Menyoal Tabrakan Lalu Lintas - Oleh : Kapler Marpaung, Ketua Dewan Pendiri Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (Kupasi)

Peristiwa kecelakaan lalu lintas termasuk tabrakan maut seakan-akan tidak henti-hentinya terjadi di belahan bumi ini, termasuk di Indonesia. Banyak kasus tabrakan maut di Indonesia yang menelan korban jiwa dan menimbulkan kerugian harta benda. Terakhir adalah Tragedi Bintaro 2 tabrakan antara Kereta Rel Listrik (KRL) dengan Truk Tangki pada tanggal 9 Desember 2013 yang menelan korban meninggal dunia 6 orang dan luka badan sekitar 67 orang.

Yang mau di persoalkan dalam tulisan ini adalah bukan dampak dari tabrakan maut, akan tetapi apa sebenarnya penyebab terjadinya berbagai tabrakan maut di Indonesia. Dari sekian banyak peristiwa tabrakan maut, dinilai penyebabnya adalah karena kelalaian dan kecerobohan (human error and impropriety act). Kecerobohan dan kelalaian itu datang dari semua pihak, ya dari pengguna jalan raya maupun pengawas lalu lintas, dan juga prasarana rambu-rambu lalu lintas yang dinilai belum memenuhi tuntutan zaman. Manusia kelihatannya menjadi suka lalai dan ceroboh, seakan-akan kita sudah tidak lagi memikirkan apa risiko yang timbul atas sikap tersebut.

Kalau human error dan impropriety act sudah begitu melekat pada diri banyak orang, maka yang menjadi menarik bukan lagi penyebab kecelakaan maut karena disebabkan oleh faktor tersebut, akan tetapi menjadi menarik adalah “mengapa manusia menjadi cenderung mudah lalai dan ceroboh?” Kelalaian dan kecerobohan manusia tentu tidak terlepas dari situasi dan lingkungan dimana kita manusia hidup. Situasi politik, ekonomi, budaya, pertanahan dan keamanan serta jalannya pemerintahan di Indonesia tentu akan sangat banyak mempengaruhi sikap dan prilaku manusia.

Tingginya tingkat persaingan untuk mendapatkan uang untuk biaya hidup, orang cenderung ingin melakukan sesuatu dengan cepat dan terburu-buru dan mengindahkan aturan peraturan, pada akhirnya budaya sabar manjadi terlupakan. Kebersamaan untuk menjaga keselamatan menjadi hilang karena kecenderungan manusia sekarang ini banyak hidup individualistis. Masyarakat menjadi sulit untuk diajak menjaga ketertiban bersama karena mungkin masyarakat melihat banyak orang dan kelompok asyik dengan kehidupan masing-masing.

Kelalaian dan kecerobohan itu juga muncul karena masyarakat mungkin sudah hidup dalam banyak hayalan. Manusia menghayalkan kehidupan dan masa depannya dan keluarganya, menghayalkan tekanan akan pekerjaannya, menghayalkan banyak masalah yang terjadi di negara ini dan lain sebagainya.

Tidak ada kata terlambat untuk menurunkan tingginya tingkat kelalaian dan kecerobohan. Pemerintah tidak cukup hanya mengajak masyarakat pengguna jalan raya untuk hati-hati dan sabar, akan tetapi harus dilakukan dengan hal-hal yang konkrit. Elit (eksekutif dan legislatif), pengusaha dan profesional harus memberikan contoh hidup yang disiplin, tidak suka lalai dan ceroboh. Pemerintah harus memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat, harus membanguan kehidupan bernegara ke arah yang semakin lebih baik, segera memperlengkapi sarana dan prasarana rambu-rambu lalu lintas yang memadai dan berdaya guna.

Related posts