BPS Akui Kemiskinan Meningkat

NERACA

Jakarta - Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2013 mencapai 28,55 juta orang atau 11,47%. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada Maret 2013 maka selama enam bulan tersebut terjadi peningkatan dengan jumlah penduduk miskin sebesar 0,48 juta orang. Berdasarkan daerah tempat tinggal pada periode tersebut jumlah penuduk miskin di perdesaan maupun perkotaan sama-sama mengalami peningkatan masing-masing meningkat sebesar 0,30 juta orang dan 0,18 juta orang.

“Faktor terkait peningkatan jumlah dan porsentase penduduk miskin selama periode tersebut, pertama terjadi inflasi yang cukup tinggi sebesar 5,02% yang disebabkan kenaikan harga BBM pada bulan Juni 2013. Kedua, secara nasional rata-rata harga beras sedikit mengalami peningkatan. Tercatat pada Maret 2013 rata-rata harga beras mencapai Rp10.748 per kilogram. Bahkan pada September 2013 terus meningkat jadi Rp10.969 per kilogram,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin di kantornya, Kamis (2/12).

Suryamin menjelasan, selama periode tersebut harga eceran beberapa komoditas bahan pokok juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Misalnya daging ayam ras naik sebesar 21,8%, telur ayam ras 8,2% dan cabai merah 15,1%. Kenaikan harga-harga ini dinilai sangat mempengaruhi daya beli penduduk miskin.

Lanjut, Suryamin juga melaporkan porsentase penduduk miskin menurut pulau pada September 2013 masih tersebar di luar pulau Jawa. Paling tunggi di pulau Maluku dan Papua yaitu sebesar 24,24%. Sementara porsentase penduduk miskin terendah berada di pulau Kalimantan yaitu sebesar 6,66%."Namun dari sisi jumlah sebagian besar penduduk miskin berada di pulau Jawa sebanyak 15,55 juta orang. Sementara jumlah penduduk miskin terendah berada di Pulau Kalimantan sebanyak 0,98 juta orang."

Untuk itu Suryamin menegaskan pada periode tersebut, indeks kedalaman kemiskinan akhirnya mengalami peningkatan dari 1,75 menjadi 1,89. Begitu juga dengan indeks keparahan kemiskinan naik dari 0,43 menjadi 0,48 pada periode yang sama. Peningkatan nilai kedua indeks ini mengindikasikan rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin jauh masuk kedalam garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin melebar.

“Maka perlu diketahui, persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan porsentase penduduk miskin. Ada dimensi lain yang perlu diperhatikan yaitu tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Karena selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan,” tutur Suryamin.

Lebih jauh Suryamin menjelaskan, perbandingkan antara daerah perkotaan dan perdesaan, nilai indeks kedalaman kemsikinan dan indeks kedaparahan kemiskinan di daerah perdesaan lebih tinggi dari pada di perkotaan. Pasalnya pada September 2013 nilai indeks kedalaman kemiskinan untuk perkotaan sebesar 1,41 sedangkan di daerah perdesaan jauh lebih tinggi hingga 2,37. Nilai indeks kepararahan kemiskinan untuk perkotaan hanya 0,37 sementara di daerah perdesaan sebesar 0,60. “Juga perlun diketahui tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Agustus 2013 sudah mencapai 6,25% Angka ini menunjukan adanya peningkatan Februari 2013 sebesar 5,92% dan Agustus 2012 sebesar 6,14%,” tukas Suryamin. [lulus]

Related posts