IHSG Awal Pekan Masih Dalam Tekanan

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jum’at akhir pekan kemarin, ditutup melemah. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 58,699 poin (1,31%) ke level 4.437,343. Sementara Indeks LQ45 anjlok 13,595 poin (1,79%) ke level 747,038. Aksi ambil untung yang didominasi investor asing menjadi pemicunya indeks BEI ditutup melemah. Tercatat dana asing sekitar Rp 300 miliar keluar dari lantai bursa akhir pekan kemarin.

Menurut analis Panin Sekuritas, Purwoko, IHSG ditutup melemah pada akhir pekan setelah data manufaktur China yang mengalami kontraksi dan beberapa data ekonomi AS bervariasi, “Data klaim tunjangan pengangguran AS pekan lalu naik, sedangkan penjualan rumah sekunder Desember lebih rendah dari consensus,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dari dalam negeri, lanjut dia, "yield" surat utang negara (SUN) mulai naik, SUN dengan tenor 10 tahun sudah di atas 8,5% dan lima tahun di atas delapan persen. Hal itu dikarenakan ekspektasi inflasi Januari tinggi menyusul distribusi bahan pangan yang diperkirakan terganggu.

Sementara analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, pelemahan bursa saham regional dan rupiah memicu aksi jual saham-saham di BEI sehingga IHSG terkoreksi,”Secara teknikal, kenaikan IHSG sulit berlanjut di atas level 4.554 poin, bila penurunan masih terjadi, rekomen untuk melakukan transaksi jangka pendek dan menunggu penguatan kembali,”ujarnya.

Berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan diproyeksikan bakal bergerak konservatif dengan kecenderungan melemah. Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 291,69 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 189.697 kali pada volume 2,83 miliar lembar saham senilai Rp 4,681 triliun. Sebanyak 90 saham naik, sisanya 197 saham turun, dan 74 saham stagnan.

Data ekonomi China memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan bursa regional, tapi bursanya masih bisa menguat. Malah bursa di Asia lainnya yang masih kena koreksi. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 2.775 ke Rp 67.750, Inti Bangun (IBST) naik Rp 300 ke Rp 5.400, Pioneerindo (PTSP) naik Rp 250 ke Rp 4.250, dan Mitra Adiperkasa (MAPI) naik Rp 225 ke Rp 5.700.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.375 ke Rp 42.150, United Tractor (UNTR) turun Rp 1.250 ke Rp 19.700, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 675 ke Rp 26.875, dan Unilever (UNVR) turun Rp 500 ke Rp 28.075.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI masih ditutup melemah 41,316 poin (0,92%) ke level 4.454,726. Sementara Indeks LQ45 jatuh 9,476 poin (1,25%) ke level 751,157. Tak semua indeks sektoral terkena koreksi, indeks sektor agrikultur masih bisa menguat. Namun aksi ambil untung yang cukup tinggi membuat indeks sulit bergerak ke atas.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 108.278 kali pada volume 1,619 miliar lembar saham senilai Rp 2,553 triliun. Sebanyak 69 saham naik, sisanya 174 saham turun, dan 67 saham stagnan. Data ekonomi China memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan bursa regional, tapi bursanya masih bisa menguat. Malah bursa di Asia lainnya yang masih kena koreksi sampai sesi pertama.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Mayora (MYOR) naik Rp 625 ke Rp 27.500, Indocement (INTP) naik Rp 450 ke Rp 21.725, Pioneerindo (PTSP) naik Rp 250 ke Rp 4.250, dan Mitra Adiperkasa (MAPI) naik Rp 225 ke Rp 5.700. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.325 ke Rp 42.200, United Tractor (UNTR) turun Rp 850 ke Rp 20.100, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 650 ke Rp 26.900, Unilever (UNVR) turun Rp 625 ke Rp 27.950.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah 29,35 poin atau 0,65% menjadi 4.466,69 , sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 7,58 poin (1,00%) ke level 753,06 menyusul koreksi bursa saham di kawasan Asia.

Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah mengatakan, kenaikan indeks BEI tertahan seiring dengan koreksi di bursa saham kawasan Asia setelah data manufaktur AS dan China yang tidak sesuai ekspektasi,”Manufaktur China kemungkinan akan menunjukkan kontraksi untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, indeks manufaktur AS meski masih berekspansi namun menurun dari bulan sebelumnya," katanya.

Meski demikian, lanjut dia, koreksi yang terjadi pada indeks global bersifat temporer, untuk bergerak kembali positif masih terbuka seiring ekspektasi membaiknya kondisi perekonomian negara-negara maju serta pengaruhnya pertumbuhan bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Analis Samuel Sekuritas, Yualdo Yudoprawiro menambahkan beberapa sektor saham yang kemarin menguat signifikan berpeluang mengalami ambil untung (profit taking) seperti saham-saham perkebunan dan perbankan. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 119,50 poin (0,53%) ke level 22.614,40, indeks Nikkei turun 246,78 poin (1,57%) ke level 15.449,62 dan Straits Times melemah 13,51 poin (0,43%) ke posisi 3.086,47. (bani)

Related posts