Sentimen Negatif Rupiah Mengkhawatirkan Pasar

NERACA

Jakarta- Melemahnya nilai tukar rupiah atas mata uang dolar masih menjadi salah satu sentimen negatif utama yang dinilai akan berdampak pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Terlebih, dengan investor asing yang masih melakukan aksi jual, dan melemahnya saham-saham komoditas seiring penurunan harga kontrak komoditas. Tercatat, sepanjang perdagangan kemarin, IHSG berakhir di level 4175,81, dengan penurunan sebanyak 27 poin atau sebesar 0,64%.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, dengan kondisi yang ada, tidak heran laju IHSG variatif cenderung melemah pada perdagangan kemarin, meskipun sebelumnya sempat bergerak positif. Namun, maraknya aksi jual membuat IHSG akhirnya gagal bertahan di zona hijau. “Apalagi asing masih jualan dan laju rupiah masih menunjukkan pelemahan membuat kondisi pasar kurang kondusif.” katanya di Jakarta, Selasa (7/1).

Laju rupiah, sambung dia, masih tertekan dengan sentimen masih menguatnya nilai tukar ¥ seiring penilaian akan meningkatnya ekonomi Jepang dengan stimulus BoJ dan merespon melemahnya rilis data-data manufaktur AS yang sedikit mengalami perlambatan. Namun di sisi lain, rilis factory orders AS menunjukkan kenaikan sehingga sentimen ke US$ nya cukup variatif.

“Pelemahan rupiah juga terimbas sentimen dari akan dilakukannya tappering off stimulus The Fed di bulan ini dan rencana penerbitan obligasi US$ oleh Pemerintah senilai US$ 815 juta untuk tenor 10 tahun.” tuturnya.

Kupon yang ditawarkan dalam obligasi tersebut tercatat sebesar 6,2% dan 30 tahun dengan kupon 7,1% yang dinilai akan memberatkan pembayaran bunga nantinya. Laju rupiah pun berada di bawah target support Rp12248 dengan kurs tengah Bank Indonesia (BI) sebesar Rp12289-12227.

Selain itu, kata dia, adanya rilis negatif penurunan rating rekomendasi dari Goldman Sachs Group Inc. dan JP Morgan Chase & Co. terhadap negara-negara emerging markets memberikan sentimen negatif yang membuat hampir mayoritas bursa saham Asia terkoreksi. Begitupun dengan imbas perlambatan kegiatan industri di AS dan Eropa serta rilis turunnya ex-im Australia turut direspon negatif.

Meski demikian, laju HangSeng, Shanghai, dan sekitarnya dapat naik tipis terkait dengan langkah Pemerintah China yang melonggarkan aturan foreign direct investment sehingga emiten-emiten yang berkaitan dengan free-trade zone masih dapat mengalami reli.

Diperkirakan, pada perdagangan Rabu (8/1), IHSG akan berada pada support 4135-4158 dan resistance 4215-4224. Pola IHSG sendiri menyerupai three black crows di bawah middle bollinger bands (MBB). MACD masih downtrend dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih downreversal.

“IHSG meski turun namun, masih dapat bertahan di kisaran target support (4162-4190). Penurunan ini jelas membuka dan menawarkan level entry saham yang cukup menarik. Sehingga bila pelaku pasar berbalik arah maka IHSG dapat rebound meski terbatas, karena masih adanya sentimen negatif dari lemahnya rupiah.” paparnya.

Related posts