Pemerintah Akan Melakukan Penghematan BBM - Tahun Depan

NERACA

Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk memperkirakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada 2014 juga akan mengalami pengetatan. Pasalnya, konsumsi BBM yang selama ini diraih melalui impor membuat rupiah terus tertekan. Jika memang hal itu terjadi, maka Pemerintah dapat melakukan penghematan sebesar Rp4 miliar.

“Penetapan subsidi pada skema bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jauh lebih hemat ketimbang melalui skema kenaikan harga pada tahun 2014. Perbandingannya bahkan ada selisih penghematan sekitar Rp4 triliun diantara kedua skema tersebut," kata Kepala Ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti di Jakarta, Jumat (20/12) pekan lalu.

Dia mengungkapkan, skema kenaikan harga pada subsidi BBM selalu mengalami kendala terkait depresiasi nilai tukar rupiah. Artinya, pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS akan menggelembungkan anggaran subsidi BBM dalam postur APBN. "Akhirnya defisit anggaran dari target 2,2% terhadap PDB menjadi 2,4%-2,5% karena depresiasi nilai tukar rupiah yang sudah mencapai 26," jelasnya.

Destry menghitung, target konsumsi BBM akan tumbuh sebannyak 7% atau jadi 51,4 juta kiloliter (kl) pada 2014. Sedangkan volume BBM subsidi tahun ini diperkirakan 48 juta kl. Harga keekonomian BBM dunia sudah naik 10% dari saat ini Rp10.500 per liter. Sedangkan harga BBM subsidi di pasar Rp6.500 per liter.

"Dengan selisih harga Rp4.000 per liter dikalikan dengan hasil pengurangan konsumsi BBM subsidi, maka didapatkan tambahan beban subsidi tahun depan sebesar Rp 13,6 triliun," ujarnya.

Sementara jika melalui skema kenaikan harga misalnya 5% dari harga keekonomian menjadi Rp11.550 dan konsumsi naik menjadi 51,4 juta kl. Maka perhitungan mengarah pada membengkaknya anggaran subsidi mencapai Rp 17,2 triliun di tahun depan. "Ada selisih Rp4,4 triliun yang bisa dihemat pemerintah jika menggunakan skema subsidi tetap. Penghematan itu bisa untuk membangun double track (jalur ganda) Jakarta-Surabaya," kata Destry.

Dsestry mengungkapkan kelebihan skema subsidi tetap adalah pemerintah dapat dengan mudah menganggarkan besaran subsidi di tahun-tahun berikutnya dengan asumsi jumlah konsumsi BBM."Tapi juga ada kekurangannya yakni masih dipengaruhi fluktuasi harga BBM bersubsidi yang membuat inflasi lebih sulit diprediksi," tukas dia.

Akhirnya Destri memperkirakan konversi BBM akan mulai terasa pada pertengahan tahun 2014. Dengan kebijakan pemerintah pada Agustus 2013 kemarin mengenai penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) akan dimlaui. Pasalnya penggunaan BBN dianggap sebagai solusi mensubstitusi BBM.

“Mandatori tersebut upaya mengurangi impor BBM yang membuat current acount defisit semakin lebar. Dengan penggunaan BBN impor solar akan sedikit berkurang. Sebab kendaraan yang menggunakan solar diwajibkan menggunakan BBN 10% ke solarnya,” tutur Destry.

Selain itu untuk menekan impor menurut Destry pada tahun depan sudah ada perlambatan kredit. Bank Indonesia sudah mengeluarkan kebijakan pengetatan kredit perbankan. Hal ini untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan.

"Pertumbuhan kredit akan melambat kisaran 15-17%. Tanpa itu kita hati -hati karena loan deposit rasio mencapai (LDR) 90% sebagian besar bank di atas 100%. Bunga depositit naik tinggi, Nett Interes Margin (NIM) akan mengalami penurunan," tandasnya. [lulus]

Related posts