Ekonomi RI-Jepang

Oleh : Prof. Firmanzah PhD

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Dengan semakin menguat dan berdaya tahan ekonomi Indonesia dalam 8-9 tahun terakhir membuat kemitraan strategis di bidang ekonomi dengan Jepang menjadi semakin penting. Selama ini, Jepang menjadi mitra penting bagi Indonesia baik dalam bidang perdagangan, investasi maupun penguatan di bidang moneter.

Penguatan kerjasama ekonomi RI-Jepang dilakukan kembali di sela-sela kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menghadiri KTT Peringatan 40 Tahun kerjasama ASEAN-Jepang di Tokyo. Pada Jumat (13/12)Presiden SBY melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe untuk membahas peningkatan kerjasana bidang ekonomi antara RI dan Jepang.

Selama ini, di bidang perdagangan, terdapat trend positif dimana terdapat pertumbuhan rata-rata sebesar 11% dalam lima tahun terakhir. Total nilai perdagangan RI-Jepang pada 2012 mencapai US$52,9 miliar. Indonesia mengekspor US$30,13 miliar dan mengimpor US$22,76 miliar dari Jepang. Dalam pertemuan bilateral dibahas berbagai upaya antara kedua negara untuk terus meningkatkan perdagangan termasuk membahas sejumlah hambatan yang perlu diselesaikan.

Selain perdagangan, investasi Jepang ke Indonesia juga memainkan peranan yang sangat penting. Menurut data BKPM, pada kuartal III-2013, realisasi investasi Jepang menempati peringkat pertama di Indonesia dan mencapai 3,6 miliar dolar AS atau 17,2 persen dari total PMA. Menurut survei yang dilakukan oleh Japan bank for International Cooperation (JBIC) kepada 500 perusahaan multinasional Jepang, Indonesia menempati peringkat pertama negara tujuan investasi Jepang dan menggeser China. Sebesar 44,9% responden menyatakan Indonesia sebagai negara yang sangat menarik dimana pertumbuhan kelas menengah di Indonesia menjadi salah satu faktor pendorong utama.

Tidak hanya dari aspek perdagangan dan investasi, dari sisi moneter kerjasama ekonomi antara RI-Jepang juga semakin baik. Hal ini tercermin dengan disepakatinya peningkatan kerjasama Bilateral Swap Arrangements (BSA) antara Bank Indonesia dan Bank of Japan dari semula US$12 miliar menjadi US$22,76 miliar. Kerjasama ini akan memperkuat dukungan likuiditas untuk menjaga stabilitas moneter serta mencegah terjadinya krisis. Dengan masih tidak menentunya stabilitas pasar keuangan dunia pada 2014, Indonesia akan terus memperkuat cadangan potensial dan aktual untuk menjamin ketersediaan likuiditas kebutuhan nasional.

Selama kunjungan di Tokyo, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga melakukan pertemuan dengan sejumlah pimpinan usaha di Jepang untuk mengajak terlibat dalam pembangunan infrastruktur, ketenagalistrikan, ritel, industri keuangan dan manufaktur di Indonesia. Sejumlah pimpimpian usaha menyambut baik tawaran kerjasana dan berkomitmen untuk terus melakukan investasi di Indonesia. Kita optimis bahwa kemitraan strategis antara RI-Jepang di bidang ekonomi akan lebih lagi membawa kemakmuran bagi masyarakat kedua di kedua belah negara di masa mendatang.

Related posts