Kementerian PU-Pemkot Manado Perbaiki 19 Ruas Jalan

Pascabanjir Manado

Senin, 17/02/2014

NERACA

Manado - Kementerian Pekerjaan Umum bersama Pemerintah Kota Manado segera memperbaiki 19 ruas jalan, tujuh jembatan dan drainase yang rusak akibat bencana di Manado. "Kami akan memprioritaskan pembangunan jalan TNI di Tikala, jalan Panjaitan di Wenang, jalan Walanda Maramis di kawasan Kanaka, Daan Mogot di Tikala, Jalan Ari Lasut di Kombos, dan Karame, Ternate Tanjung dan Ternate Baru," kata Kepala Dinas PU Manado, Ferry Siwi di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (15/2) pekan lalu.

Untuk pembangunanya jalan-jalan tersebut, PU Manado akan menggunakan dana pemeliharaan infrastruktur yang dianggarkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Manado 2014, sebesar Rp3 miliar. Tetapi Ferry mengatakan, anggaran tersebut tidak cukup, karena itu PU Manado hanya memilih jalan yang penting digunakan, sehingga bisa dibangun secepatnya.

Sedangkan untuk jembatan, drainase, tanggul sungai dan talus sungai nantinya akan dibangun oleh Kementerian PU melalui balai jalan dan balai sungai, sebab itu adalah kewenangan pusat. "Untuk itu kami sudah mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk melakukan perbaikan jembatan, drainase, tanggul dan talud sungai sebab biaya yang akan digunakan cukup besar dan dana kita tidak akan cukup," terang dia.

Perbaikan infrastruktur tersebut diusulkan dilakukan secepatnya, karena itu berhubungan dengan hajat hidup orang banyak sehingga harus dikebut. Karena itu dia mengatakan, pihaknya sudah memasukan permohonan ke Kementerian PU agar pekerjaan perbaikan tersebut bisa dilaksanakan dalam tahun ini.

Berdasarkan pendataan yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara serta Pemerintah Kota Manado infrastruktur yang rusak akibat banjir bandang pada 15 Januari 2014 adalah 19 ruas jalan sepanjang 31,6 kilometer dengan kerugian Rp39,5 miliar, jembatan tujuh unit sekitar Rp40 miliar.

Kemudian saluran drainase sepanjang 3,8 kilometer dengan kerugian sekitar Rp4 miliar, tanggul sungai 1,6 kilomter dengan perkiraan kerugian sekitar Rp3,4 miliar, tanggul sungai Tondano 6,2 kilometer dan sario sepanjang satu kilometer.

Sistemik

Sementara itu, pakar hidrologi Sulawesi Utara Bartje Assa mengatakan, masalah banjir di Manado harus diatasi secara sistemik. "Penanggulangan banjir di Manado tidak dapat dilakukan secara parsial, sebab harus dilakukan dari hulu sampai ke hilir," katanya, kemarin. Dia mengatakan, untuk mengatasi masalah tersebut semua stakeholder harus duduk bersama mulai dari pemerintah dan swasta untuk membicarakan tentang mitigasi bencana banjir dan membuat rencana penanggulangan terpadu.

Bartje menyebutkan, salah penyebab terjadinya banjir di Manado sebenarnya bukan hanya satu, karena ada banyak hal yang menjadi penyebabnya, mulai dari pola hidup masyarakat hingga pengembang yang tidak bertanggung jawab dalam melaksanakan pembangunan.

Dia pun mengatakan, semua pengembang di kawasan boulevard Manado, tidak bertanggungjawab dalam melaksanakan pembangunan, saat penimbunan baru dilakukan. "Seharusnya para pengembang tersebut membuka outlet yakni saluran air yang sebelumnya ada, agar saat hujan turun bisa langsung kelaut tidak tertahan lama di daratan sehingga menyebabkan banjir," ungkapnya.

Melihat kondisinya sekarang, lanjut Bartje, meskipun ada saluran pembuangan yang disediakan, tetapi justru lebih kecil dan berbentuk "bottleneck" akibatnya begitu ada hujan sedikit saja, maka langsung menyebabkan terjadinya banjir di kawasan tersebut.

Menurut dia, jika memang mau ikut memecahkan masalah banjir di Manado, maka salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan membuat desain ulang untuk saluran air yang ada di kawasan tersebut.

"Salah satunya adalah dengan membuat saluran di antara gedung-gedung di kawasan tersebut, dengan lebar yang cukup sekitar tiga meter, tetapi tentu saja harus tertutup agar tidak mengganggu kenyamanan para pengusaha di kawasan tersebut," kata dia.

Bartje pun menambahkan, saluran tersebut harus dibuat sebanyak mungkin, sehingga cukup untuk mengalirkan air dari daratan kelaut, terutama saat terjadi hujan dalam intensitas yang cukup tinggi. [ant/ardi]