Rupiah Jadi Tersandera

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS kini cenderung terus melemah di pasaran, sementara Bank Indonesia (BI) tetap masih optimis berada pada level yang aman dan sedang mencari titik ekuilibrium terbaiknya. Namun faktanya secara year to date, kurs rupiah terhadap US$ sudah terdepresiasi sekitar 22%. Ini mencerminkan rupiah dalam deretan mata uang yang mengalami pelemahan paling buruk di antara negara lain di kawasan Asia.

Padahal di awal Januari 2013, rupiah masih perkasa di level Rp 9.638, tak jauh dari asumsi APBN-P sebesar Rp 9.600 per US$. Tapi sekarang mata uang Garuda itu terombang-ambing di level Rp 11.800 bahkan sempat tembus ke Rp 12.000 per US$.

Selain masalah defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan, anjloknya nilai rupiah juga akibat makin kuatnya sinyal bahwa The Fed akan melakukan pengurangan stimulus moneter (tapering off), mengingat tingkat pengangguran di Amerika Serikat tampak mengalami penurunan hingga mencapai level paling rendah dalam lima tahun belakangan di level 7%.

Artinya, dengan tingkat pengangguran 7% itu merupakan ambang untuk penentuan pengurangan stimulus moneter, sehingga tampaknya The Fed makin yakin untuk melakukan pengurangan stimulus yang kemungkinan besar mulai dilakukan per Januari 2014.

Makin melemahnya nilai tukar rupiah tentu mengundang keprihatinan kita semua. Kepercayaan terhadap rupiah cenderung terus merosot yang berpotensi melemahkan sendi-sendi perekonomian nasional. Apalagi tingginya ketergantungan kita terhadap produk impor dari impor bahan baku, barang modal, hingga produk jadi, pada akhirnya membuat perekonomian Indonesia rawan dihajar inflasi akibat pengaruh imported inflation.

Kita lihat saat ini, di mana kinerja ekspor sedang menurun akibat perlambatan ekonomi negara-negara maju, pelemahan rupiah yang seharusnya menguntungkan eksportir ternyata tidak. Apalagi bagi para eksportir yang menggunakan bahan baku impor. Bagi industri yang mengandalkan pasar domestik, lebih-lebih yang bahan bakunya impor, depresiasi rupiah yang semakin dalam malah tidak menguntungkan buat mereka.

Yang paling mengerikan, depresiasi rupiah yang terlalu dalam akan membuat hancurnya kepercayaan masyarakat. Padahal, rupiah seharusnya primadona perekonomian negeri ini. Jika primadona itu runtuh, maka kepercayaan terhadap pilar ekonomi bangsa ini akan turut loyo yang pada gilirannya akan meruntuhkan perekonomian nasional.

Rupiah memang lagi diuji dari internal dan eksternal. Sdah terbukti krisis ekonomi global telah menggerus konsumsi negara-negara maju, sehingga kinerja ekspor nasional menurun. Padahal, sejalan dengan tetap pesatnya pertumbuhan ekonomi nasional, impor masih tinggi, dari produk jadi, bahan baku, barang modal, hingga minyak mentah dan BBM. Akibatnya, transaksi berjalan (current account), baik dari sisi neraca jasa maupun perdagangan, mengalami defisit. Alhasil, minim pasokan US$, sehingga mata uang AS itu menjadi mahal.

Tidak hanya itu. Rupiah juga diuji oleh isu rencana pengurangan (tapering off) stimulus moneter oleh bank sentral AS, The Fed. Ini merupakan indikasi mulai pulihnya ekonomi AS, yang secara langsung akan mendorong para pengelola hedge fund global menarik secara masif dana-dananya dari emerging market, termasuk Indonesia, kemudian mengalihkannya ke AS. Akibatnya, dolar akan semakin langka di pasar domestik.

Related posts