Kemenkeu Pertanyakan Kebijakan Mobil Murah

NERACA Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mempertanyakan kebijakan mobil murah yang masih saja mengonsumsi bensin subsidi beroktan rendah. Padahal, pemerintah sudah membuat aturan main dan regulasi bahwa mobil murah diharuskan menenggak pertamax alias BBM non-subsidi. "Kita baru kirim surat permintaan kepada kementerian perindustrian, efektivitasnya seperti apa. Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) kan diminta untuk BBM non-subsidi, jadi ditanya itu penggunaannya seperti apa," ungkap Menteri Keuangan Chatib Basri di Jakarta, pekan lalu.

Sejak awal mobil murah diluncurkan, tahun lalu, Kemenkeu sudah memberikan ultimatum kepada Kementerian Perindustrian untuk memastikan mobil murah hanya mengonsumsi BBM non-subsidi. Jika tidak, dipastikan mobil seharga di bawah Rp 100 juta itu bakal berkontribusi besar terhadap jebolnya anggaran dan volume BBM subsidi tahun ini. "Kalau dari segi sales, kita enggak tanya. itu bagian Kemenperin. Tapi kita mau lihat dari segi penggunaan subsidi BBM. Karena pada waktu itu dibuat untuk BBM non-subsidi. Kalau misalnya tidak (sukses), apa langkah yang dilakukan untuk itu," kata Chatib.

Kendati disinyalir masih pake BBM subsidi, Menkeu tak berani menghapus insentif pajak mobil murah. Jika seandainya, mobil murah masih saja mengonsumsi bahan bakar yang "diharamkan". "Itu mesti di-review lagi, saya mesti duduk dengan Kemenperin. Mungkin pengaturan mesin yang harus non-subsidi," ujarnya.

Sebelumnya Pengamat energi Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro sudah pesimistis pengguna mobil murah bakal menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi. “Masyarakat menengah ke atas dengan mobil mewah saja masih menggunakan BBM bersubsidi. Apalagi mobil murah dengan target kalangan menengah ke bawah,” ujarnya

Lebih jauh, Komaidi menilai pemerintah tak konsisten dalam kebijakannya. Di satu sisi pemerintah hendak menghemat anggaran dengan memperkecil subsidi BBM serta mengurangi kemacetan. Namun di lain pihak pemerintah malah mengeluarkan kebijakan terkait program mobil murah. "Kalau tak konsisten menghemat anggaran subsidi, jangan buat kebijakan seperti ini.

Pemerintah juga dinilai tidak tepat bila membandingkan kebijakan mobil murah ini dengan negara lain. Karena struktur anggaran negara lain tak terpengaruh oleh subsidi BBM. Ia mencontohkan harga BBM di Thailand berkisar Rp 14-15 ribu per liter dan rakyatnya mampu membeli dengan harga bensin tersebut.

“Maka wajar meraka mengeluarkan mobil murah. Saya juga mengira alasan pemerintah terkait mobil murah untuk menaikan investasi itu kurang logis," tegasnya.

Menurut Komaidi, salah satu cara untuk membenahi kemacetan dan mengurangi subsidi BBM yang membenahi trasportasi publik. Masyarakat akan nyaman jika transportasinya baik dan dengan sendirinya para pengguna kendaraan pribadi akan berganti ke transpotasi publik.

Oleh karenanya, kata dia, sudah seharusnya pemerintah segera memberikan insentif bagi transportasi publik. "Tapi pemerintah sampai saat ini belum juga melakukannya," tutupnya. [agus]

BERITA TERKAIT

SP JICT Pertanyakan Rencana Peralihan Operator RTGC

SP JICT Pertanyakan Rencana Peralihan Operator RTGC NERACA Jakarta - Ketua Umum Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (SP JICT)…

Citilink Sabet Tujuh Kali Berturut-Turut - Terpilih Berbiaya Murah Terbaik

NERACA Jakarta – Maskapai berbiaya murah (LCC) Citilink Indonesia kembali terpilih sebagai Indonesia Leading Low Cost Airline untuk yang ke-7…

Kebijakan Suku Bunga Bakal Dipengaruhi Dolar

    NERACA   Jakarta - Kebijakan suku bunga nasional mendatang dinilai sangat dipengaruhi nilai penguatan mata uang dolar Amerika…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Kadin Dukung Pemindahan Ibu Kota

      NERACA   Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) siap mendukung rencana pemindahan ibu kota RI…

40% Jembatan Dalam Kondisi Tak Baik

  NERACA   Semarang - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyebutkan sekitar 40 persen jembatan di…

BI Dorong Jakarta Tingkatkan Anggaran Sektor Pariwisata

    NERACA   Jakarta - Anggaran pemerintah DKI Jakarta untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dinilai perlu ditingkatkan karena…