Harga Rumah di Daerah Banjir Bakal Terpukul - Pluit dan Kelapa Gading Pengecualian

NERACA

Jakarta - Asosiasi Real Estate Broker Indonesia DPD DKI Jakarta menilai harga rumah di wilayah banjir akan mengalami keterpurukan. Pasalnya, salah satu indikator masyarakat dalam membeli rumah adalah kualitas lingkungan. “Banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah di Jakarta ketika musim hujan tiba sangat berpotensi menurunkan harga (rumah). Sebab, kawasan perumahan elit juga ikut tergenang. Melihat kondisi ini saya memprediksi harga properti di wilayah banjir akan lebih rendah dari wilayah lain,” ungkap Sektretaris Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia DPD DKI Jakarta, Jimmy Handoko, di Jakarta, Selasa (11/2).

Untuk itu, dirinya mengimbau kepada para pelaku usaha dan pengembang perumahan agar bisa mengalisa lebih matang dalam menentukan wilayah pembangunan. Menurut Jimmy, dalam membangun perumahan dan apartemen hal utama yang harus dilakukan yaitu menganalisa lokasi di sekitar perencanaan pembangunan itu sendiri. Dia pun mengakui perumahan dan apartemen paling banyak diminati saat ini di kawasan Jakarta Utara.

“Di wilayah Jakarta Utara permintaan perumahan elit seperti daerah Pluit dan Kelapa Gading tidak berpengariuh terhadap kondisi tersebut (banjir yang menyebabkan harga rumah turun). Meskipun perlu diakui di kedua wilayah itu juga sebagai salah satu daerah rawan banjir. Tapi faktanya, kedua daerah tersebut dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan penjualan,” tutur Jimmy.

Namun dia berkilah bahwa tidak berpengaruhnya Pluit dan Kelapa Gading sebagai tujuan investasi properti lebih disebabkan karena keterpaksaan. Karena menurut Jimmy, tidak ada wilayah yang tidak banjir di Jakarta. Hal tersebut juga menimbulkan stigma di tengah masyarakat yang menilai memilik rumah di Jakarta memang pasti terkena banjir.

“Sebenarnya, kedua wilayah tersebut tetap laku karena investor tidak punya pilihan lain untuk membeli properti. Bisa jadi di luar Jakarta masih banyak. Tapi ketersediaan akses seperti jalan yang menghubungkan ke Jakarta juga menjadi perhitungan yang ketat,” tambahnya.

Jimmy pun menekankan agar para pelaku pasar tidak menawarkan hal yang tidak masuk akal untuk menjual properti. Pasalnya, masyarakat sekarang sudah lebih cerdas dalam membelanjakan uangnya. Jika pihak pemasaran mengecewakan investor maka yang terjadi penjualan properti bisa lebih buruk dari yang diperkirakan.

“Dalam menjual produk properti jangan membohongi konsumen dengan menawarkan gimik-gimik menarik. Sejauh ini memang tingkat gimmick-gimmick (rayuan) marketing yang ditawarkan pengembang masih tahap wajar. Tapi jangan aneh seperti beli satu dapat satu," tutupnya. [lulus]

Related posts