Inflasi Januari Lebih Tinggi dari Konsensus

Selasa, 04/02/2014

NERACA

Jakarta - Ekonom dari Asia Pacific Economic & Market Analysis Citi Research Helmi Arman mengatakan laju inflasi pada Januari 2014 sebesar 1,07 persen (mom) sedikit lebih tinggi di atas konsensus saat ini yakni di bawah satu persen.

"Inflasi Januari tercatat sebesar 1,07 persen mom ( 8,22 persen yoy ), sedikit lebih tinggi dibandingkan konsensus inflasi," ujar Helmi di Jakarta, Senin (3/2).

Helmi menuturkan, Januari yang merupakan musim penghujan dan mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah di Tanah Air, membuat distribusi barang terganggu sehingga menjadikan sejumlah bahan makanan harganya naik.

"Inflasi Januari 2014 secara bulan ke bulan (month on month) lebih tinggi dibandingkan inflasi Januari 2013, namun secara tahun ke tahun (yoy) masih tercatat rendah karena adanya perubahan tahun dasar untuk penghitungan laju inflasi," kata Helmi.

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengubah Indeks Harga Konsumen (IHK) tahun dasar untuk penghitungan laju inflasi, dari berdasarkan survei biaya hidup tahun 2007 menjadi tahun 2012, dengan mencakup beberapa perubahan.

Kepala BPS Suryamin mengatakan perubahan penghitungan laju inflasi tersebut termasuk adanya penambahan cakupan kota, paket komoditas dan diagram timbang, serta dimulai sejak Januari 2014.

"Dalam tahun dasar baru 2012, sejumlah item yang telah menyebabkan inflasi tinggi (yoy) (misalnya tarif bensin dan tarif angkutan umum ) terlihat bahwa bobot mereka berkurang," ujar Helmi.

Secara terpisah, lanjut Helmi, inflasi inti Januari 2014 tercatat sebesar 4,53 persen (yoy), namun angka tersebut tidak dapat dibandingkan dengan angka 4,98 persen pada Desember 2013 , karena ada perubahan yang nyata pada komposisi paket komoditas inti. [ardi]