Hadapi MEA 2015, Kesiapan SDM Perikanan Akan Ditingkatkan

NERACA

Jakarta - Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC) 2015 tinggal menghitung hari. Namun, kesiapan Indonesia dalam menghadapi era keterbukaan di ASEAN tersebut belum sempurna. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Suseno Sukoyono mengatakan tingkat kesiapan SDM di sektor perikanan baru mencapai 30%.

“Kesiapan SDM baru 30%, tapi SDM di tingkat aparatur negara telah mencapai 75%. Artinya masyarakat itukan perlu bantuan dari aparatur makanya nanti diharapkan terus meningkat kesiapannya,” kata Suseno kepada Neraca, usai acara Final Lomba Kolompencapir Gempita di Jakarta, Kamis (19/12).

Namun demikian, ia merasa tidak khawatir akan datangnya masyarakat-masyarakat asing yang masuk ke sektor perikanan. Pasalnya pihaknya sudah menyiapkan sertifikasi yang harus didapatkan sebelum menjadi pekerja di sektor perikanan. “Kami sudah menyiapkan sertifikasi. Jadi dengan sertifikasi tersebut, orang asing yang mau masuk ke Indonesia dan ingin menjadi nelayan maka harus mendapatkan sertifikasi dahulu,” katanya.

Menurut dia, sertifikasi tersebut akan bisa didapatkan di balai-balai pelatihan perikanan yang ada di seluruh Indonesia. Sertifikasi tersebut juga bekerjasama dengan Kementerian Pekerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sejauh ini, pihaknya mengaku sudah banyak SDM yang terlibat di sektor perikanan telah mendapatkan sertifikat tersebut. “Sudah banyak, yang ada itu di provinsi-provinsi utama seperti di Belawan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Tegal, Banyuwangi, Indonesia Timur sampai dengan NTT sudah dilakukan sertifikasi,” imbuhnya.

Ditemui di tempat yang sama, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Firman Subagyo merasa prihatin jika kesiapan dalam menghadapi MEA masih minim. Seharusnya, lanjut Firman, pemerintah memberikan fokus utama terhadap potensi-potensi yang ada di laut Indonesia. “Potensi-potensinya besar sekali, mulai dari wisata bahari, minyak bumi di laut lepas, dan perikanan yang beraneka ragam. Sayangnya masih ada ilegal fishing. Pemerintah harus lebih peduli terhadap kebutuhan perikanan menjelang MEA,” tuturnya.

Firman mengatakan dalam menghadapi MEA 2015, maka pemerintah diminta untuk memperbanyak riset and development. Karena dengan riset and development tersebut maka bisa memetakan kekuatan dan potensi yang ada untuk bisa dieksploitasi. “Jika riset and development diperkuat maka akan ada temuan-temuan baru yang bisa dimanfaatkan sehingga nantinya akan berdampak positif bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat pesisir dan nelayan,” ujarnya.

Penyuluh Perikanan

Tenaga penyuluh perikanan yang jumlahnya cukup terbatas akan mendapatkan tugas tambahan dari pemerintah. Awalnya penyuluh perikanan hanya berperan untuk menjadikan kelompok-kelompok ataupun individu sebagai entrepreneur di sektor perikanan, kini para penyuluh baik swasta, sukarela dan pegawai negeri diminta untuk meningkatkan kampanye mengkonsumsi ikan. Hal tersebut seperti diungkapkan Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sjarief Widjaja.

“Ada persoalan antara suplai dan demand. Tugas KKP dari sisi hulu yaitu menjamin produksi yang berkualitas tinggi dan yang produksi (nelayan) juga sejahtera. Sementara di sisi demand, yaitu meningkatkan konsumsi sumber daya laut. Ini juga menjadi tugas dari para penyuluh perikanan yang tidak hanya mencetak para pengusaha mandiri namun juga bisa mengkampanyekan gemar makan ikan sehingga bisa meningkatkan konsumsi ikan,” katanya.

Saat ini, tingkat konsumsi ikan nasional mencapai 33 kg/ kapita/ tahun. Tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih tergolong rendah dibanding dengan negara lain. Misalnya, di Negara Malaysia sudah mencapai 45 kg perkapita dan Jepang sendiri sudah sekitar 60 kg perkapita pertahun.

Padahal, ikan merupakan bahan makanan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Khususnya bagi pertumbuhan otak karena ikan mempunyai kandungan omega 3 yang cukup tinggi, sehingga ikan dibutuhkan oleh anak-anak sampai usia 6 tahun. Disamping itu ikan juga dapat menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol. Tulang ikan juga bermanfaat bagi pertumbuhan tulang, karena mengandung kalsium yang cukup tinggi.

Sjarief mengatakan varian menu dari produk ikan sangat banyak macamnya. Seperti contoh, beberapa waktu lalu KKP telah memecahkan rekor dunia lantaran dapat membuat 250 varian menu dari bahan dasar udang. “Kalau variasi masakan bisa dikembangkan lebih luas, maka pilihan jadi semakin banyak sehingga hasilnya adalah meningkatkan pemasukan dan nantinya bisa menciptakan lapangan tenaga kerja baru dengan menyediakan berbagai macam jenis makanan olahan dari bahan dasar ikan,” imbuhnya.

BERITA TERKAIT

WALAU HADAPI HAMBATAN EKSTERNAL KUAT - IMF Nilai Kinerja Ekonomi RI Baik

Jakarta-Tim Dana Moneter Internasional (IMF) menilai perekonomian Indonesia 2018 menunjukkan kinerja yang baik, meski menghadapi hambatan eksternal yang kuat. Prospeknya…

BNI Pastikan Kesiapan Uang Tunai saat Ramadan dan Lebaran

      NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memastikan kesiapan uang tunai pada Ramadhan dan…

Siapkan SDM, Adira Jalin Kerjasama dengan UPH

    NERACA   Jakarta - Adira Insurance menjalin kerja sama dengan Universitas Pelita Harapan (UPH) yang ditandai dengan Penandatangan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

RI Akan Terus Negosiasi UE Hadapi Sentimen Negatif Sawit

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) akan terus akan terus melakukan negosiasi untuk menghadapi sentimen negatif Uni Eropa (UE) terhadap…

Defisit Neraca Dagang - Pemerintah Dinilai Perlu Hati-Hati Sikapi Pengendalian Impor

NERACA Jakarta – Defisit neraca dagang Indonesia pada April 2019 merupakan yang tertinggi sejak April 2013, dimana angka defisit mencapai…

Udang Jadi Primadona Komoditas Ekspor dari Indonesia

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan (Susi Pudjiastuti) di awal menjabat, menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, telah…