Mencermati Utang Luar Negeri

Senin, 24/02/2014

Oleh : Prof. Firmanzah PhD

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Bank Indonesia baru-baru ini merilis profil utang luar negeri Indonesia. Dimana dalam komposisi utang luar negeri terdiri dari utang pemerintah, bank sentral, swasta non-bank dan swasta bank. Utang luar negeri pemerintah turun dari posisi US$ 116,1 miliar pada 2012 menjadi US$ 114,2 miliar pada 2013. Pemerintah justru lebih banyak membayar cicilan dan pokok utang luar negeri sehingga jumlah utang berkurang cukup signifikan.

Posisi utang luar negeri swasta non-bank mengalami lonjakan yang cukup signifikan dari US$ 103,2 miliar menjadi US$ 116,4 miliar pada akhir 2013. Utang luar negeri bank sentral juga mengalami penurunan dari posisi US$ 9,9 miliar pada akhir 2012 turun menjadi US$ 9,2 miliar pada akhir 2013. Kenaikan justru terjadi pada kelompok swasta non-bank yang meningkat dari US$ 23 miliar pada 2012 naik menjadi US$ 24 miliar pada akhir 2013.

Kebutuhan pinjaman luar negeri oleh kelompok swasta telah mendorong rasio utang/PDB yang pada 2013 mencapai rasio 30,24%. Meski rasio ini masih tergolong aman, namun kita semua perlu mencermati peningkatan jumlah utang luar negeri swasta. Secara agregat, rasio utang/PDB Indonesia masih relatif rendah apabila dibandingkan dengan sejumlah negara di ASEAN dan emerging market lainnya. Misalnya Singapura pada 2012 memiliki utang/PDB mencapai 100%, Malaysia 52,5%n dan Thailand 41,6%. Sementara sejumlah negara emerging seperti Brazil memiliki rasio sebesar 68%, Afrika Selatan (38%) dan India sebesar 68 %.

Walau masih dalam rentang aman, peningkatan utang swasta perlu kita cermati bersama. Sebenarnya utang ketika digunakan untuk hal-hal yang bersifat produktif dan dalam jangkauan kemampuan membayar adalah hal yang wajar dilakukan. Sehingga pemanfaatan dan peruntukan utang luar negeri oleh swasta perlu digunakan untuk aktivitas yang memiliki potensi keuntungan yang memadai.

Ekspansi swasta di Indonesia sangatlah bisa dipahami karena memang selama ini Indonesia masih membutuhkan banyak investasi di sektor riil dan infrastruktur. Hal ini ditambah dengan upaya industrialisasi dan hilirisasi di sektor mineral dan pertambangan. Kedua hal ini mendorong swasta untuk melakukan ekspansi usaha dan konsekuensinya adalah kebutuhan dana investasi yang sangat besar.

Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus mengelola utang luar negeri Indonesia dalam batas yang aman sehingga tidak membahayakan fundamental ekonomi yang telah terbangun kuat selama ini. Hal yang akan terus dicermati adalah peningkatan debt service ratio (DSR) dari 34,95% pada 2012 naik menjadi 42,73% pada akhir 2013. Seiring dengan pelemahan pasar ekspor dunia sepanjang 2013 telah membuat DSR kita mengalami peningkatan. Pada 2014 ini seiring dengan membaiknya ekonomi sejumlah negara di Eropa, Jepang dan Amerika Serikat maka kita optimis ekspor nasional akan mengalami peningkatan. Dan membuat DSR kita akan tetap terjaga dalam rentan tetap aman sepanjang tahun ini.