Negara Butuh Uang, UKM Dipajaki

Negara Butuh Uang, UKM Dipajaki

Jakarta - Pemerintah siap memberlakukan aturan penarikan pajak bagi sektor usaha kecil menengah (UKM) beromzet Rp 300 juta hingga Rp 4 miliar per tahun. Alasannya pemerintah terdesak membutuhkan dana untuk bangun infrastruktur. "Intinya, semua kebijakan itu harus meringankan rakyat kecil. Pajak ini dibutuhkan pemerintah untuk membangun sektor-sektor lain," kata Menteri Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan saat ditemui di kantor Presiden, Jakarta, Kamis (21/7/2011).

Namun kata Syarif Hasan, pihaknya meminta pengenaan pajak UKM ini jangan terlalu besar. Sehingga tak memberatkan rakyat kecil. dia tidak mau rencana pengenaan pajak bakal memberatkan UKM. “Sistem pajak yang dikenakan kepada UKM adalah pajak penghasilan (PPh) final sebesar maksimal 3%,” tambahnya.

Lebih jauh Syarif akan meminta masyarakat memahami kesulitan pemerintah. Karena itu jangan melihat sepotong-sepotong. "Tapi kita lihat nanti kajiannya bagaimana karena pemerintah butuh uang untuk membangun infrastruktur dan sebagainya. Kita harus lihat secara nasional, bukan hanya UKM saja," terangnya.

Yang penting, kata Syarif, pajak yang dipungut dari UKM, nantinya harus dikembalikan lagi ke UKM dalam bentuk yang lain. "Kita butuh pendapatan untuk membangun yang lain dan kembali juga ke UKM. Jadi jangan melihat secara parsial," paparnya.

Sebelumnya, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menilai pemerintah malas untuk menagih piutang pajak sebesar Rp 80 triliun. Hal itu juga menandakan pemerintah kurang tegas terhadap wajib pajak. Kondisi tersebut terjadi ketika Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan berada dalam pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Hal itu disampaikan Kordinator Advokasi dan Investigasi Fitra, Uchok Sky Khadafi, Rabu (20/7). Pada 2010, potensi kehilangan penerimaan negara sebesar Rp 80 Triliun. Rinciannya, Ditjen Pajak sebesar Rp 54 Triliun, Ditjen Bea dan Cukai sebesar Rp 16 Triliun, dan piutang migas sebesar Rp 4,2 Triliun. "Ini belum termasuk temuan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) atas piutang 35 perusahaan migas sebesar Rp 5,2 triliun," kata Uchok.

Kemudian, pada 2009, potensi penerimaan negara juga bisa hilang sebesar Rp 80 Triliun yang berasal dari Ditjen Pajak sebesar Rp 49 Triliun, Ditjen Bea dan Cukai sebesar Rp 13 Triliun, dan piutang migas sebesar Rp 16 Triliun.

Pada 2010, piutang pajak sebesar Rp 54.008.060.540.425 yang ada pada Ditjen Pajak itu akan ditemukan piutang yang telah kadaluwarsa penagihannya sebesar Rp 2.643.980.605.859. Dari piutang pajak yang telah kadaluwarsa tersebut, telah diusulkan penghapusan sebesar Rp 202.240.100.719 dan telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan sebesar Rp 45.802.510.018.

Uchok menilai penting amandemen UU Perpajakan. Selama ini, dalam UU Perpajakan, jangankan partisipasi masyarakat, BPK saja tidak boleh melakukan audit terhadap wajib pajak alias penerimaan negara. Jadi, yang mengetahui wajib pajak adalah Ditjen Pajak saja. **cahyo

BERITA TERKAIT

Ini Tanda Tubuh Kurang Tidur dan Butuh Istirahat

Tidur merupakan kebutuhan yang mesti dipenuhi untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Namun, sering kali orang-orang abai pada tanda-tanda tubuh yang…

Ini Syarat UKM Bisa Naik Kelas

Ini Syarat UKM Bisa Naik Kelas NERACA  Jakarta - Ketua Pengurus Yayasan Dharma Bhakti Astra, Henry C. Widjaja mengatakan sektor…

Rasio Uang Palsu Diklaim Turun

NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengklaim rasio peredaran uang rupiah palsu hingga pekan ketiga Ramadhan, Mei 2018, telah…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Urbanisasi Bikin Produktivitas Pertanian Menurun

  NERACA   Jakarta - Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan fenomena laju urbanisasi di Tanah Air mengakibatkan penurunan…

Bandara Soetta akan Bangun Terminal IV

    NERACA   Tangerang - Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, akan membangun terminal IV untuk menambah kapasitas penumpang. “Saya…

Masih Ada Perusahaan Yang Belum Bayar THR

      NERACA   Jakarta – Meski hari raya lebaran idul fitri telah usai, namun masih ada perusahaan yang…