Persiapan Hadapi MEA

Banyak pihak masih mempertanyakan kesiapan pemerintah Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Asalnya, bila Indonesia belum siap, maka hanya akan menjadi pasar dan “budak” negara ASEAN lainnya. Kesiapan pemerintah tentu sangat diperlukan tidak hanya pada proteksi produk dalam negeri namun juga pada sisi sumber daya manusia (SDM).

Sejumlah pihak juga menilai hingga saat ini pemerintah belum mempunyai kebijakan yang komprehensif menghadapi MEA yang sudah kian dekat waktunya. Padahal, negara lain seperti Malaysia, Singapura dan Thailand sudah mempunyai strategi khusus agar negara mereka bisa mengambil keuntungan optimal di pasar bebas ASEAN tersebut.

Menurut pakar strategi pemasaran Philip Kottler, sebuah bangsa dapat berkembang maju di era globalisasi jika mampu melakukan persiapan dengan baik, antara lain menyiapkan pembangunan infrastruktur fisik, infrastruktur teknologi, kekuatan human capital dan dukungan infrastruktur untuk usaha kecil.Namun menjelang AFTA 2015 ini, Indonesia tampaknya belum mampu melakukan persiapan dengan baik. Ini terlihat dalam indikator Human Development Index (HDI) 2013 yang dirilis UNDP (United Nations Development Programme), Corruption Perceptions Index (CPI) 2013 yang dikeluarkan Transparency International, dan Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness Index/GCI) 2013–2014 yang dikeluarkan World Economic Forum(WEF).

Meski memiliki jumlah penduduk paling besar di ASEAN, dari sisi kekuatan human capital, Indonesia terbilang masih tertinggal dengan beberapa negara tetangga. Memang benar, dalam beberapa tahun terakhir ini angka HDI Indonesia yang diumumkan secara rutin oleh United Nations Development Programme (UNDP) terus mengalami peningkatan. Namun angka HDI Indonesia terbilang masih rendah, yakni hanya sebesar 0,62 dan tergabung dalam kelompok negara dengan HDI kategori medium human development.

Ironisnya, Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang lebih besar, ternyata HDI nya masih berada jauh di bawah Singapura (0,89) dan Brunei (0,85) yang mampu tampil sangat maju dalam kelompok negara dengan HDI kategori very high human development. Malaysia juga juga cukup jauh di atas Indonesia dengan HDI sebesar 0,76 dan tergolong dalam kategori negara high human development.

Kondisi ini jelas memprihatinkan karena human capital yang dimiliki Indonesia hanya sedikit di atas Timor Leste, Kamboja dan Myanmar. Artinya, dari sisi human capital dalam menghadapi MEA 2015, Indonesia masih kalah kuat dengan Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand dan Filipina.

Dari sisi kultur birokrasi, proses pelayanan publik saat ini masih sering dikeluhkan lamban dan hal itu diperparah lagi kuatnya perilaku korupsi aparatur pemerintah. Lihat saja angka Corruption Perceptions Index (CPI) 2013 yang dikeluarkan Transparency International, Indonesia masih tergolong kuat korupsinya. Singapura merupakan negara paling kecil korupsinya di ASEAN. Kemudian disusul Brunei, Malaysia, Filipina dan Thailand.

Dalam CPI ini Indonesia menduduki peringkat ke-114 dari 177 negara yang disurvei. Sedangkan dalam indeks daya saing global (Global Competitiveness Index-GCI) 2013–2014 yang dikeluarkan WEF, negeri ini menduduki peringkat ke-38 dari 148 negara yang disurvei, memang agak lebih baik dari Vietnam, Tmor Leste, Kamboja dan Filipina. Namun, Indonesia masih kalah dengan Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand.

Nah, jika Menko Perekonomian Hatta Rajasa belum lama ini mengklaim persiapan Indonesia menghadapi MEA sudah cukup matang bahkan sudah mencapai 78%, itu berdasarkan dari kajian kuantitatif atau kualitatif dari lembaga mana yang perlu kita teliti kembali. Pasalnya, jangan sampai laporan yang diterima Hatta itu terkesan “asal bapak senang (ABS)”. Waspadalah!

BERITA TERKAIT

HIMPUNI Dorong Kesiapan Tenaga Kerja Hadapi Industri 4.0

Perhimpunan Organisasi Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (HIMPUNI) siap mendorong tenaga kerja dari para lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan…

Pengusaha Harus Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

NERACA Jakarta – BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumatera Barat mengajak pengusaha di daerah itu untuk menyiapkan diri dan…

UPN Jakarta Siap Hadapi Industri 4.0

UPN Jakarta Siap Hadapi Industri 4.0 NERACA Jakarta - Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Dr Prasetyo Hadi mengatakan…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Waspadai Defisit Perdagangan

Data BPS mencatat neraca transaksi perdagangan Indonesia (NPI) pada akhir Desember 2018 defisit US$8 miliar lebih, kontras dengan periode akhir…

Tingkatkan Kendali Pusat

Kritik tajam Bank Dunia terhadap sejumlah proyek infrastruktur yang dianggap berkualitas rendah, minim dana, tidak direncanakan dengan baik, rumit, dan…

Perlu Aturan Uang Digital

Di tengah makin maraknya peredaran uang digital, hingga saat ini baik Bank Indonesia (BI) maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlihat…