Maipark Bertransformasi Menjadi Reasuransi

NERACA

Jakarta - Perusahaan jasa asuransi khusus bencana alam, PT Asuransi Maipark Indonesia, akan berubah menjadi perusahaan reasuransi pada awal Februari 2014 mendatang. Sementara itu kesanggupan mengganti klaim akibat bencana alam sebesar Rp65 triliun. Meski begitu, Maipark juga tetap menjadi nasabah reasuransi bank asing hingga Rp2,5 triliun selama tahun ini.

“Mudah-mudahan pada awal bulan Februari tahun 2014 ini Maipark akan segera ganti baju jadi perusahaan reasuransi. RUPS nya sudah dilaksanakan dan sebetulnya sudah sah di MK (Mahkamah Konstitusi) pada akhir 2013 kemarin. Tapi ternyata hangus dan harus RUPS lagi,” kata Direktur Utama PT Asuransi Maipark Indonesia, Frans Y Sahusilawane di Jakarta, Senin (27/1).

Meski berubah menjadi perusahaan reasuransi, Frans mengatakan pihaknya tetap fokus menjual produk khusus mengcover dampak kerugian dari bencana alam. Pasalnya selama ini Maipark diklaim sebagai benteng terakhir Indonesia untuk proteksi bencana alam. Lagipula Maipark lebih memahami proteksi masalah tersebut ketimbang yang lainnya.

“Tetap kita melayani proteksi khusus yaitu bencana alam. Sebab kita sudah terlanjur menguasai masalah itu. Lagipula kita memang benteng terakhir masalah bencana di Indonesia,” tutur Frans.

Kemudian Frans mengaku perusahaannya sudah memiliki dana pertanggungan klaim reasuransi sebesar Rp65 triliun. Sejumlah dana itu dianggap aman untuk membayar klaim reasuransi di Indonesia. Sepanjang bencana itu tidak merusak aset nasabah hingga 17%.

“Dana yang kita punya untuk klaim nasabah sangat aman selama kerusakan aset total nasabah di suatu wilayah tidak lebih dari 17%. Kalau lebih dari itu mungkin jumlah anggaran sebesar Rp65 triliun tidak cukup. Tapi tidak mungkin kan sekalinya ada banjir di Jakarta atau gempa bumi di Yogyakarta dapat merusak 17% dari aset seluruh nasabah di kota itu. Paling-paling tidak lebih dari 10%,” terang Frans.

Meski begitu Frans mengaku sebagai perusahaan reasuransi Maipark juga membeli polish pada perusahaan reasuransi lainnya. Sementara ini Maipark mempercayakan proteksinya pada dua perusahaan asing. Nilainya polishnya mencapai Rp2,5 trilun pada tahun 2014 ini.

“Kita beli proteksi juga dari Munich Reasurance dan Swiss Reasurance dengan total polish Rp2,5 triliun. Hal ini dapat dipastikan membuat Maipark menjadi perusahaan dengan reasuransi terbesar di Indonesia. Toh, pada tahun 2013 saja kita belanja reassurance sudah mencapai US$85 juta,” ungkap Frans.

Klaim belum tuntas

Lanjut, Frans mengaku pihaknya belum menuntaskan pembayaran klaim asuransi pada gempa bumi yang melanda wilayah Padang pada tahun 2009 lalu. Ia menilai larutanya pembayaran disebabkan masih ada beberapa kesepakatan mengenai nilai klaim yang belum disetujui dengan nasabah. Sehingga proses negosiasinya berjalan alot.

“Penentuan harga pada suatu barang yang kecil-kecil itu kan sulit apalagi harus disesuaikan antara harga lama dan harga sekarang. Namun secara keseluruhan sebetulnya sudah terbayar 90%. Paling-paling sisa klaim yang belum kita bayar hanya antara Rp1 miliar hingga Rp2 miliar,” terang Frans.

Untuk itu Frans berharap pada tahun 2014 ini sejumlah klaim yang belum terbayar itu dapat segera tuntas. “Dollar memang fluktuatif tapi kalau tidak salah kita sudah bayar klaim sejak tahun 2009 hingga sekarang sebesar Rp200 miliar. Semoga sisanya cepat selesai tahun ini,” pungkasnya. [lulus]

Related posts