Arah Pembangunan Ekonomi?

Senin, 03/03/2014

Fenomena perekonomian Indonesia saat ini jmemiliki kasus yang hampir mirip dengan India, yaitu maraknya serangan spekulan serta defisit transaksi berjalan (current account) yang mencapai 3,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2013.

Namun, jika kondisi ekonomi dan konsumsi/impor dapat ditekan pada tahun ini, maka angka defisit itu akan mencapai angka 2,8% dari PDB. Keadaan defisit tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak 1997.Ini disebabkan oleh dua hal yaitu berubahnya Indonesia menjadi negaranet oil importirsejak 2003 setelah sebelumnya net oil exportir.

Dulu, sebelum terjadi krisis moneter, setiap kali terjadi defisit, Indonesia selalu di-supplydana oleh IGGI/CGI. Tetapi, sejak pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai membaik, pinjaman murah tersebut tidak ada lagi. Ironisnya, sebagai negara menengah Indonesia sekarang semakin tertekan. Ditambah dengan hasil ekspor yang kurang mencukupi, cicilan imbal hasil yang tinggi, serta meningkatnya subsidi.

Parahnya lagi, kondisi defisit neraca perdagangan dihantui dengan perubahan life stylemasyarakat Indonesia yang diindikasikan dengan tingkat konsumsi semakin menjadi-jadi karena banyaknya masyarakat yang mengambil kredit untuk barang konsumsi.

Padahal, sebagian besar barang konsumsi kita seperti gadget, makanan di restoran, pakaian, dan lain-lain adalah barang impor. Jika konsumsi Indonesia tidak ditekan, beban impor tidak akan sanggup mengimbangi ekspor luar negeri yang dan pada akhirnya membuat defisit neraca perdagangan kian membengkak.

Sebenarnya ekonomi Indonesia pernah jaya setelah terpuruk akibat krisis moneter 1997/98. Lihat lima tahun lalu (2008-2012), PDB kita terus menguat dari 6,0% menjadi 6,5%,dan menguatnya Rupiah. Kondisi ini akibat booming-nya produk ekspor Indonesia sertainflowmodal berasal dari kebijakan quantitative easing (AS).

Akan tetapi, dengan tidak adanya reformasi stuktural yang meliputi pembenahan infrastruktur, produktivitas, serta pasar tenaga kerja, menyebabkan kondisi kejayaan masa lalu itu kembali ke situasi normal pada 2013.

PDB yang terus menurun menjadi di bawah 6%, BI Rateterus bertahan dalam 3 bulan terakhir sebesar 7,5%serta imbal hasil SUN 10Y yang mencapai >8% semakin menambah beban negara. Lalu bagaimanakah kondisi masa depan ekonomi Indonesia jika kebijakan struktural/ reformasi pemerintahan yang baru tidak segera mengambil langkah preventif?

Terlebih di tengah tekanan isu taperingoff The Fed serta revolusi shale gasAmerika yang otomatis menurunkan harga komoditas dunia. Jelas ini merupakan kekhawatiran masa depan Indonesia, maka perancangan sistematis pembangunan menjadi sangat penting untuk dilakukan. Karena sejak GBHN dihapuskan, Indonesia mengalami kebingungan arah pembangunan sebab saat ini hanya bergantung pada RJPM.Seharusnya Indonesia meniru China dan Korea yang sukses membuat perencanaan negaranya hingga 20 tahun ke depan.