Waspadai Saat Modal Asing Melonjak

Rabu, 19/03/2014

Oleh : Muhammad Habibilah

Peneliti Indef

Pada akhir 2013, banyak pengamat yang menyangsikan kembalinya modal asing ke Indonesia lantaran kondisi perekonomian dalam negeri yang kurang bagus. Pertumbuhan ekonomi yang terkoreksi menjadi 5,78%, atau jauh dari asumsi APBN-Perubahan 2013 sebesar 6,3% dan neraca perdagangan Indonesia, per Januari 2014, tercatat defisit mencapai US$0,43 miliar.

Saat itu juga para pemegang dana investasi masih menunggu perumusan The Fed tentang kebijakan dan potensi AS dalam sinyal positif. Situasi ini merupakan hal yang wajar, karena pada waktu itu belum ada faktor x sebagai penarik dana investor asing di pasar Indonesia. Apalagi di tahun ini Indonesia memasuki tahun politik yang akan menentukan nasib perekonomian Indonesia selama lima tahun ke depan.

Namun, situasi ini berubah sejak kondisi perekonomian Indonesia menunjukkan perbaikan hingga triwulan I 2014. Salah satunya inflasi yang terkendali, jika pada awal bulan angka inflasi mencapai 1,07% (month to month/mtm) turun drastis menjadi 0,26% (mtm) pada Februari 2014.

Di sisi lain, timbulnya optimisme bahwa akan terjadi surplus neraca perdagangan dengan dasar kinerja ekspor yang bakal membaik dikarenakan adanya dorongan peningkatan permintaan dari relasi dagang serta impor yang lebih terkendali dengan moderasi permintaan domestik. Dan yang diluar dugaan, setelah diumumkannya salah satu kandidat calon presiden dari peserta pemilu (Jokowi), nampak adanya sentimen positif dari pasar.

Rupiah mengalami penguatan dan IHSG menembus angka 4.900. Demikian juga dengan modal asing yang semakin membesar, selama tiga bulan pertama 2014 telah mencapai Rp38 triliun, padahal pada periode yang sama di tahun sebelumnya modal asing hanya Rp28 triliun.

Masuknya dana asing ke Indonesia memang merupakan parameter baiknya kepercayaan investor global terhadap kondisi perekonomian Indonesia, namun hal ini tidak sepenuhnya menggembirakan. Peningkatan modal investor asing yang cukup besar dapat membahayakan fundamental ekonomi Indonesia.

Pasalnya, Indonesia belum memiliki pondasi yang cukup kuat, salah satunya pada struktur ekspor. Saat ini barang-barang ekspor masih didominasi oleh bahan baku/mentah seperti kayu gelondongan, batu bara, minyak mentah dan kulit reptil. Sebaliknya, impor lebih banyak berupa barang siap pakai (barang konsumtif).

Jika kondisi ini dibiarkan berlajut dalam jangka waktu yang lama, tidak menutup kemungkinan sumberdaya alam lokal akan habis tergerus sedangkan produk impor barang jadi akan semakin merajalela. Di sisi lain, dana investor asing yang masuk ke Indonesia dalam bentuk surat utang negara dan saham (hot money) dapat ditarik sewaktu-waktu.

Kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang belum bagus dapat mengakibatkan terjadinya guncangan ekonomi ketika investor melakukan penarikan dana dalam jumlah besar. Secara teori, investasi portofolio memang dapat mendongkrak nilai rupiah namun kecil kemungkinan dapat meningkatkan kinerja di sektor riil. Padahal sektor riil-lah yang selama ini berkontribusi besar terhadap kesejahteraan rakyat.

Memang, lonjakan jumlah modal asing di Indonesia tidak hanya terjadi ketika perekonomian dalam negeri sedang membaik yang kebetulan juga bertepatan dengan momen menjelang penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan seperti sekarang ini.

Karena itu, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, seharusnya pemerintah melakukan pembatasan jumlah dana asing yang masuk sesuai dengan kemampuan negara dalam melakukan pengelolaan. Dibutuhkan ketegasan dari pemerinah sebagai regulator untuk mengatur lalu lintas permodalan asing serta efektivitas penggunaannya.

Di samping itu, penguatan fundamental ekonomi baik dalam hal industri maupun struktur eskpor juga perlu segera direalisasikan sembari mencari alternatif penarikan dan penyaluran dana asing yang lebih banyak berkontribusi di sektor riil.