Investasi 2014

Sektor Properti Masih Menjadi Unggulan

Sabtu, 22/02/2014

NERACA

Pasar properti hingga saat ini masih tumbuh pesat. Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) memperkirakan investasi sektor properti masih menjadi unggulan di tahun 2014 ini.

Ketua Umum DPP Apersi, Eddy Ganefo mengatakan, para investor tak perlu khawatir terjadi perlambatan di sektor properti karena kebijakan pengetatan moneter oleh Bank Indonesia (BI) seperti kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) dan Loan to Value (LTV).

"Tak perlu takut untuk berinvestasi perumahan, justru tahun ini sangat tepat untuk investasi di properti. Jangan takut juga akan terjadi perlambatan," tegasnya.

Lebih jauh Eddy mengakui bahwa harga rumah di Indonesia melejit setiap tahun sekitar 30%-35%. Angka ini merupakan level tertinggi di dunia. Bahkan beberapa daerah mencatatkan kenaikan harga rumah hingga 60%.

"Harga rumah tidak mungkin turun, dan kalaupun ada cuma sedikit. Tahun ini mungkin harga rumah mencapai 25% dan itupun sudah bagus sekali. Memang kenaikan harga kebanyakan untuk rumah mewah tapi berpengaruh juga ke rumah murah, karena harga tanah jadi lebih mahal," jelasnya.

Dia optimistis Indonesia tidak akan mengalami gelembung properti akibat meroketnya harga rumah setiap tahun. "Bubble properti masih jauh, mungkin tidak akan terjadi seperti di AS karena ada kebijakan LTV untuk menghadang bubble tapi jangan lama-lama (pemberlakuan LTV)," papar Eddy.

Sementara itu, Ekonom Senior Bank Standard Chartered Fauzi Ichsan menilai, utang Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Indonesia masih stabil hanya 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan Amerika Serikat (AS) katanya, utang KPR sampai 50%.

"Jadi posisi utang kita masih sangat rendah karena memang peran perbankan juga masih 32%. Sebelum krisis moneter, rasio KPR kita mencapai 50%, tapi China bisa di atas 150%. Jadi sangat berpotensi bubble, tapi kalau Indonesia tidak," tukas Fauzi.

Menjadi Solusi

Kondisi pasar global yang tengah bergejolak memberikan dampak pada pasar dalam negeri khususnya pasar modal Indonesia. Hal ini ditandai dengan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Lalu, investasi apa yang cocok di tengah kondisi pasar yang bergejolak tersebut? Berikut pemaparan Director of Business Development PT Manulife Asset Manajemen Indonesia Putut Endro Andanawarih.

"Kalau bicara investasi, kembali ke tingkat risiko dari masing-masing orang dan jangka waktu investasinya harus disesuaikan dengan profil risiko. Mana yang paling baik, itu kuncinya jangka waktunya berapa lama dan tingkat risiko yang berani diambil berapa lama," ujar Putut.

Dia mencontohkan, untuk investasi dengan jangka waktu 10 tahun, ada baiknya seseorang memilih produk investasi seperti saham. Dengan imbal hasil atau return instrumen saham yang rata-rata di atas 20% per tahun, seseorang menjadi salah satu investor untuk bisa melirik investasi jangka panjang ini.

"Tapi apakah 100% ditempatkan di saham, nggak kan? Jadi sarannya belinya bertahap. Sekarang beli saham 10% dari pendapatan, itu artinya kita dipaksa untuk belajar (investasi)," terangnya.

Namun, perlu diingat bahwa dalam berinvestasi harus paham betul bahwa imbal hasil yang tinggi pasti memiliki tingkat risiko yang tinggi. Untuk itu, perlu alternatif instrumen investasi lainnya untuk mengantisipasi gejolak pasar.