MTQ Fair Kuningan 2014 Cetak Generasi Enterpreneur yang Qur'ani

Kamis, 27/03/2014

Kuningan - Warga Kabupaten Kuningan yang ada di pusat kota termasuk hotel berbintang hingga penginapan di daerah wisata selama sepekan ini mendapat keuntungan di sektor ekonomi. Pasalnya, ribuan kafilah dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat beradu potensi untuk mencetak generasi qur’ani, dalam event Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Jawa Barat ke-33 di “Kota Kuda”.

Hampir seluruh hotel dibooking, begitupula beberapa rumah warga disekitar tempat kafilah melangsungkan perhelatan kecabangan pun banyak disewa. Tidak sekedar penginapan, dari sisi perdagangan pun cukup ramai dikunjungi peserta dan tamu undangan. Terlebih dalam perhelatan MTQ itu digelar pula MTQ Fair 2014, di Pandapa Paramarta, dengan melibatkan unsur Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) dari semua peserta MTQ ditambah beberapa daerah perbatasan. Diwarnai pula stan-stan pribumi yang menjual beraneka ragam kebutuhan, baik makanan tradisional, pakaian, mainan anak, kerajinan tangan dan lainnya.

Ketua Dekranasda Jawa Barat yang juga isteri Gubernur Ahmad Heryawan, Hj. Neti Heryawan dalam pembukaan MTQ Fair menjelaskan, menjadi pedagang hingga menjadi pengusaha yang handal dan sukses tidak dilarang oleh Islam dan Islam pun tidak fobia terhadap kekayaan asal cara mendapatkannya sesuai dengan ajaran Islam.

“Pedagang itu pekerjaan Rosulullah. Dia seorang enterpreneuer yang sukses. Dari kecil beliau pekerja keras sehingga menggiring Rosulullah menjadi seorang investor. Sejak kecil juga beliau dijuluki Al-Amin. Jadi betapa Islam sangat mendorong untuk menjadi umat yang mandiri secara ekonomi,” papar Neti.

Melalui MTQ Fair, diharapkan bisa memberikan stimulus bagi pemuda muslim dalam cara berbisnis. Berbisnis cara Rosulullah sangat perlu dicontoh. Karena dalam berbisnis, kejujuran dan kepercayaan konsumen sangat diutamakan. Melalui MTQ Fair itu juga, ia berharap, enterpreneur muda bisa melakukan strategi dalam memasarkan produknya supaya mempunyai nilai tambah dan keuntungan yang besar.

Selain pameran kerajinan tangan, MTQ pun diwarnai pawai ta’aruf. Hampir lebih dari lima jam, Kuningan mendadak macet, karena dipadati oleh aksi pawai dari 27 kabupaten/kota. Hampir setiap daerah memiliki pesan tersendiri dalam aksi pawai itu, terutama dalam produk daerahnya. Seperti teatrikal yang disampaikan Kabupaten Karawang, unsur kembali ke tanah dan bambu yang diusung oleh peserta pawai menandakan jika semua manusia berasal dari tanah. Tanah dan tanaman pula yang menyuburkan Indonesia, dan itu harus dipertahankan dan terus digali potensinya.

Begitupula Garut, Tasikmalaya, Bandung dan lainnya mengusung produk lokal yang harus tetap didukung. Aksi pawai ta’aruf Kuningan dan Cirebon menandakan jika dua daerah ini tidak bisa dipisahkan, dan lahirnya dua daerah tersebut berawal dari sebuah kerajaan. Kendati zaman terus berubah, namun sejarah kerajaan dan adat ketimuran harus tetap dijunjung.

Wakil Gubernur Jawa Barat, H. Dedy Mizwar saat membuka pawai ta’aruf mengatakan, MTQ harus menjadi dakwah syiar Islam, yang pada akhirnya pelaksanaan MTQ dapat menjadi media bagi masyarakat dalam mengenal dan mempelajari Al-Qur’an serta isi kandungannya.

“Setiap MTQ selalu digelar pawai ta’aruf. Pawai ta’aruf merupakan wahana untuk memperkenalkan daerah masing-masing dalam kreatifitas yang ditampailkan. Disamping itu, pawai ta’aruf juga berfungsi sebagai wahana silaturahim masal antar kafilah. Dan, hakikat sesungguhnya dalam MTQ itu bukan hanya melalui soal perlombaan dan juara, tetapi tujuan utamanya adalah wahana syiar dan dakwah.

Harus Objektif

Sementara, Gubernur Jawa Barat H. Ahmad Heryawan saat membuka musabaqoh di Kuningan Islamic Centre (KIC) malam harinya, menegaskan kepada dewan hakim supaya menjunjung tinggi objektifitas dalam memberikan penilaian dan memutuskan para peserta terbaik. Sehingga bisa melahirkan peserta-peserta terbaik yang benar-benar memiliki kemampuan, layak dan pantas untuk mewakili Jawa Barat.

Ia juga sangat berharap agar MTQ tingkat Provinsi itu bisa melahirkan qari/qariah, hafiz/hafizah, mufassir/mufassirah, khaththath/khaththathah, regu syahrilqur’an, regu fahmilqur’an, dan peserta menulis isi kandungan Al-qur’an terbaik. “Nantinya, para peserta terbaik akan mejadi utusan kafilah Jawa Barat pada MTQ XXV tingkat Nasional di Kota Batam, Kapulauan Riau Juni 2014 mendatang,” katanya.

Aher juga menegaskan tentang makna generasi qur’ani. Dalam makna yang lebih luas, Generasi Qur’ani merupakan agen-agen pembangunan. Generasi yang menghadirkan berbagai manfaat dalam segala bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tercipta tatanan kehidupan masyarakat yang adil, bermartabat dan diridhoi Allah SWT.

Di tempat terpisah, Kabag Humas Setda Kuningan, Asep Budi Setiawan, menjelaskan, ada 10 lokasi yang akan digunakan kafilah dalam berbagai kecabangan. KIC sebagai arena utama digunakan arena MTQ Dewasa dan qiroat sab’ah, MTQ remaja dan cacat netra mengambil tempat di gedung serbaguna Kelurahan Purwawinangun, MTQ kanak-kanak dan murotal di gedung serbaguna Kelurahan Ciporang.

Lalu, MHQ 1 juz dan 5 juz di Syiarul Islam lantai bawah, MHQ 10 juz dan 20 juz bertempat di Gedung IPHI, MHQ 30 juz dan tafsir Bahasa Inggris mengambil lokasi di Gedung Serbaguna Kelurahan Cijoho, arena tafsir Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab di Gedung BAZNAS, arena MFQ dan MSQ di Gedung KNPI (Gelanggang Pemuda), arena MKQ di SMA Kosgoro dan arena MMQ mengambil tempat di kampus UNIKU.

Dengan persiapan yang cukup matang, Kuningan sendiri nampaknya tidak mau ketinggalan dalam unjuk kebolehan generasi qur’ani di ajang MTQ kali ini. Kendati pada MTQ sebelumnya, Kuningan hanya berada di peringkat ke-24, namun tidak menjadikan para kafilah maupun Pemkab Kuningan untuk tidak sportif. Ketika Kuningan pantas menjadi juara, maka itu dilakukan secara sportif sebagai tuan rumah, namun ketika belum waktunya menjadi juara, bukan menjadi tujuan utama Kuningan. Sesuai dengan tujuan MTQ itu sendiri, yakni untuk mencetak generasi qur’ani dalam kesehariannya.