Dua Sisi Yogyakarta

Oleh: Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti di Litbang Kesehatan Kemenkes

Beberapa waktu lalu dalam tulisan tentang Yogyakarta saya membeberkan angka cakupan pelayanan imunisasi dasar, cakupan pemberian vitamin A, status gizi balita,pemeriksaan kehamilan, kelengkapan fasilitas kesehatan dan juga angka harapan hidup di “kota pelajar” itu adalah paling tinggi skornya di negeri ini. Membanggakan memang. Tetapi, jika dilihat dari penyakit kroni, fakta lain pun terkuak. Riset Kesehatan Dasar yang dilaksanakan tahun 2013 lalu menunjukan bahwa hampir kebanyakan angka penyakit tidak menular justru berada di atas angka nasional. Bahkan beberapa diantaranya menjadikan Yogya sebagai juaranya.

Contohnya kanker. Pada 2007, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menyebutkan prevalensi kanker di Yogya paling tinggi di Indonesia yaitu 9,6 per 1000 penduduk. Walaupun menurun di tahun 2013, yaitu berkisar 4 per 1000 penduduk, tetapi tetap saja yang tertingi di Indonesia. Tak ubahnya prevalensi diabetes melitus, hipertiroid, gagal jantung, gagal ginjal kronis, batu ginjal, stroke bercokol di atas angka nasional. Bahkan untuk penyakit jiwa mencapai 2.7 per 1000 penduduk dan gangguan mental emosional sekitar 8 persen.

Laporan profil kesehatan DIY tahun 2012 juga menunjukkan bahwa pada tahun 2009, lebih dari 80 persen kematian akibat penyakit yang ada di DIY (hospital based) dicetuskan oleh penyakit tidak menular. Adapun penyakit kardiovaskuler jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Jika dilihat selintas dari hasil Riskesdas 2013, mereka yang beraktifitas fisik, konsumsi sayur dan buah dan tidak merokok lebih besar dari rata-rata nasional. Seharusnya hal ini paling tidak bersifat protektif terhadap penyakit tidak menular.

Memperhatikan akses masyarakat Yogya terhadap sarana pelayanan kesehatan, di propinsi yang terdiri dari 1 kota dan 4 kabupaten ini, lebih dari 80 persen penduduknya tinggal berjarak 1-5 km terhadap puskesmas. Artinya upaya kuratif, promotif dan preventif terhadap penyakit tidak menular lebih memungkinkan dilakukan. Kecuali jika upaya tersebut mungkin belum atau tidak menjadi prioritas di Yogya.

Selain itu komposisi peduduk yang mengalami peningkatan pada usia 25 tahun ke atas dan juga lansia perlu diwaspadai. Pasalnya pada umur yang kian lanjut lah penyakit tidak menular mengintai. Walaupun peningkatan jumlah usia lanjut menunjukan semakin membaiknya kesehatan masyarakat. Umur harapan hidup merupakan representasi perbaikan kondisi ekonomi, pelayanan kesehatan, kualitas lingkungan dan sosio-kultural masyarakat.

Apa yang harus dilakukan? Dibutuhkan studi mendalam tentang karakteristik penduduk Yogya. Jika dilihat dari perilaku konsumsi, konsumsi makanan manis penduduk Yogya perhari >= 1 kali lebih besar dari angka nasional yang 69,2 persen. Konsumsi makanan berlemak 50,7 persen, dan konsumsi makanan berbumbu penyedap >=1 kali perhari. Kesemuanya lebih besar atau sama dengan rata-rata konsumsi pada tingkat nasional.

Selanjutnya dikembangkan indikator-indikator yang sensitif terhadap penyakit tidak menular. Misalnya indikator Perilaku Hidup Aktif dan Bugar (PHAB) yang memperhitungkan kebiasaan merokok, aktifitas fisik, gaya hidup sedentari, konsumsi buah dan sayur, konsumsi manis, konsumsi makanan berlemak dan makanan berbumbu penyedap. Selain faktor indvidu, sebaiknya juga memperhitungkan faktor lingkungan yang menyebabkan seseorang berisiko menderita penyakit tidak menular.

Related posts