Asing Lakukan Ujicoba Fundamental Ekonomi

NERACA

Jakarta---Kementerian Keuangan memperkirakan larinya dana asing yang menyebabkan penurunan dalam Surat Berharga Negara (SBN) dinilai hanya sebagai ujicoba saja terhadap fundamental perekonomian Indonesia. "Jadi kalau seandainya kemarin ada penurunan termasuk juga asing ada juga yang melepas itu sesuatu yang normal yang istilah kami adalah mereka ingin menguji saja," kata Menteri Keuangan, Agus Martowardojo kepada wartawan di Jakarta,8/8.

Menurut Agus, larinya investor itu memiliki alasan yang berbeda-beda. Karena para investor itu memiliki komunitas sendiri. Dan sekaligus para investor asing ingin melihat reaksinya di Indonesia. “Jadi investor itu sebetulnya walaupun impact sendiri-sendiri tapi mereka itu punya komunitasnya. Dan komunitasnya itu mengamati kondisi umum, fundamentalnya bagaimana, dan juga melihat dari policy response masing-masing negara," jelasnya

Namun, sambung Agus, adanya fundamental yang baik di Indonesia, serta policy yang konsisten, maka pasar kembali tenang. "Secara fundamental kita yang paling utama, coba kamu bandingkan debt to GDP dan deficit to GDP. Negara-negara yang diwaspadai tentu yang debt to GDP-nya besar dan defisit besar," urainya.

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang PS Brojonegoro mengatakan Indonesia dan negara-negara anggota G-20 berusaha mencari solusi guna menjaga stabilitas ekonomi global, serta menghindari kepanikan di pasar saham pascakebijakan utang yang dilakukan Amerika Serikat dan Eropa.

Bambang sendiri enggan menuturkan hasil forum G20 tersebut, namun intinya, kata Bambang, G-20 menyatakan keseriusannya meyikapi kondisi yang saat ini menghantam perekonomian dunia. “Pokoknya G20 komitmen menjaga ekonomi global,” tegas Bambang di kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (8/8/2011).

Menurut Bambang, merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan akhir pekan lalu memang imbas dari krisis utang di AS, dan perlu diwaspadai. Meksipun tidak perlu khawatir berlebihan, peningkatan kewaspadaan tetap dibutuhkan.

Mantan Dekan FEUI ini, menambahkan instrumen seperti Crisis Managament Protocol menjadi prioritas untuk menjaga surat utang negara (SUN). Pemerintah menegaskan kesiapannya menghadapi kondisi terburuk dari gejolak ekonomi dan pasar global. “Yang penting kita pemerintah kan dalam posisi yang cukup siap menghadapi ini semua,”paparnya.

Selain menjaga utang, kata Bambang, pemerintah juga akan memperhatikan besaran APBNP terkait dengan capaian pertumbuhan. “Jadi kita akan jaga SUN kita kemudian juga item-item dalam APBNP memperkuat pertumbuhan juga sudah disiapkan,” imbuhnya.**cahyo

BERITA TERKAIT

Menperin: Milenial Penopang Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dalam memasuki era revolusi industri 4.0.…

Indikator Ekonomi Makro 2020 Telah Pertimbangkan Risiko

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa indikator ekonomi makro yang akan digunakan…

Hary Tanoesoedibjo & Jokowi Bicarakan Pembangunan Ekonomi dengan Pertumbuhan 7%-8%

JAKARTA, Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo bertemu Presiden RI Joko Widodo membahas pembangunan ekonomi Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta.…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Ada Promo, Kenaikan Tarif Ojol Dianggap Semu

    NERACA   Jakarta - Ketua Tim Peneliti Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) Rumayya Batubara menyatakan promosi berlebihan…

DBH Migas Diharapkan untuk Kesejahteraan Rakyat Papua

      NERACA   Jakarta - Peraturan Daerah Khusus tentang Dana Bagi Hasil Migas (Perdasus DBH Migas) diharapkan segera…

ESDM : 64% Produksi Gas untuk Dalam Negeri

    NERACA   Jakarta - Pemerintah telah mengalokasikan 64 persen produksi gas untuk dalam negeri. Dengan alokasi ini diharapkan…