" asing terhadap aset bangsa baik sebagian maupun seluruhnya. Hal yang terakhir ini bukannya berarti harus dinafikkan, tetapi tetap harus disikapi secara cerdas dan bijaksana agar tidak melanggar pasal 33 UUD 1945.

Nasionalisasi dan internasionalisasi aset bangsa yang konsep dasarnya seperti itu adalah merupakan bagian dari proses pelipatgandaan nilai tambah aset bangsa secara keseluruhan. Dan secara ekonomi hasilnya harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh masyarakat. Indonesia memerlukan strategi dan kebijakan negara yang konsep dasarnya seperti itu untuk mengantisipasi terjadinya pergeseran kekuatan global yang dewasa ini sudah bergeser barat ke arah timur sebagai sumber kekuatan alternatif mesin pertumbuhan ekonomi di tingkat dunia.

Asia, termasuk Asean sudah menjadi titik episentrum mesin ekonomi dunia dengan segala kecenderungan yang bisa terjadi,baik yang bersifat positif maupun negatif,dan bisa pula bersifat produktif dan konsumtif. Indonesia harus segera mengambil posisi dan peran agar dinamika yang terjadi yang sifatnya seperti itu tidak berpotensi menjadi ancaman kepentingan nasional. Diskursus ini yang harus menjadi perhatian pemerintah dan DPR ke depan karena apapun alasannya,Indonesia telah menjadi bagian masyarakat dunia.

Pilihan strategi dan kebijakan negara yang harus diambil tetap berada dalam koridor nilai dasar Pancasila dan UUD 1945. Nasionalisasi dan internasionalisasi aset bangsa yang seperti itu pendekatannya dan tidak keluar dari Pancasila dan UUD 1945, maka seluruh komponen bangsa menjadi tidak relevan lagi berdebat secara panjang lebar tentang konsep nasionalisasi dan internasionalisasi aset bangsa dalam prespektif yang lain, misal dibenturkan dengan persoalan neoliberalisme dengan seluruh instrumen kebijakan yang mendukungnya.

Related posts