Membaca Risiko Non Sistemik - Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Stanley Fischer yang juga guru dari Ben Bernanke mengingatkan kita akan pentingnya risiko non sistemik. Radar mengenai risiko lebih banyak terfokuskan kepada radar risiko sistemik dan cenderung melupakan radar risiko non sistemik. Termasuk dalam konteks bank sentral Amerika Serikat ketika menghentikan program cetak uangnya. Hal ini wajar karena dampak biaya dari risiko sistemik memang lebih besar ketimbang risiko non sistemik.

Yang menjadi masalah adalah adanya probabilitas bahwa risiko non sistemik dapat berkembang menjadi risiko sistemik. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam membaca kecenderungan ini adalah faktor budaya dan teknologi yang selama ini justru diabaikan.

Lihatlah bagaimana bank seperti UBS dan JP Morgan mengalami kerugian sementara bank lainnya tidak. Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pengawasan bank yang dilakukan, faktor ini dapat berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong proses pengawasan bank, tetapi dapat juga menjadi penghambat pengawasan bank.

Budaya yang dapat mendorong pengawasan bank diantaranya sikap kerja keras dan kerja cerdas, jujur, ulet dan sebagainya. Adapun budaya yang dapat menghambat proses pengawasan bank diantaranya sikap anarkis, egois, boros, KKN, dan sebagainya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat mendorong adanya percepatan proses pengawasan bank, pergantian pola kerja yang semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh mesin-mesin canggih berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas serangkaian aktivitas pengawasan bank yang dilakukan dan pada akhirnya berakibat pada percepatan laju pertumbuhan perekonomian.

Belajar dari Swedia, kedua aspek ini menjadi sangat penting khususnya setelah terjadi risiko sistemik di dunia perbankan mereka dimana setelah itu risiko non sistemik secara relatif menghilang dari perekonomian Swedia. Krisis Swedia di awal 1990-an dihasilkan dari gelombang besar di sektor real estate, spekulatif dan utang konsumen.

Gelembung perumahan, dipicu oleh kredit murah, yang runtuh pada tahun 1990, dengan harga perumahan real estate turun sebesar 25% dalam arti riil pada 1995 dan kredit bermasalah mencapai 11% pada 1993. Pada 1991, modal dua bank terbesar Swedia, Första Sparbanken dan Nordbanken, jatuh di bawah level yang diperlukan di tengah tingkat default pinjaman yang meningkat.

Kerugian pinjaman agregat dari tujuh bank terbesar, nilainya setara dengan 12% dari PDB tahunan Swedia. Saldo kredit bermasalah telah melebihi total modal ekuitas sektor perbankan, yang secara efektif telah mengakibatkan seluruh sistem keuangan menjadi insolven.

Untuk menghindari krisis sistem perbankan, pemerintah Swedia melakukan tiga program sekaligus: (1) rekapitalisasi bank, (2) pendirian bank aggregator untuk membeli aset-aset buruk, dan (3) nasionalisasi bank. Program ini dilaksanakan dengan menggunakan empat prinsip panduan: Transparansi; Penerimaan yang independen secara politik dan mandiri; Pemeliharaan disiplin pasar; dan Pemulihan aliran kredit . Keempat prinsip ini juga terbukti sukses dalam memantau dan menghalau risiko non sistemik perbankan di dalam perekonomian Swedia.

Pada akhir 1992-an, pemerintah Swedia menjamin seluruh kreditur bank (tetapi bukan pemegang saham), tanpa batas atas. Sebagai bentuk dukungan pemerintah, auditor pemerintah mengkaji neraca dari semua bank yang terlibat, dengan tujuan untuk mengambil tindakan yang segera dan menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Pemerintah menjamin seluruh liabilitas Nordbanken dan menasionalisasikannya, sementara mengatur jaminan bagi Första Sparbanken. Ketika bank ketiga terbesar, Göta, harus segera diambil alih setelah itu, pemerintah memutuskan untuk memisahkan dan mengkarantina aset yang buruk dari tiga lembaga.

Hal ini dilakukan dengan melakukan merger Göta ke Nordbanken, yang dimiliki hanya aset "baik", dan aset "buruk" dipindahkan ke dua entitas baru, Securum dan Retriva. Entitas ini dikapitalisasi oleh pemerintah dan membeli 21% aset Nordbanken dan 45% aset Göta. Dengan langkah mengatasi risiko sistemik ini maka perbankan Swedia juga terhindar dari risiko non sistemik karena tidak terjadi proses penciptaan bank zombie yang bersifat menahun (evergreen) yang tinggal menunggu waktunya untuk kembali kolaps satu persatu.

Pada proses itu, dimana bank yang kekurangan modal memilih untuk tidak mengungkapkan kredit bermasalah karena melakukan hal itu akan memaksa aset write-downs, yang mungkin mendorong kepailitan teknis, adalah apa yang telah menjadi dikenal sebagai "evergreening."

Evergreening menegaskan hasil biasa persaingan pasar bebas karena zombie dapat terus melanjutkan operasi, bukannya dipaksa untuk tutup atau mengurangi tenaga kerja dan kehilangan pangsa pasar. Sebagai respon terhadap awal krisis, pemerintah Jepang juga memulai program ad hoc untuk merekapitalisasi bank. Sayangnya, bank-bank tidak direkapitalisasi untuk titik di mana tidak ada lagi insentif untuk melakukan kredit macet "evergreen".

Keberadaan bank zombie juga merusak pasar dengan mengurangi output dan dengan demikian menurunkan laba bank sehat yang kemudian mematahkan semangat untuk berinvestasi dalam produk-produk baru dan masuk ke dalam pasar baru. Tanpa pemulihan arus kredit, bank solven tidak mampu mendapatkan peluang pinjaman. Dalam konteks ini, upaya untuk merangsang ekonomi melalui program belanja pemerintah yang diredam adalah yang terbaik, dan sebaliknya, sama sekali tidak efektif.

Karena itu diperlukan sistem pengawasan terpadu dan melekat untuk membaca risiko non sistemik seperti yang telah dilakukan oleh Swedia. Sebuah struktur peraturan yang mungkin berguna dalam menangani risiko yang timbul oleh pengalaman Swedia dan sementara juga mematuhi prinsip panduan dalam menghindari krisis keuangan, adalah Pendekatan Terpadu. Struktur peraturan terpadu umumnya memiliki fokus yang satu pada peraturan dan pengawasan dengan menggambarkan yurisdiksi peraturan di bawah entitas tunggal yang bertanggungjawab untuk semua sektor industri keuangan.

Mudah-mudahan Otoritas Jasa Keuangan mampu melaksanakan prinsip-prinsip yang telah dilakukan oleh Swedia dalam membaca risiko non sistemik dan juga selalu mengingat petuah dari Stanley Fischer akan pentingnya kebijakan untuk memantau risiko non sistemik.

Related posts