Mei, Pemerintah Umumkan Kenaikan TDL - Rumah Tangga Ikut Terkena

NERACA

Jakarta - Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, mengaku hanya dapat melakukan penghematan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2014 sebesar Rp8 triliun melalui pemangkasan subsidi energi. Hal ini disebabkan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) baru terlaksana pada Mei 2014 mendatang.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani menuturkan, Pemerintah sebenarnya bisa melakukan penghematan APBN hingga Rp11 triliun. Namun faktanya hal tersebut tidak terlaksana lantaran terbentur masalah.

“Pemerintah bisa berhemat sampai Rp11 triliun jika saja kenaikan TDL terlaksana bulan Januari lalu. Tapi sayangnya diundur ke bulan Mei karena pembahasan kenaikan (TDL) antara Kementerian ESDM dengan Komisi VII DPR juga mengalami pengunduran. Jadi, penghematannya hanya Rp8 triliun,” kata Askolani, dalam Diskusi Wartawan Forkem di Jakarta, Jumat (7/2) pekan lalu.

Lebih jauh dirinya mengatakan, alasan pengunduran kenaikan TDL ini karena belum siapnya pelaku industri di dalam negeri pada Januari kemarin. Sehingga diperlukan jeda waktu bagi pelaku industri untuk membuat perhitungan serta membuat persiapan menjelang kenaikan TDL tersebut.

“Kita juga mempertimbangkan kesiapan konsumsi rumah tangga dalam penggunaan energi listrik. Sebab, angka Rp8 triliun ini sebetulnya total dari seluruh subsidi energi listrik. Jadi, kenaikan TDL ini tidak hanya dikenakan untuk industri namun juga konsumsi rumah tangga ikut terkena dampaknya," terang Askolani.

Akan tetapi, dirinya mengklaim kenaikan TDL merupakan bentuk komitmen Pemerintah dalam menekan anggaran untuk subsidi energi. Pasalnya, Pemerintah mengusulkan subsidi listrik pada 2014 sebesar Rp87,2 triliun. Namun, dalam Rapat Paripurna DPR disepakati jika subsidi listrik hanya sebesar Rp71,36 triliun, atau turun sebesar Rp15,84 trilun.

Bansos berlanjut

Untuk mengantisipasi kenaikan TDL, Askolani mengaku kebijakan bantuan sosial (bansos) masih terus berlanjut. Meskipun banyak tekanan dari pengamat dan masyarakat yang menilai tidak efektif, namun hal itu tidak mengendurkan niat Pemerintah dalam menekan angka kemiskinan dan pengangguran.

“Dana bansos masih dilanjutkan walaupun kita juga sadar hal ini terus menjadi perhatian publik. Sebab, seluruh Kementerian dan Lembaga (K/L) juga terus mengimbau kepada kita (Kemenkeu) bahwa mereka membutuhkan dana bansos. Misalnya sektor perikanan, di mana para nelayan kerap mengalami masalah kesejahteraan yang tentunya harus dibantu melalui dana bansos ini,” klaim dia.

Sedangkan mengenai efektifitas, lagi-lagi Askolani sendiri mengaku pihaknya belum melakukan review dengan penuh. “Kalau bicara efektif kita yakin pasti efektif. Kalau bicara tidak efektif kita belum tahu di mana letak ketidakefektifannya. Tapi memang, kita masih harus melalukan review dengan sungguh-sungguh,” jelas Askolani menutup pembicaraan. [lulus]

BERITA TERKAIT

Kemenkeu Kejar Utang 22 Obligor BLBI - GLOBAL BOND JAGA ARUS KAS PEMERINTAH

Jakarta-Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kemenkeu terus mengejar 22 obligor penerima Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang hingga kini belum…

Holding Migas jadi Tujuan Berikutnya Pemerintah

      NERACA   Jakarta - Menteri BUMN Rini Soemarno menargetkan pembentukan Holding BUMN Migas terwujud pada triwulan-I tahun…

Pemerintah Pastikan Pajak E-Commerce Tak Rugikan WP

  NERACA   Jakarta - Pemerintah memastikan pengenaan pajak terhadap transaksi elektronik (e-commerce) nantinya tidak akan merugikan Wajib Pajak (WP)…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

PII Dorong Pemda Manfaatkan Skema KPBU

  NERACA   Jakarta - PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) mendorong agar Pemerintah Daerah (Pemda) memanfaatkan skema Kerjasama Pemerintah dan…

IIF Dapat Kucuran Rp1 triliun dari JICA - Untuk Bangun Infrastruktur

    NERACA   Jakarta - PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menandatangani perjanjian pinjaman sebesar ¥ 8.000.000.000 atau sekitar Rp…

Pasar Tekstil Tanah Abang Melesu

  NERACA   Jakarta - Penjualan tekstil di Pasar Tanah Abang masih lesu, sehingga beberapa pedagang pakaian jadi pun terpaksa…