Industri Manufaktur Indonesia

Rabu, 05/02/2014

Oleh: Eisha M Rachbini

Peneliti Indef

Industri manufaktur Indonesia pernah mengalami masa kejayaan. Di pertengahan tahun 1980-an Pemerintah Indonesia mengalami penurunan pertumbuhan dan ekspor akibat turunnya harga minyak bumi dunia, setelah di awal periode tersebut mengalami "oil bonanza". Kala itu, Pemerintah mengalihkan kebijakan perdagangan dari inward-oriented menjadi export-oriented policies.

Kebijakan tersebut ditujukan untuk menggantikan peran ekspor minyak dan gas dan beralih ke ekspor non-minyak dan gas. Kebijakan tersebut berhasil menggiring kenaikan ekspor non-minyak dan gas di akhir tahun 1980-an. Namun, sektor manufakturlah yang mendominasi, yaitu lebih dari 50% dari total ekspor, selama periode 1990-1996.

Sektor manufaktur Indonesia sempat menjadi primadona di kawasan Asia bersama Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia. Pertumbuhan riil sektor manufaktur Indonesia mencapai dua digit pada periode 1990-an. Pencapaian ini didukung oleh karakteristik industri indonesia yang memiliki sumberdaya manusia yang murah, dan sumberdaya alam yang melimpah.

Namun, krisis ekonomi Asia pada akhir 1990-an meluluhlantahkan sektor industri Indonesia. Hal ini menyebabkan pertumbuhan sektor manufaktur tidak pernah kembali ke level sebelum krisis, bahkan tertatih-tatih untuk dapat mencetak pertumbuhan positif.

Dengan kebijakan industri yang tidak terarah, gejala deindustrialisasi sudah mulai tercium oleh para pengamat ekonomi, terlihat dari indikator seperti pertumbuhan yang rendah, realisasi kapasitas produksi yang jauh lebih rendah dibanding dengan masa sebelum krisis, penurunan jumlah unit usaha, dan indeks produksi yang kian menurun.

Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF), permasalahan daya saing industri manufaktur Indonesia yang menurun dapat dilihat dari bebagai faktor seperti kondisi makro ekonomi yang kurang kondusif, kualitas kelembagaan publik yang buruk, dan arah kebijakan pengembagan teknologi yang minim. Dari segi mikro, rendahnya efisiensi operasional usaha dan iklim usaha yang buruk menjadi faktor penentu.

Pasca krisis global 2008, aliran dana dari negara-negara maju mengalir deras karena melihat prospek Indonesia sebagai tujuan investasi serta peluang pasarnya yang besar. Pertumbuhan kelas menengah (middle class) yang luar biasa menjadi faktor penting menentukan besarnya pasar domestik yang kuat. Maka dari itu, peluang tersebut harus diraih agar jangan sampai industri manufaktur Indonesia terperangkap ke dalam middle income trap.

Indonesia dituntut harus mengejar ketertinggalan dari China, bahkan Malaysia, dan Thailand yang sudah mampu produksi barang industri yang berbasis teknologi. Lalu, agar dapat bersaing dengan Vietnam, Kamboja, Bangladesh, dari sisi keunggulan dan daya saing tenaga kerja, Indonesia harus memperbaiki sumberdaya manusia dari segi kualitas, yaitu meningkatkan banyaknya skilled labor.

Memanfaatkan momentum keterbukaan perdagangan internasional untuk memperluas akses pasar internasional. Last but not least, menuntaskan masalah klasik iklim usaha, seperti kualitas lembaga publik dan birokrasi, masalah transportasi serta logistik penyebab high cost economy.