Mengunjungi Desa Kete Kesu

Desa Adat Toraja Yang Terus Terjaga

Sabtu, 15/02/2014

Mengunjungi kota Sulawesi Selatan memang belum lengkap bila belum mengunjungi tempat yang satu ini. Tempat yang penuh dengan sejarah dan perkembangan kebudayaan di Indonesia. Tempat itu ialah Tana Toraja, mengunjungi Tana Toraja tidaklah lengkap apabila kita belum menginjakkan kaki ke Desa Kete Kesu. Untuk menuju tempat ini kita hanya perlu melanjutkan perjalanan sekira 5 kilometer dari pusatKota Rantepao atau 14 kilometer dari sebelah utara Kota Makale. Kawasan Kete Kesu tepatnya berada di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara,Sulawesi Selatan.

Kete Kesu adalah tempat yang tepat bagi kita untuk menyaksikan potret lengkap kehidupan masyarakat Tana Toraja yang masih menjunjung tinggi adat dan istiadat warisan leluhur mereka. Wisata alam, budaya, dan sejarah adalah beberapa suguhan yang dapat kita temukan di tempat ini. Kete Kesu juga terkenal dengan seni ukiran bambu, seni pahat, dan kerajinan tradisionalnya. Selain itu, daya tarik lain dari Kete Kesu adalah terdapatnyatongkonanasli dan hanya ada di sini. Tongkonan ini memiliki pintu yang dibuka ke atas.

Disebut-sebut bahwa Kete Kesu adalah potret kebudayaan megalitik yang paling lengkap di Tana Toraja. Keindahan alamnya dikepung pegunungan, hamparan sawah yang luas terbentang, serta barisan rumah adat yang usianya mencapai lebih dari 300 tahun. Setiap rumah adat di sini berhadap-hadapan dengan lumbung padi yang berukuran lebih kecil. Ada juga makam-makam tua yang menyimpan pesona mistis tersendiri, menilik berbagai kerajinan pahatan yang unik dan rumit tapi indah. Nikmati juga serangkaian ritual dan upacara adat yang masih dipertahankan sebagai pesona wisata di Kete Kesu.

Kete Kesu telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya dan merupakan pusat dari berbagai perayaan atau upacara adat Toraja. Beberapa upacara tersebut di antaranya adalah pemakaman secara adat yang dirayakan secara besar-besaran dan meriah (Rambu Solo), upacara memasuki rumah adat baru (Rambu Tuka), serta berbagai ritual atau atraksi yang menyertainya. Untuk memasuki kawasan cagar budaya Kete Kesu, kita hanya perlu membayar biaya sebesar Rp5.000 (wisatawan lokal) dan Rp10.000 (wisatawan asing). Harga yang sangat murah untuk sebuah perjalanan wisata lintas budaya dan masa.

Pemandangan alam yang indah, udara yang sejuk, sebab dikepung tatar pegunungan adalah daya tarik yang lain yang ditawarkan Kete Kesu. Bagi kita yang ingin merasakan pengalaman wisata budaya secara lengkap, bulan Juni hingga Desember adalah saat yang tepat mengunjungi Kete Kesu. Pada bulan-bulan tersebut, biasanya diadakan upacara Rambu Solo, yaitu upacara pemakaman adat yang meriah dan merupakan salah satu upacara paling penting bagi masyarakat Toraja.

Bentuk tongkonan sangat khas mengingat bangunan ini memiliki atap yang besar dan tinggi menjulang, berbentuk seperti tanduk kerbau atau perahu. Atap-atapnya terbuat dari bambu belah yang disusun bertumpuk mengadopsi konsep lego. Akan tetapi, beberapa tongkonan juga beratapkan seng. Ukiran indah khas Toraja menghiasi dinding tongkonan berpadu bersama tumpukan tanduk kerbau yang menjadi penanda status pemilik rumah.

Hamparan sawah dan langit biru menjadi latar yang sempurna bagi tongkonan di mana konon ada yang sudah berusia ratusan tahun. Beberapa tongkonan yang berusia tua bahkan sudah ditutupi lumut dan tanaman liar. Tumbuhan atau lumut tersebut tidak dihilangkan karena dianggap dapat membantu meredam rembesan air hujan sehingga bisa mencegah kebocoran.

Salah satu tongkonan di tempa ini sudah dialihfungsikan menjadi museum. Di dalamnya kita dapat melihat-lihat benda adat kuno berusia puluhan hingga ratusan tahun. Tak jauh di belakang tongkonan, terdapat area pemakaman di gua-gua yang sangat terkenal itu. Tulang-tulang dan tengkorak yang berserakan akan dengan mudah kita temukan pada gua-gua yang dipahat di dinding batu kapur (karst). Gua-gua tersebut dipahat khusus oleh ahli pembuat gua, menghabiskan biaya belasan juta dan waktu berbulan-bulan.