Investasi di Blok Mahakam, Total Siapkan US$2,5 Miliar

Kamis, 13/02/2014

NERACA

Jakarta - PT Total E&P Indonesie menyiapkan dana US$2,5 miliar untuk investasi di Blok Mahakam. President Human Resources PT Total E&P Indonesie Arividya Novianto mengatakan dana tersebut dipersiapkan bersama dengan Inpex Corporation. “Untuk Blok Mahakam, kami menyiapkan dana sekitar US$2,5 miliar. Dana tersebut dipersiapkan dengan Inpex Corporation. Sementara untuk eksplorasi, disiapkan dana US$100 juta pertahun,” ungkap Novianto saat ditemui di Jakarta, Rabu (12/2).

Tak hanya memanfaatkan Blok Mahakam, Total juga telah menyiapkan lapangan eksplorasi di Bengkulu yaitu Blok Mentawai. Sebelumnya, Total juga melakukan di Blok Kepala Burung, akan tetapi lantaran tidak ditemukan cadangan migas maka Blok Burung direncanakan akan ditutup. “Blok Kepala Burung, tahun lalu sudah eksplorasi tapi hasilnya tidak menggembirakan, jadi tahun ini akan di review. Sementara kita juga fokus di Blok Mentawai,” imbuhnya.

Ia menjelaskan untuk eksplorasi di Blok Mentawai, tantangannya tidak mudah. Pasalnya Blok Mentawai yang berada di antara Kebupaten Muko-Muko dan Bengkulu Utara adalah daerah rawan gempa sehingga diperlukan kehati-hatian dalam mengebor. “Daerah sana adalah daerah rawan gempa sehingga tidak mudah untuk mengebor,” ujarnya.

Novianto melanjutkan bahwa dana yang dikeluarkan untuk eksplorasi di Blok Mentawai sekitar US$40 juta. “Untuk mengebor disana cukup sulit, karena harus mengebor di laut dengan kedalaman 1.000 meter sehingga tidak gampang. Terlebih harus menggunakan peralatan-peralatan yang tepat. Untuk satu sumur dengan nama Rendang 1x, budgetnya sekitar US$40 juta. Mudah-mudahan kita bisa sukses,” ujarnya.

Pada 2014, Novianto mengaku bahwa Total E&P Indonesie akan tetap mempertahankan produksi minyak dan gas. “Tahun lalu kita produksi 1,7 billion cubic feed (bcf) sementara di tahun ini planning kita juga seperti itu. Mudah-mudahan itu terealisasi karena gangguannya tidak mudah. Seperti pada 2012 kita menghadapi masalah pasir sehingga produksi gas tidak lancar. Namun pada awal tahun lalu, telah bisa diatasi mudah-mudahan tahun ini tidak ada hal-hal yang mengagetkan lagi,” ucapnya.

Sementara itu, terkait pimpinan baru yang menggantikan Presiden Director and GM Total E&P Indonesie (TEPI), Elisabeth Proust, Arivida mengatakan tidak akan ada kebijakan baru. “Kami menjunjung tinggi health environment, compliance, good corporate governance. Sumur tua tentunya kita bekerja keras bagaimana biaya itu tidak naik. Karena semakin tua lapangan butuh sumur makin banyak dan biaya,” tukasnya.

Nasionalisasi Blok Mahakam

Sesuai dengan isi kontrak kerja sama, pengelolaan Blok Mahakam yang dikelola oleh Total dan Inpex Corporation akan berakhir pada 2017. Direktur Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara menilai blok tersebut harus dinasionalisasikan dan diberikan kepada Pertamina. Namun, hal itu tidak mudah. Pasalnya, menurut dia, pemerintah saat ini pada prinsipnya ingin memperpanjang kontrak pengelolaan blok Mahakam dengan Total & Inpex.

Alasannya antara lain, alasan yang menyebutkan bahwa Pertamina secara SDM, teknis dan keuangan dinilai tidak mampu mengelola Mahakam, Pertamina telah mengusai 47 persen blok migas nasional sehingga tidak perlu menguasai Mahakam, investor asing akan keluar dari Indonesia jika Pertamina kelola Mahakam, dan banyak alasan lain.

Bahkan pejabat SKK Migas, menyinggung soal cadangan gas tahun 2017 hanya tinggal 2 TCF (trillion Cubic Feet), sehingga tidak besar manfaatnya bila dikelola Pertamina.

Terkait dengan berbagai alasan tersebut, Marwan menyebutkan, semua alasan itu adalah tidak benar. Menurutnya, dalam hal kesiapan, Pertamina sangat siap mengelola blok Mahakam. Demikian juga berdasarkan kajian IRESS, kandungan gas di blok Mahakam masih mencapai 8 TCF.

"Dengan demikian, kita bisa menduga bahwa motivasi perpanjangan KKS dengan kontrak asing lebih dilatarbelakangi alasan lain. Bisa karena perburuan rente, dukungan politik, KKN dan alasan lain yang sifatnya subyektif," katanya.

Dia menegaskan, potensi keuntungan yang diperoleh negara bila blok Mahakam dikelola oleh Pertamina akan sangat besar. Menurutnya, selama 10 tahun terakhir Total dan Inpex mengelola blok tersebut, keuntungan bersih yang didapat kedua perusahaan itu dari Blok Mahakam, masing-masing mencapai 2 juta dolar per atau sekitar US$ 1,4 miliar per tahun.

Dia menyebutkan, untuk biaya operasi, selama 10 tahun terakhir rata-rata masing-masing perusahaan asing tersebut mengeluarkan biasa 250 juta dolar AS. Namun karena blok tersebut sudah berproduksi, maka setiap bulan biaya tersebut dikembalikan lagi sebagai cost recovery. "Jadi tidak benar operator Blok Mahakam harus mampu menyediakan miliaran dolar AS," katanya.

Untuk itu, Marwan menyebutkan blok Mahakam saat ini sebenarnya sedang dalam masa panen raya. Panen raya tersebut, sudah berlangsung sejak tahun 2004 dan akan berlangsung hingga 2020. Setelah 2020, baru diperkirakan produksi gas dan minyak di blok itu menurun. "Karena itu, tahun 2017 Pertamina sebagai BUMN satu-satunya milik pemerintah, seharusnya bisa mengelola Mahakam," katanya.