Parah, Infrastruktur Jalan

Jalur Pantura Jawa yang merupakan urat nadi utama transportasi darat sekarang tidak lepas dari terjangan banjir besar. Yang mengagetkan, jalan yang baru saja dibangun ternyata sangat rapuh terhadap air dan lubang pun menjadi penghias sekaligus sangat membahayakan pengguna jalan, walau kerusakan jalan antara lan bisa disebabkan angkutan dengan beban (tonase) berlebih.

Namun mestinya pemerintah sudah memperhitungkan sehingga tidak main-main dalam menentukan besaran anggaran pembangunan. Lantas siapa yang salah, toh secara logika teknologi pembangunan sarana transportasi jauh lebih sempurna dibanding zaman Belanda dulu. Namun, sehebat apa pun teknologi jika diterapkan dengan manajemen yang penuh korup dan mark-up tentu menghasilkan produk di bawah standar.

Salah satu akibat buruk dari banjir dan genangan adalah kerusakan jalan. Lubang-lubang di jalan semakin bertambah setelah musim banjir dan musim genangan berlalu, menyisakan pekerjaan yang sepertinya menjadi satu agenda proyek rutin tahunan. Kita percaya pemerintah, baik provinsi maupun pemda tingkat II, akan gesit menambal jalan-jalan berlubang setelah musim hujan berlalu.

Kerusakan jalan ibarat ranjau yang berbahaya bagi pemakai jalan. Cukup sering terjadi kecelakaan, dari yang ringan hingga jatuh korban tewas, akibat kendaraan yang hilang kendali karena terperosok lubang. Ranjau jalan memang tidak mengenal kelas jalan.

Bahkan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengakui dampak banjir yang melanda kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) belakangan ini telah berdampak pada kerusakan jalan nasional. Tercatat ada 3.338 lubang yang berada di jalan Pantura dua arah dari Jakarta-Semarang.

"Panjang Pantura 1.300 Km yang rusak 300 Km. Jalan Pantura yang mengalami kerusakan dari Jakarta ke Semarang berjumlah 1.038 lubang, sementara dari Semarang ke Jakarta terdapat sekitar 2.300 lubang," ujar Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Achmad Ghani Ghazali di Jakarta, Rabu (22/1).

Selain jalan umum, menurut Ghani, bertambahnya jumlah lubang di jalan tol juga sangat tinggi. Sesuai ketentuan, standar pelayanan minimum jalan tol, jalan yang berlubang harus sudah ditutup dalam waktu 2 x 24 jam. Kita lihat jalan tol Cipularang arah Bandung-Jakarta misalnya, antara km 113 hingga km 95 banyak lubang yang dapat membahayakan pengemudi, jika tidak segera ditutup oleh pihak pengelola (Jasa Marga).

Sangat penting diperhatikan pemerintah dan instansi yang terkait dengan penggunaan jalan, bahwa kualitas pekerjaan dan perawatan prima harus menjadi bagian dari prosedur baku proyek infrastruktur jalan. Kebanyakan penambalan lubang-lubang jalan yang hanya bersifat sementara. Dalam beberapa bulan kemudian, tambalan itu akan mengelupas dan “ranjau” jalan kembali bertebaran di Pantura.

Banjir yang merendam sebagian wilayah Indonesia. Selain Jakarta dan Bekasi, Saat ini banjir telah memutuskan jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat. Sejak Minggu (19/1), arus kendaran dari Jakarta ke Jawa Tengah dan Jawa Timur terhenti demikian pula sebaliknya. Akibatnya, pasokan kebutuhan pokok untuk penduduk Jakarta tersendat.

Yang lebih parah lagi, barang-barang yang akan diekspor melalui pelabuhan Tanjung Priok terganggu karena jalan-jalan tak bisa lagi dilalui kendaraan. Sebaliknya, bahan baku produksi yang diimpor terpaksa tertahan di pelabuhan Tanjung Priok karena jumlah truk yang beroperasi makin minim sejak banjir melanda Jakarta.

Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang memperkirakan kerugian Rp100 miliar per hari akibat terganggunya aktivitas bisnis di Jakarta. Sementara kerugian yang dialami perusahaan ekspedisi akibat banjir ini diperkirakan mencapai Rp9 miliar per hari. Artinya, selama banjir kerugian bisa mencapai triliunan rupiah. Saatnya pemerintah segera mencari solusi konkret, bukan ramai-ramai membuat pencitraan jelang Pilpres mendatang.

Related posts